Istilah soundtrack dan score hampir selalu muncul—entah di credit title, obrolan penonton, sampai playlist favorit pendengar musik. Tapi sebenarnya, soundtrack dan score itu dua hal yang berbeda, meski sering dianggap sama.
Singkatnya, score adalah musik orisinal yang diciptakan khusus untuk mengiringi adegan film dan membangun emosi cerita, sementara soundtrack adalah pada kumpulan lagu yang digunakan di dalam film—biasanya lagu yang sudah ada dan lekat dengan suasana atau identitas tertentu.
Buat penonton film, keduanya sama-sama bikin adegan terasa hidup. Tapi buat pendengar musik, soundtrack dan score ini bahkan bisa dinikmati secara terpisah, sampai akhirnya jadi playlist favorit yang bisa diputar ulang kapan saja.
Table of Contents
Rekomendasi Soundtrack Terbaik Sepanjang Masa yang Bisa Masuk Playlist!

Setelah tau apa itu soundtrack, yuk liat liat apa aja musik yang pernah jadi soundtrack film dan ikonik. Karena jujur aja, kalau Lemo Blue ditanya apa itu soundtrack, jawabannya adalah musik yang dicari setelah nonton film favorit dan langsung dibuatin playlist di spotify.
Ini rekomendasi Lemo Blue:
- “The Harder They Come” – Jimmy Cliff
Soundtrack legendaris dari film tahun 1972 ini jadi pintu masuk musik reggae ke panggung global. Energinya mentah, politis, dan bersejarah—nggak heran jadi salah satu soundtrack paling berpengaruh sepanjang masa. - “Fame” – Irene Cara
Lagu ini bukan cuma title track, tapi juga simbol mimpi, ambisi, dan perjuangan anak muda. Menang Oscar dan langsung jadi fenomena budaya pop era 80-an. - “Superfly” – Curtis Mayfield
Soul khas 70-an dengan lirik sosial yang tajam. Soundtrack ini bahkan sering dianggap “lebih penting” dari filmnya sendiri karena pengaruhnya yang besar di musik R&B dan soul. - “Footloose” – Kenny Loggins
Enerjik, bebas, dan penuh semangat pemberontakan. Lagu ini jadi anthem lintas generasi dan bukti kalau soundtrack bisa hidup jauh lebih lama dari filmnya. - “Flashdance… What a Feeling” – Irene Cara
Soundtrack motivasi paling ikonik era 80-an. Lagu ini identik dengan mimpi besar, kerja keras, dan momen kemenangan personal. - “Purple Rain” – Prince
Lebih dari sekadar soundtrack—ini adalah karya monumental. Lagu sekaligus album ini mendominasi chart dan mengukuhkan Prince sebagai ikon musik dunia. - “Flash Gordon” – Queen
Queen membuktikan kalau band rock bisa totalitas di dunia film. Musiknya megah, eksperimental, dan sering dianggap lebih diingat daripada filmnya. - “Help!” – The Beatles
Lagu ini menandai fase transisi The Beatles menuju karya yang lebih dewasa. Simpel, jujur, dan tetap relevan sampai sekarang. - “Pretty in Pink” – The Psychedelic Furs
Nuansa new wave yang melankolis ini jadi jiwa dari film coming-of-age klasik karya John Hughes. - “Repo Man” – Iggy Pop
Liar, mentah, dan penuh sikap punk. Cocok banget dengan karakter filmnya yang absurd dan anti-mainstream. - “Laura” – David Raskin / Johnny Mercer
Contoh klasik bagaimana score dan soundtrack menyatu. Melodinya haunting dan abadi, bahkan direkam ulang oleh Frank Sinatra. - “High Noon” – Tex Ritter
Soundtrack western yang unik karena dipakai untuk membangun ketegangan sepanjang film. Sederhana, tapi revolusioner di masanya. - “Golden” – HUNTR/X (KPop Demon Hunters)
Midas-pop smash yang pecah di mana-mana. Lagu ini bukan cuma viral, tapi juga ngasih energi kemenangan yang pas banget buat filmnya—sampai diganjar Best Song di Golden Globes. - “Like a Rolling Stone” – Timothée Chalamet (A Complete Unknown)
Bukan sekadar cover. Versi mentah dan elektrik Chalamet sukses bikin esensi Bob Dylan terasa hidup dan relevan buat generasi baru. - “Born to Run” – Jeremy Allen White (Springsteen: Deliver Me from Nowhere)
Momen transformasi yang bikin merinding. Lagu ini jadi jangkar emosional film dan bukti totalitas Jeremy Allen White sebagai Bruce Springsteen. - “I Lied To You” – Sammie / Miles Caton (Sinners)
Penampilan blues yang intens dan menghantui. Disebut sebagai momen paling “menghancurkan ruang dan waktu” dalam film horor-blues garapan Ryan Coogler. - “American Girl” – Tom Petty And The Heartbreakers (One Battle After Another)
Needle-drop klimaks yang sempurna. Lagu ini menutup film epik hampir tiga jam dengan rasa optimisme yang hangat dan lega. - “Remember” – Young Fathers (28 Years Later)
Gelap, menekan, dan bikin perut mual—iringan sempurna untuk adegan paling menyakitkan di film. - “Basket Case” – Green Day (Bugonia)
Energi chaos total. Dipakai untuk merangkum karakter konspirator gila hanya dalam satu sequence ikonik. - “Whole Lotta Love” – Led Zeppelin (F1)
Pembuka film beroktan tinggi. Begitu riff masuk, adrenalin langsung naik. - “Beware of Darkness” – George Harrison (Weapons)
Tenang tapi mengganggu. Lagu ini bikin adegan narasi terasa makin creepy dan nggak nyaman. - “The Last Mile Of The Way” – Sam Cooke & The Soul Stirrers (Springsteen: Deliver Me from Nowhere)
Needle-drop emosional yang lembut, dipakai di momen krusial hubungan antar karakter.
Playlist Score Film Terbaik Versi Lemo Blue

