sinopsis film Sukma

Sukma (2025): Takut Tua, Takut Mati, Takut Dilupain!

Kalau rumah baru biasanya identik sama “awal yang segar”, di Sukma justru sebaliknya—awal pindah malah jadi pintu masuk ke mimpi buruk yang nggak ada tombol bangunnya.

Film horor psikologis arahan Baim Wong ini pelan-pelan nyeret kita ke teror yang nggak cuma soal hantu atau jumpscare, tapi obsesi manusia buat tetap muda selamanya. 

Lewat ritual mistis bernama “ngalih raga”, sinopsis film Sukma tentang sisi paling gelap dari keinginan hidup abadi—ketika tubuh orang lain jadi tumbal, dan identitas bisa dicuri kapan aja. 

Dibintangi Luna Maya, Christine Hakim, sampai Oka Antara, film yang tayang di Netflix ini berdurasi 1 jam 48 menit ini bukan cuma bikin merinding, tapi juga bikin kepala penuh tanda tanya: mana yang nyata, mana yang cuma ilusi?

Penjelasan Ending Sukma: Ritual “Ngalih Raga” dan Harga Mahal Keabadian

Penjelasan Ending Sukma

Masuk babak akhir, ending film Sukma nggak lagi main samar-samar. Terornya full throttle—emosional, brutal, dan bikin dada sesak. 

Semua misteri soal cermin kuno akhirnya kebuka satu per satu, dan kita sadar: ini bukan sekadar benda berhantu, tapi alat ritual pemindahan jiwa yang udah dipakai turun-temurun.

Obsesi Ibu Sri: Cantik Selamanya, Apa Pun Taruhannya

Plot twist paling dingin datang dari sosok Ibu Sri Sukma Wiranegara (Christine Hakim). Dari luar dia kelihatan elegan, kalem, almost nenek-nenek bangsawan vibes. Tapi di balik itu? Dia hidup dari tubuh orang lain.

Motivasinya simpel tapi menyeramkan: takut tua, takut mati, takut dilupakan. Buat Ibu Sri, penuaan itu kutukan. Jadi lewat ritual “ngalih raga”, dia menukar jiwanya yang renta ke tubuh perempuan muda—kayak ganti baju, tapi versi supernatural dan berdarah-darah.

Cermin tua di kamar tersembunyi itulah “gerbangnya”. Ukiran-ukiran di permukaannya berfungsi seperti segel sekaligus portal. 

Begitu ritual dimulai, batas antara dunia nyata dan alam roh literally kebuka. Sosok-sosok gaib yang sebelumnya cuma gangguan visual Arini ternyata adalah jejak korban-korban lama.

Yes, Arini bukan yang pertama.

Dan itu bikin merinding dua kali lipat.

Kenapa Arini Jadi Target?

Arini dipilih bukan random. Dia digambarkan sebagai sosok ibu yang kuat, sehat, penuh energi—secara spiritual dan fisik “prime”. Dalam logika ritual, tubuh kayak gitu adalah wadah sempurna.

Semakin “hidup” tubuhnya, semakin awet jiwa Ibu Sri nanti. Makanya sepanjang film, Arini mulai ngalamin:

  • halusinasi
  • kehilangan waktu (blank moments)
  • perubahan sikap orang sekitar
  • mimpi buruk yang terasa nyata

Semua itu bukan gangguan mental. Itu proses “pelemahan diri” supaya jiwanya gampang digeser keluar.

Secara psikologis, ini yang bikin ending terasa lebih horor dari jumpscare mana pun. Kita lihat Arini bukan cuma diserang fisik, tapi dikikis identitasnya pelan-pelan. Kayak lagi dicabut dari tubuhnya sendiri.

Dan yang paling nyesek: dia harus tetap kelihatan kuat demi Iyan, anaknya.

Ritual Puncak: Darah, Cermin, dan Jiwa yang Diperebutkan

Klimaksnya chaotic tapi intens.  Ritual “ngalih raga” akhirnya dimulai dengan pengorbanan darah—semacam “bayaran” supaya perpindahan jiwa bisa berhasil. 

Rumah itu berubah jadi ruang ritual: lampu redup, suara bisikan, pantulan cermin yang nggak sinkron sama gerakan asli.

Visualnya disturbing banget.

Ibu Sri berdiri di depan cermin, sementara Arini dipaksa jadi medium. Saat mantra dilafalkan, refleksi mereka mulai “terbalik”—jiwa Ibu Sri terlihat muda, sementara Arini di pantulan tampak menua dengan cepat.

Di momen ini film bener-bener mainin teror psikologis: siapa yang sebenarnya ada di tubuh siapa?

Arini berjuang mati-matian, bukan cuma buat dirinya, tapi buat nyelametin Iyan supaya nggak jadi tumbal berikutnya. Pertarungan terakhirnya lebih emosional daripada fisik—antara menyerah atau melawan takdir yang udah disiapin buat dia.

Dan ketika ritualnya kelihatan gagal… penonton sempat dikasih napas lega. Tapi ya namanya horor psikologis, mana ada yang semudah itu.

Mid-Credit Scene: Teror Belum Selesai

Pas kredit mulai jalan, jangan buru-buru cabut.

Ada satu mid-credit scene yang pelan tapi nendang.  Kita lihat petunjuk kalau cermin itu… masih “aktif”. Energinya belum benar-benar mati.

Ada detail kecil yang nunjukkin sesuatu dari Arini terasa beda. Tatapannya. Gesturnya. Atau mungkin cuma sugesti. Film sengaja nggak jawab gamblang.

Apakah jiwanya benar-benar selamat?  Atau Ibu Sri masih berhasil “menyelinap” sedikit? Ambigu, dan itu bikin merinding lebih lama dari endingnya sendiri.

Film Sukma mungkin yang menyeramkan bukan hantunya—  tapi fakta kalau tubuh kita sendiri belum tentu sepenuhnya milik kita.

Cermin yang Retak, Luka yang Nggak Ikut Sembuh

Sukma tentang ketakutan paling manusiawi: takut tua, takut kehilangan diri sendiri, dan takut orang yang kita sayang jadi korban ambisi orang lain. 

Lewat konflik Arini dan obsesi gila Ibu Sri, film ini nunjukin kalau keabadian selalu datang dengan harga mahal—dan sering kali, yang dibayar adalah kemanusiaan itu sendiri. Terornya pelan, psikologis, tapi nempel lama di kepala, bikin kita mikir dua kali setiap lihat pantulan di cermin.

Kalau kamu suka bahasan ending, teori, dan kupas tuntas cerita film kayak gini, jangan berhenti di sini—yuk lanjut jelajahi lebih banyak berita film dan series seru lainnya bareng Lemo Blue. Siapa tahu, tontonan berikutnya udah nunggu buat bikin kamu merinding lagi.