BOOTS Netflix drama militer 90-an yang bikin kamu ikut masuk ke dunia serba ketat U.S. Marine Corps, di masa ketika jadi gay bukan cuma tabu—tapi berbahaya.
Dari sini kita mulai menelusuri bagaimana para pemeran di Boots menghidupkan kisah yang raw dan emosional ini. Oiya, maksud “belok kiri” pada judul merujuk pada keadaan orientasi seksual 4 karakter ini yah!
Bukan bermaksud closed minded, tapi beberapa pembaca mungkin kurang nyaman. Okay, lanjut bahas karakter mereka di bawah!
Table of Contents
1. Cameron Cope – Rekrut Muda yang Menyimpan Rahasia

Pertama-tama, kita mulai dari pemeran di Boots yang paling banyak memikul beban cerita. Siapa lagi kalau bukan si Cameron Cameran itu.
Siapa Cameron?
Cameron Cope, diperankan Miles Heizer, adalah remaja yang nekat mendaftar ke Marine Corps untuk mencari arah hidup.
Di layar, ia digambarkan sebagai gay dan closeted, terpaksa menyembunyikan identitas dirinya karena pada era itu, orientasi seksual dianggap kriminal di militer.
Dilema Cameron di Boot Camp
Cameron membawa keberanian masuk ke dunia yang keras, namun harus membungkam bagian paling penting dalam hidupnya.
Saat ia bertumbuh, ketakutan “ketahuan” terus menghantui. Ironisnya, tempat yang membuatnya kuat juga menuntutnya menyangkal diri.
Di tengah tekanan itu, Cameron mulai membangun hubungan emosional yang rumit dengan orang yang tak pernah ia sangka: sang instruktur sendiri.
2. Sergeant Sullivan – Sosok Tangguh dengan Luka yang Disembunyikan

Pemeran di Boots (Si Sergeant yang disiplin) ini membuka pintu ke sisi gelap kehidupan Marine yang jarang diangkat. Dia keliatannya tangguh banget kan? Tapi, nyatanya dia punya sisi rapuh yang selalu ia sembunyikan.
Latar dan Kedalaman Karakter
Diperankan Max Parker, Sgt. Liam Robert Sullivan adalah ikon prajurit ideal: disiplin, tegas, dihormati.
Namun di balik seragam dan tatapan tajamnya, ia adalah gay dan juga closeted, membawa rahasia yang bisa mengakhiri kariernya sewaktu-waktu.
Cermin Bagi Cameron
Sullivan memandang Cameron seperti melihat versi mudanya sendiri—penuh ketakutan, tetapi masih menyimpan harapan.
Tanpa berniat, ia akhirnya menjadi mentor personal bagi Cameron, mengajarinya bertahan dari perang paling senyap: perang melawan diri sendiri.
Relasi keduanya berkembang perlahan, mengungkap luka lama dan kerinduan yang tak bisa mereka tunjukkan di depan siapa pun.
3. Jones – Angin Segar dari Generasi Baru

Nah, sekarang kita geser ke pemeran di Boots yang memberi warna baru pada dinamika BOOTS, LemoList.
Kehadiran Jones
Masuk di tiga episode terakhir, Jones, diperankan Jack Cameron Kay, hadir sebagai rekrut yang lebih terbuka secara queer dibanding generasi sebelumnya. Sikapnya yang lugas membuatnya beda dari para senior yang terbiasa hidup dalam diam.
Perannya Bagi Cameron
Jones menjadi teman ngobrol di barak—dan akhirnya bunkmate—yang membuat Cameron merasa aman untuk berbagi identitasnya. Hubungan mereka memberi ruang kecil untuk bernapas di tengah lingkungan yang keras dan penuh aturan.
4. Major Wilkinson – Cinta yang Berjalan Dalam Senyap

LemoList, sebelum masuk ke dinamika besarnya, kita kenali dulu sosok pemeran di Boots yang memengaruhi Sullivan.
Hubungan Tersembunyi
Diperankan Sachin Bhatt, Major Wilkinson hadir sebagai sosok yang diduga menjadi cinta rahasia Sullivan.
Ia tidak banyak muncul, namun perannya menunjukkan betapa rapuh dan berbahayanya hubungan sesama pria di militer era itu.
Makna Lebih Dalam dari Cerita Para Pemeran di Boots Netflix
Sebelum kita menutup analisis pemeran di Boots menurut sudut pandang Lemo Blue, yuk rangkum perjalanan emosional yang dibangun di series ini, LemoList.
Lewat kisah Cameron, Sullivan, Jones, dan Wilkinson—serta para pemeran yang menghadirkan mereka hidup—kita melihat bagaimana identitas harus disembunyikan demi bertahan.
Serial ini memotret beban psikologis dari kebijakan yang mengekang, serta konflik batin yang terus menekan mereka yang ingin jujur tentang diri sendiri.
Di balik teriakan instruktur, latihan brutal, dan barak yang dingin, serial ini mengajak kita memahami apa arti keberanian.
Serial Boots Netflix menggambarkan dengan jelas bahwa siapa pun layak mendapat ruang dalam definisi “orang Amerika,” tanpa harus memotong bagian identitas mereka.

