Murder on the Orient Express (2017) adalah film misteri kriminal yang mengadaptasi novel klasik karya Agatha Christie terbitan 1934 dengan sentuhan visual yang lebih modern dan mewah.
Disutradarai sekaligus dibintangi Kenneth Branagh sebagai detektif legendaris Hercule Poirot, film berdurasi 114 menit ini menghadirkan deretan aktor papan atas dalam sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di atas kereta Orient Express.
Selain menjadi adaptasi baru dari kisah ikonik Christie, film ini juga membuka franchise yang kemudian berlanjut lewat Death on the Nile dan A Haunting in Venice.
Table of Contents
Film Murder on the Orient Express tentang Apa?
Murder on the Orient Express mengikuti perjalanan detektif terkenal Hercule Poirot yang menaiki kereta Orient Express untuk kembali ke Inggris setelah menyelesaikan sebuah kasus.
Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi misteri besar ketika kereta terhenti akibat longsoran salju dan salah satu penumpangnya, Samuel Ratchett, ditemukan tewas di dalam kabinnya.
Dari sinilah Poirot harus memecahkan teka-teki pembunuhan yang melibatkan seluruh penumpang kereta, sekaligus menghadapi pertanyaan moral tentang keadilan, balas dendam, dan hukum yang gagal menghukum pelaku kejahatan.
Penjelasan Ending Murder on the Orient Express: Siapa Pembunuh Samuel Ratchett?

Menjelang ending film Murder on the Orient Express, Hercule Poirot akhirnya mengumpulkan seluruh penumpang kereta dalam satu ruangan untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan Samuel Ratchett.
Seperti detektif pada umumnya, Poirot memaparkan semua bukti yang berhasil ia kumpulkan selama penyelidikan.
Namun kali ini, jawaban yang ia temukan jauh lebih rumit daripada sekadar menunjuk satu orang sebagai pembunuh.
Teori Pertama: Pembunuh Misterius dari Luar Kereta
Poirot menjelaskan kemungkinan pertama yang terlihat paling masuk akal. Menurut teori ini, seorang penyusup berhasil masuk ke dalam kereta, membunuh Ratchett, lalu melarikan diri sebelum kereta terjebak longsoran salju.
Semua bukti yang ditemukan di lokasi kejadian bisa saja mengarah pada kesimpulan tersebut. Jika teori ini benar, maka seluruh penumpang kereta tidak bersalah dan kasus selesai begitu saja.
Namun Poirot tahu ada sesuatu yang tidak cocok.
Teori Kedua: Semua Penumpang Adalah Pembunuhnya
Kemudian Poirot mengungkap teori kedua yang jauh lebih mengejutkan.
Berdasarkan semua petunjuk yang ia temukan, ternyata hampir seluruh penumpang di kereta memiliki hubungan dengan keluarga Armstrong, keluarga yang hancur akibat penculikan dan pembunuhan Daisy Armstrong bertahun-tahun sebelumnya.
Korban pembunuhan, Samuel Ratchett, ternyata bukanlah orang biasa. Ia sebenarnya adalah John Cassetti, pelaku penculikan dan pembunuhan Daisy Armstrong yang berhasil lolos dari hukuman karena kekayaan dan pengaruh yang dimilikinya.
Saat identitas asli Ratchett terungkap, semuanya mulai masuk akal.
Semua Orang di Kereta Terhubung dengan Keluarga Armstrong
Satu per satu identitas para penumpang terbuka.
Ada yang merupakan kerabat keluarga Armstrong, ada yang mantan pelayan, teman dekat, pengasuh Daisy, hingga orang-orang yang hidupnya ikut hancur akibat tragedi tersebut.
Mereka semua menyimpan luka yang sama dan memiliki alasan untuk membenci Cassetti.
Dipimpin oleh Linda Arden, nenek Daisy Armstrong, mereka menyusun rencana balas dendam yang sangat matang. Tujuannya bukan sekadar membunuh Cassetti, tetapi memberikan hukuman yang menurut mereka gagal diberikan oleh sistem hukum.
Kenapa Ratchett Ditusuk Berkali-Kali?
Salah satu petunjuk paling membingungkan bagi Poirot adalah luka tusuk pada tubuh Ratchett.
Beberapa luka terlihat sangat dalam dan kuat, sementara yang lain tampak ragu-ragu dan dangkal. Awalnya hal ini terlihat seperti pekerjaan beberapa pembunuh yang berbeda.
Dan memang itulah yang sebenarnya terjadi.
