I Quit Drinking adalah lagu yang ngajak kamu masuk ke ruang paling sunyi setelah putus cinta—saat semua hal yang dulu terasa seru malah berubah jadi pemicu luka.
Dirilis pada 9 Juni 2021, lagu kolaborasi Kelsea Ballerini dan Paul Klein (LANY) ini lahir dari pertemuan dua dunia: pop, rock, dan country yang ketemu di satu titik emosional.
Dibawakan pertama kali di CMT Music Awards, “I Quit Drinking” terasa seperti pengakuan jujur tentang berhenti minum bukan karena sembuh, tapi karena masih terlalu ingat. Lagu ini pelan, tapi nusuk.
Table of Contents
Dari Sudut Pandang Lemo Blue, Makna Lagu I Quit Drinking Kelsea Ballerini & LANY Tentang…
…tentang putus cinta yang justru membuat seseorang berhenti minum alkohol, bukan karena sudah move on, tapi karena setiap minuman malah memicu ingatan tentang mantan.
Biasanya lagu patah hati identik dengan mabuk sebagai pelarian. Di lagu ini kebalikannya. Alkohol dihindari karena setiap tegukan hanya memperjelas rasa kehilangan.
Berhenti minum terasa lebih aman daripada harus menghadapi rindu yang muncul tiap kali sadar. Intinya, lagu ini membahas fase patah hati dewasa: hidup mulai tertata, tapi hati masih berantakan.

1. Inversi Narasi: Bukan Mabuk, Tapi Berhenti
Di lagu ini, putus cinta tidak dirayakan dengan botol kosong atau malam yang makin kacau. Justru sebaliknya. Alkohol berhenti jadi teman karena setiap tegukan malah menyeret ingatan ke satu nama yang sama.
Minum bukan lagi pelarian, tapi alarm kenangan. Lagu ini membalik pakem country klasik: rasa sakit tidak diredam, tapi dihadapi dalam keadaan sadar, meski itu jauh lebih menyiksa.
2. Sobriety yang Bukan Karena Sembuh
Berhenti minum di sini bukan tanda hidup sudah rapi. Ini pilihan bertahan. Lagu I Quit Drinking jujur mengakui bahwa luka masih tinggal, masih aktif, dan belum selesai.
Kesadaran datang bersama malam tanpa tidur, pagi tanpa mabuk, dan satu kenyataan pahit: berhenti minum tidak otomatis menghapus orang yang pergi. Sobriety terasa tenang di luar, tapi ribut di dalam.
3. Rumah Tanpa Whiskey, Kota yang Tak Lagi Dikunjungi

Keputusan berhenti minum di lagu ini terasa sangat konkret. Tidak ada lagi whiskey di dalam rumah, tidak ada lagi jalan ke downtown. Semua orang di sekitar tahu perubahan itu.
Bukan karena gaya hidup baru, tapi karena ruang-ruang lama terlalu penuh kenangan. Minuman yang dulu akrab sekarang dihindari, bukan karena rasanya, tapi karena setiap gelas membawa bayangan orang yang sama. Dunia mendadak mengecil setelah satu sosok pergi.
4. Ketika Setetes Alkohol Memanggil Satu Nama
Di bagian ini, Lagu I Quit Drinking terasa paling telanjang. Setiap tetes alkohol tidak lagi memancing euforia, tapi justru memanggil rasa rindu.
Champagne yang dulu disukai kini terasa hambar. Semua minuman berhenti di satu titik yang sama: keinginan pada orang yang sudah tidak ada.
Bahkan setelah semua cabernet dibuang ke wastafel, kesadaran datang dengan harga mahal—bangun dalam keadaan sober memang terasa ringan, tapi malam tetap panjang.
Berhenti mencampur minuman dan perasaan ternyata tidak menyelesaikan satu hal utama: kehilangan itu masih tinggal.
Baca Juga, Yah! ‘yea babe no way’ LANY: Hampir Aja Ngechat Mantan
Berhenti Minum, Tapi Rasa Masih Tinggal

LemoList, Lagu I Quit Drinking menutup ceritanya dengan satu kejujuran sederhana: berhenti minum tidak selalu berarti berhenti mencintai. Lagu ini menggambarkan fase setelah putus cinta yang jarang dibahas—saat tubuh mulai sadar, tapi hati masih tertinggal jauh di belakang.
Alkohol dihilangkan, kebiasaan diubah, tapi kenangan tetap menetap. Di situlah lagu ini terasa dekat dan manusiawi, karena tidak menawarkan solusi instan, hanya pengakuan jujur tentang kehilangan yang belum selesai.
Kalau kamu suka membedah lagu dari sisi emosional dan makna tersembunyi seperti ini, masih banyak berita musik dan cerita menarik lain yang bisa kamu temukan di Lemo Blue. Kita nikmati musik bukan cuma dari nadanya, tapi dari cerita yang diam-diam hidup di balik liriknya.

