Sinopsis A Good Child (2025) yang tayang di NETFLIX tentang drama keluarga asal Singapura, film ini menggabungkan humor yang hangat, momen canggung, dan komentar sosial yang tajam tentang identitas queer, jarak generasi, sampai realitas keluarga Asia yang sering memendam perasaan terlalu lama.
Di balik lampu panggung dan lipstik tebal seorang drag queen, ada cerita tentang anak yang cuma ingin diterima—bukan sebagai versi “normal”, tapi sebagai dirinya sendiri.
Lewat sosok Jia Hao (Richie Koh), seorang drag queen populer yang terinspirasi dari performer nyata Sammi Zhen (Christopher Lim), film ini mengajak kita menyusuri perjalanan pulang yang ganjil: ketika ibunya yang mengidap demensia justru mengira ia adalah putri yang telah lama hilang.
Alih-alih meluruskan, Jia Hao memilih mengikuti permainan memori itu—dan dari kebohongan kecil itulah lahir kesempatan kedua untuk berdamai.
Hangat, lucu, sekaligus getir, A Good Child terasa seperti pelukan yang canggung tapi tulus—tentang keluarga, penerimaan, dan bagaimana kadang kita harus berpura-pura dulu, sebelum akhirnya bisa jujur sepenuhnya.
Table of Contents
Ending A Good Child: Saat Rumah Akhirnya Terasa Seperti Rumah Lagi

Paruh kedua A Good Child bergerak pelan tapi pasti—bukan menuju ledakan konflik, melainkan menuju sesuatu yang lebih sunyi: penerimaan.
Dramanya memang makin intens, terutama saat Jia Hao harus terus merawat ibunya sambil mempertahankan “peran” sebagai anak perempuan yang ia kira diinginkan sang ibu. Tapi justru dari kepura-puraan itu, emosi yang lama terkubur mulai muncul ke permukaan.
Film ini nggak pernah terasa menggurui. Ia cuma duduk di samping kita, lalu berbisik: keluarga itu rumit, tapi bukan berarti mustahil untuk diperbaiki.
A Good Child berubah dari sekadar cerita drag queen dan keluarga konservatif—menjadi kisah tentang luka lama yang akhirnya berani dibuka.
Merawat Ibu, Merawat Luka Lama
Semakin lama Jia Hao tinggal di rumah, semakin tipis jarak emosional yang dulu terasa mustahil ditembus. Rutinitas sederhana—menyuapi makan, mengantar kontrol, bercanda kecil di dapur—perlahan mengikis kemarahan yang ia simpan bertahun-tahun.
Ada rasa capek, tentu. Ada frustrasi. Tapi juga ada kehangatan yang nggak bisa dipalsukan.
Yang menarik, film ini menunjukkan bahwa rekonsiliasi nggak datang lewat satu adegan dramatis. Ia datang lewat hal-hal kecil. Tatapan. Sentuhan. Candaan sarkastik yang cuma dipahami dua orang.
Seolah berkata: healing itu seringnya banal, bukan heroik.
Beban Keluarga Nggak Lagi Ditanggung Sendiri
Sosok kakak laki-lakinya (Charlie Goh) juga ikut berkembang. Dari yang awalnya terlihat kaku dan defensif, ia mulai stepping up—mengambil tanggung jawab, berhenti menyalahkan, dan akhirnya benar-benar hadir sebagai keluarga.
Dinamika mereka terasa real banget. Nggak ada pelukan melodramatis atau pidato panjang. Cuma dua saudara yang sama-sama capek, tapi akhirnya sadar: mereka ada di tim yang sama.
Dan itu cukup.
Rahasia yang Mengubah Segalanya (Spoiler)
Menjelang ending film A Good Girl, sang ibu membuka sebuah “rahasia” yang pelan-pelan merombak cara Jia Hao melihat masa lalunya.
Bukan twist bombastis, tapi jenis kebenaran yang bikin dada sesak.
Kita mulai paham:
- kenapa ibunya begitu ingin punya anak perempuan
- kenapa Jia Hao dibesarkan dengan ekspektasi tertentu
- dan kenapa ayahnya dulu begitu keras pada sisi feminin dirinya
Ada rasa bersalah. Ada luka yang diwariskan tanpa sadar. Ada cinta yang caranya salah.
Ibunya mengakui bahwa ia, mungkin secara egois, membentuk Jia Hao untuk menyembuhkan kesedihannya sendiri.
Niatnya ingin dekat—hasilnya justru menjauhkan. Dan dari pengakuan itulah, hubungan mereka berubah.
Kepura-puraan “menjadi anak perempuan” pelan-pelan berhenti terasa seperti akting… dan mulai terasa seperti jembatan.
Identitas Bukan Lagi Sesuatu yang Harus Disembunyikan
Salah satu momen paling nyess di film ini datang saat Jia Hao akhirnya tampil apa adanya—bukan dalam kostum drag, bukan juga dalam peran yang diharapkan orang lain.
Cuma menjadi dirinya sendiri. Dan ibunya… tetap melihatnya sebagai anak yang sama.
Bukan sebagai kesalahan. Bukan sebagai kekecewaan. Tapi sebagai “good child.”
Ada adegan ketika sang ibu memotretnya berulang-ulang, seakan takut lupa wajahnya lagi karena demensia. Simbol yang sederhana tapi nusuk banget: kalau ingatan bisa hilang, cinta jangan.
Jujur, vibes-nya mirip How to Make Millions Before Grandma Dies—hangat, getir, tapi penuh kasih yang diam-diam menghancurkan hati.
Makna Ending A Good Child dari Review & Sudut Pandang Lemo Blue
A Good Child nggak menutup ceritanya dengan kemenangan besar atau pidato tentang toleransi. Yang ada cuma keluarga yang akhirnya duduk bareng, saling menerima, dan berhenti menghakimi.
Ada restu. Ada pelukan canggung. Ada ruang untuk jadi diri sendiri. Dan mungkin itu cukup.
Karena pada akhirnya, film ini nggak bertanya “siapa yang benar?” Tapi lebih ke “bisakah kita tetap saling sayang meski semuanya berantakan?”
Jawabannya pelan, tapi pasti: bisa.
Tentang Pulang, Memaafkan, dan Menjadi Diri Sendiri
A Good Child tentang drag queen, konflik keluarga, dan isu LGBTQ+ di Singapura. Ini adalah kisah tentang pulang ke tempat yang dulu terasa menyakitkan, lalu pelan-pelan memberanikan diri untuk membuka luka yang lama disembunyikan.
Buat Lemolist yang suka ulasan dan rekomendasi film dengan sudut pandang yang lebih personal dan emosional, A Good Child jelas layak masuk watchlist.
Dan kalau kamu menikmati cerita-cerita yang nggak cuma ditonton tapi juga dirasakan, jangan ragu buat eksplor lebih banyak bahasan film dan series lainnya bareng Lemo Blue.