Setelah Cassetti dibius hingga tidak berdaya, setiap anggota kelompok secara bergantian menusukkan pisau yang sama ke tubuhnya.
Dengan cara itu, tidak ada satu orang pun yang bisa dianggap sebagai pembunuh utama karena mereka semua berbagi tanggung jawab yang sama.
Pembunuhan tersebut bukan tindakan spontan, melainkan eksekusi kolektif yang direncanakan dengan sangat detail.
Kenapa Poirot Membiarkan Mereka Pergi?
Sejak awal film, Poirot dikenal sebagai sosok yang percaya bahwa dunia berjalan berdasarkan aturan yang jelas.
Baginya, benar adalah benar dan salah adalah salah.
Pembunuhan tetaplah pembunuhan, apa pun alasannya.
Namun kasus ini membuat keyakinannya mulai goyah.
Ia sadar bahwa para pelaku memang telah membunuh seseorang, tetapi orang yang mereka bunuh adalah seorang monster yang sebelumnya lolos dari hukum.
Mereka bukan penjahat biasa yang membunuh demi uang atau kesenangan, melainkan korban yang hidupnya telah dihancurkan oleh tindakan Cassetti.
Keadilan dan Hukum Ternyata Tidak Selalu Sama
Melalui kasus ini, Poirot mulai memahami bahwa hukum dan keadilan tidak selalu berjalan beriringan.
Secara hukum, para penumpang harus ditangkap karena telah melakukan pembunuhan.
Namun secara moral, banyak orang akan merasa bahwa Cassetti memang pantas menerima hukuman atas kejahatan yang telah ia lakukan.
Di sinilah film mengaburkan batas antara benar dan salah.
Tidak ada jawaban yang benar-benar sempurna.
Mengapa Poirot Berbohong kepada Polisi?
Pada akhirnya, Poirot membuat keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Alih-alih melaporkan kebenaran, ia memilih menceritakan teori pertama kepada pihak berwenang, yaitu bahwa Ratchett dibunuh oleh seorang pelaku misterius yang berhasil melarikan diri dari kereta.
Dengan kata lain, Poirot sengaja menutupi fakta bahwa seluruh penumpang terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Menurutnya, mereka sudah menjalani hukuman yang jauh lebih berat sejak kematian Daisy Armstrong. Rasa kehilangan, trauma, dan penderitaan yang mereka tanggung selama bertahun-tahun dianggap cukup sebagai konsekuensi atas tindakan mereka.
Review Ending Murder on the Orient Express: Bukan Tentang Siapa Pembunuhnya, Tapi Apakah Mereka Salah
Murder on the Orient Express adalah kisah misteri tentang mencari pembunuh.
Namun dari sudut pandang Lemo Blue, film ini sebenarnya mengajak penonton mempertanyakan satu hal yang lebih besar: apakah hukum selalu mampu memberikan keadilan?
Ketika sistem gagal menghukum orang jahat, apakah balas dendam bisa dibenarkan?
Film sengaja tidak memberikan jawaban mutlak. Sebaliknya, penonton dibiarkan menentukan sendiri apakah tindakan para penumpang merupakan kejahatan atau bentuk keadilan yang terlambat datang.
Ending film juga menandai perubahan besar dalam karakter Poirot.
Di awal cerita, ia melihat dunia dalam warna hitam dan putih. Semua hal harus mengikuti aturan yang jelas.
Namun setelah menghadapi kasus Cassetti, ia mulai memahami bahwa kehidupan tidak selalu sesederhana itu. Ada situasi di mana hukum gagal, ada korban yang tidak mendapatkan keadilan, dan ada keputusan yang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan aturan tertulis.
Karena itulah untuk pertama kalinya Poirot memilih belas kasih dibanding penegakan hukum. Dan keputusan tersebut menjadi pelajaran terbesar yang ia bawa dari kasus Murder on the Orient Express.
Ending Murder on the Orient Express: Poirot Dihadapkan pada Dilema Moral
Murder on the Orient Express menawarkan dilema moral yang membuat penonton berpikir ulang tentang batas antara hukum dan keadilan. Ada kalanya rasa kemanusiaan, trauma, dan penderitaan para korban menjadi pertimbangan yang jauh lebih rumit.
Jika kamu suka membaca penjelasan ending film yang penuh teka-teki atau sedang mencari rekomendasi film Netflix yang viral, film jadul yang masih relevan, hingga film box office dengan plot twist mengejutkan, jangan lupa eksplor lebih banyak artikel di Lemo Blue.