Sekarang kita masuk ke playlist SCORE terbaik—fokus ke musik film yang jadi identitas emosional lewat main title, tema instrumental ikonik, atau score yang dibangun dari lagu judulnya. Ini cocok banget buat kamu yang suka musik sinematik buat fokus, kerja, atau sekadar tenggelam di suasana film.
- “Laura (Main Theme)” – David Raskin (1945)
Salah satu contoh klasik bagaimana sebuah score dibangun dari satu melodi utama. Tema “Laura” diolah berulang kali sepanjang film, menciptakan nuansa misterius, romantis, dan haunting yang melekat kuat. - “High Noon (Main Title)” – Dimitri Tiomkin (1952)
Score ini unik karena memakai lagu judul sebagai fondasi ketegangan. Melodinya sederhana tapi terus menghantui, membuat waktu terasa berjalan menuju konflik besar. - “Theme from Shaft” – Isaac Hayes (1971)
Perpaduan langka antara score dan title song. Groove gitar “wah-wah” dan aransemen funk-nya membentuk identitas urban yang ikonik dan langsung dikenali sejak nada pertama. - “Star Wars Main Title” – John Williams
Bisa dibilang main title paling terkenal sepanjang sejarah film. Orkestrasi megahnya langsung membangun dunia, konflik, dan rasa epik hanya dalam hitungan detik. - “The Godfather Waltz (Main Title)” – Nino Rota
Melankolis, elegan, dan tragis. Tema ini bukan sekadar musik pembuka, tapi jiwa dari seluruh film—cukup dengar beberapa nada, visual film langsung muncul di kepala. - “The Pink Panther Theme” – Henry Mancini
Contoh sempurna score yang mendefinisikan tone film. Jazzy, jenaka, dan playful, musik ini bahkan lebih populer dari karakter animasinya sendiri. - “Chariots of Fire (Main Theme)” – Vangelis
Synth modern untuk film berlatar periode klasik—hasilnya justru abadi. Tema ini jadi simbol kemenangan, harapan, dan perjuangan, serta salah satu score paling sering diparodikan. - “Purple Rain (Score Themes)” – Prince
Meski dikenal sebagai soundtrack, elemen score dan tema musikalnya tetap jadi tulang punggung emosional film. Musiknya menyatu erat dengan narasi dan karakter. - “Fame (Instrumental Themes)” – Michael Gore
Di balik lagu populernya, score film ini berperan besar membangun atmosfer ambisi, tekanan, dan mimpi besar dunia seni pertunjukan. - “Flashdance (Score & Themes)” – Giorgio Moroder
Elemen score elektroniknya memberi energi dan ritme yang menopang cerita, sekaligus memperkuat identitas film 80-an yang ikonik.
Soundtrack & Score: Ketika Musik Jadi Nyawa Cerita Film

Soundtrack dan score bukan cuma pelengkap, tapi bagian penting yang membentuk identitas sebuah film.
Lewat soundtrack, kita diajak merasakan emosi lewat lagu-lagu yang bisa hidup di luar layar, sementara score bekerja diam-diam membangun suasana, ketegangan, dan kedalaman cerita.
Dari pop anthem yang melekat di kepala sampai komposisi instrumental yang bikin merinding, semuanya punya peran besar dalam membuat pengalaman menonton jadi lebih berkesan—bahkan lama setelah filmnya selesai.
Dan kalau kamu penasaran dengan cerita di balik lagu, fenomena musik terbaru, atau rekomendasi lainnya, jangan ragu buat terus eksplor berita musik dan rekomendasi musik pilihan Lemo Blue.

