Film Nominasi Oscar 2026 Kategori Best Picture

10 Film Nominasi Oscar 2026 Kategori Best Picture, “Oh.. Pantas”

Seperti biasa, Academy Awards menjadi panggung utama untuk merayakan film-film terbaik dari seluruh dunia. Di artikel ini akan ngasi daftar film nominasi Oscar kategori Best Picture sebagai rekomendasi tontonan berkualitas.

Oscar 2026 resmi digelar pada 15 Maret 2026 di Dolby Theatre, Ovation Hollywood, Amerika Serikat. Acara ini akan berlangsung pukul 16.00 ET / 13.00 PT, atau bagi kamu di Indonesia bisa menyaksikannya pada 16 Maret 2026 pukul 03.00 WIB.

Review Film Nominasi Oscar 2026 untuk Kategori Best Picture Versi Lemo Blue

Setelah tahu kapan dan di mana malam Oscar 2026 digelar, sekarang saatnya masuk ke bagian paling ditunggu: daftar film nominasi Oscar Best Picture. Dari sudut pandang Lemo Blue, film-film ini pantas kamu masukkan ke watchlist karena masing-masing menawarkan pengalaman sinematik yang kuat, unik, dan berkesan.

1. Bugonia

Bayangkan seorang pria penyendiri, paranoid, dan terobsesi teori konspirasi. Teddy (Jesse Plemons) adalah peternak lebah yang yakin dunia sedang dikendalikan makhluk asing.

Ketika ia menculik Michelle (Emma Stone), seorang CEO perusahaan biomedis, Teddy percaya hanya satu cara menyelamatkan umat manusia: “membersihkan” sang CEO sebelum gerhana bulan terjadi.

Disutradarai Yorgos Lanthimos, Bugonia tampil sebagai komedi hitam yang absurd sekaligus tajam. Di balik kisah penculikan yang aneh, film ini menyindir paranoia modern, sisa trauma pandemi, kerakusan korporasi, dan betapa mudahnya manusia tenggelam dalam teori liar. Visualnya penuh sudut kamera ekstrem yang membuat hubungan korban dan penculik terasa makin tidak nyaman.

Kenapa wajib ditonton: unik, satir, dan jadi salah satu film Lanthimos yang paling mudah diakses penonton umum — tanpa kehilangan kegilaannya.

2. F1

Suara mesin meraung, ban terbakar aspal, dan ego yang saling bertabrakan. Sonny Hayes (Brad Pitt) adalah mantan pembalap legendaris yang kembali ke lintasan untuk menyelamatkan tim F1 yang nyaris bangkrut. Ia harus membimbing Joshua Pearce (Damson Idris), pembalap muda bertalenta tapi arogan.

Disutradarai Joseph Kosinski, F1 bukan cuma film balapan. Ini cerita tentang generasi lama yang berusaha tetap relevan di era baru. Balapan disajikan intens, realistis, dan memacu adrenalin, tapi konflik personal antar karakter jadi bahan bakar emosionalnya.

Kenapa wajib ditonton: aksi balapnya spektakuler, dramanya kuat, dan Brad Pitt membawa karisma “ikon lama” yang sedang melawan waktu.

3. Frankenstein

Tahun 1857. Di tengah dinginnya Arktik, Victor Frankenstein (Oscar Isaac) dan ciptaannya (Jacob Elordi) saling memburu. Tapi monster di sini bukan sekadar makhluk mengerikan — ia cerdas, peka, dan mendambakan kasih sayang.

Guillermo del Toro mengubah kisah klasik Mary Shelley menjadi dongeng gelap yang indah sekaligus memilukan.

Setiap frame terasa seperti lukisan gotik hidup, penuh warna merah pekat dan bayangan misterius. Hubungan pencipta dan ciptaan menjadi refleksi tentang kesepian dan penolakan.

Kenapa wajib ditonton: visualnya magis, emosinya dalam, dan membawa Frankenstein ke level tragedi manusia yang menyentuh.

4. Marty Supreme

Marty Mauser (Timothée Chalamet) adalah raja tenis meja era 1950-an. Kepercayaan dirinya meledak-ledak, gaya hidupnya flamboyan, dan ambisinya tidak mengenal batas. Tapi di balik kejayaan itu, kejatuhan menunggu.

Film ini disutradarai Josh Safdie dengan gaya gambar “liar” khas film 70-an, musik 80-an, tapi cerita 50-an — kombinasi yang terasa segar dan nyentrik. Marty adalah potret manusia yang hidup dari ego, sampai egonya sendiri memakan dirinya.

Kenapa wajib ditonton: akting terbaik Chalamet sejauh ini, penuh energi, chaos, dan potret “toxic bravado” yang menarik.

5. One Battle After Another

Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio) memimpin kelompok perlawanan untuk melindungi putrinya dari kolonel rasis yang terobsesi mengejar mereka. Berlatar Amerika yang penuh ketegangan politik, film ini bicara tentang perlawanan, ingatan sejarah, dan luka masa lalu yang belum sembuh.

Paul Thomas Anderson meramu kisah One Battle After Another dengan tempo liar, emosional, dan musik eksperimental Jonny Greenwood yang “gila tapi indah”. Sean Penn mencuri perhatian sebagai antagonis kejam yang mengerikan sekaligus manusiawi.

Kenapa wajib ditonton: intens, penuh makna politik, dan suguhan akting kelas berat.

6. Sentimental Value

Nora (Renate Reinsve) adalah aktris yang berduka atas kematian ibunya. Sang ayah, Gustav (Stellan Skarsgård), seorang sutradara tua, kembali ke hidupnya membawa naskah film yang ia tulis khusus untuk Nora. Tapi Nora menolak — luka lama terlalu dalam.

Joachim Trier menghadirkan drama keluarga yang sunyi tapi menghantam perasaan. Tentang trauma, seni, dan hubungan orang tua-anak yang rumit. Ketika peran utama akhirnya diberikan ke aktris Hollywood (Elle Fanning), konflik batin Nora semakin memuncak.

Kenapa wajib ditonton: realistis, emosional, dan aktingnya “breathtaking”.

7. Hamnet

Di sebuah desa kecil Inggris abad ke-16, Agnes (Jessie Buckley) dikenal sebagai perempuan dengan ikatan batin kuat pada alam — sebagian orang menyebutnya “penyihir hutan”. Ia hidup tenang bersama suaminya, William Shakespeare (Paul Mescal), hingga tragedi terbesar datang: kematian putra mereka yang masih berusia 11 tahun, Hamnet.

Disutradarai Chloé Zhao, Hamnet bukan sekadar drama sejarah. Ini adalah kisah duka yang intim, puitis, dan penuh keheningan emosional. Kamera Lukasz Zal menangkap hutan yang indah sekaligus terasa menghantui, sementara musik Max Richter mengalir seperti bisikan kesedihan yang tak pernah benar-benar hilang.

Yang membuat film ini istimewa adalah gagasan utamanya: bahwa Shakespeare menulis Hamlet sebagai cara memproses kehilangan anaknya. Di klimaks film, ketika naskah Hamlet dipentaskan, penonton diajak melihat bagaimana seni menjadi jembatan penyembuhan bagi luka yang tak terucap.

Kenapa wajib ditonton: emosional, indah secara visual, dan menawarkan sudut pandang baru tentang lahirnya salah satu karya terbesar dalam sejarah sastra.

8. Sinners

Mississippi Delta, 1932. Dua saudara kembar (Michael B. Jordan) membuka klub musik untuk komunitas kulit hitam. Tapi malam itu berubah horor ketika vampir kulit putih haus darah datang membawa teror.

Ryan Coogler mencampur mitologi vampir dengan sejarah rasisme Amerika dan budaya musik blues. Hasilnya: film Sinner jadi horor musikal yang megah, difilmkan dengan IMAX 65mm, penuh tarian, nyanyian, dan darah.

Kenapa wajib ditonton: orisinal, berani, penuh simbol sosial, dan sangat sinematik.

9. The Secret Agent

Marcelo (Wagner Moura) adalah pakar teknologi yang buron dari rezim militer Brasil tahun 1977. Ia pergi ke Recife saat festival Karnaval untuk mencari anaknya. Tapi kota penuh warna itu ternyata menyimpan bahaya.

Film ini menang banyak penghargaan di Cannes. Thriller politik yang tegang, dengan latar Karnaval yang kontras antara pesta dan paranoia. Setiap sudut kota terasa seperti jebakan.

Kenapa wajib ditonton: intens, penuh atmosfer, dan akting kelas dunia.

10. Train Dreams

Robert Grainier (Joel Edgerton) adalah buruh rel kereta di awal abad 20. Hidupnya sederhana: bekerja, mencintai alam, membangun keluarga. Tapi zaman berubah, tragedi datang, dan dunia modern perlahan menelan kesunyian hidupnya.

Train Dreams adalah puisi visual tentang manusia biasa di tengah arus kemajuan. Tenang, reflektif, dan menyentuh. Musik dan narasi membuat kisah hidup Robert terasa abadi. Dan FYI, film ini Original Netflix, jadi kamu bisa tonton sekarang di Netflix.

Kenapa wajib ditonton: sederhana tapi dalam, penuh makna tentang hidup dan kehilangan.

Saatnya Siapkan Watchlist

Review Film Nominasi Oscar 2026

Dari satir absurd, balapan adrenalin, horor musikal, sampai drama keluarga yang sunyi — nominasi Film Oscar untuk Best Picture tahun ini benar-benar menawarkan pengalaman sinema yang kaya rasa.

Dari sudut pandang Lemo Blue, ini bukan sekadar daftar film nominasi. Ini adalah rekomendasi tontonan berkualitas yang bisa membuka perspektif baru, mengguncang emosi, atau sekadar membuat kamu berkata: “Oh, pantas dia masuk Oscar.”

Jadi… sebelum malam penganugerahan dimulai, pertanyaannya tinggal satu:
film mana yang paling duluan kamu tonton? Jelajahi lebih banyak rekomendasi film dan ulasan film di Lemo Blue yah!