Sinopsis Solata

Solata (2025): Pulang yang Benar-Benar Pulang

Kamu pernah ngerasa kehilangan arah, terus tiba-tiba hidup kasih kamu “teman” yang justru jadi cahaya baru? Nah, Solata — yang berarti “teman” dalam bahasa Toraja — bercerita tentang hal itu. 

Film garapan Ichwan Persada ini nggak cuma drama keluarga biasa; tapi perjalanan spiritual dan sosial tentang menemukan makna hidup lewat pendidikan dan persahabatan. 

Terinspirasi dari keresahan sosial dan ketimpangan pendidikan di pelosok Indonesia, Ichwan menulis kisah ini sejak 2012. Dengan latar indah Pegunungan Ollon di Tana Toraja, Solata jadi refleksi tentang bagaimana “teman” bisa berubah jadi rumah tempat kita pulang.

Sinopsis Solata

Solata sinopsis

Kadang hidup bikin kamu jatuh di titik paling rendah sampai nggak tahu lagi mau ke mana. Begitu juga yang dialami Angkasa dalam Solata

Dari Jakarta, ia datang dengan luka yang dalam—kehilangan ibunya, dipecat dari pekerjaan, dan ditinggal kekasihnya, Lembayung. Semua datang beruntun, bikin hidupnya remuk.

Untuk menenangkan diri, Angkasa memilih pergi jauh ke Pegunungan Ollon, Tana Toraja. Di sana, ia mendaftar sebagai guru relawan di desa terpencil yang bahkan sinyal pun sulit ditemukan. Awalnya, keputusan ini cuma bentuk pelarian, bukan panggilan hati.

Namun segalanya berubah saat ia bertemu enam murid kecil yang polos tapi berjiwa besar: Karno, Harto, Mega, Bambang, Wahid, dan Habi. 

Nama mereka diambil dari para presiden Indonesia—sebuah doa agar kelak bisa jadi pemimpin. Hubungan Angkasa dengan anak-anak ini sempat tegang dan penuh salah paham. Tapi perlahan, kehangatan dan kejujuran mereka meluluhkan hatinya.

Lewat kehidupan sederhana di Ollon, Angkasa belajar arti ketulusan dan menemukan kembali dirinya yang hilang. 

Dari tawa anak-anak, keramahan warga, dan kesunyian alam, ia paham bahwa “Solata”—teman sejati—bisa jadi keluarga yang membuatmu merasa pulang, bahkan tanpa perlu rumah besar di kota.

Baca Juga, Yah! Groom & Two Brides (2025): Mantan Datang Di Waktu yang Salah atau… Tepat?

Ending Solata (Spoiler Alert!)

Ending Solata (Spoiler Alert!)

Sampai di bagian ini, kamu bakal ngerasain titik paling emosional dari Solata. Setelah Angkasa merasa hidupnya mulai tenang di Ollon, kenyataan pahit datang tanpa ampun. Pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah tempat ia mengajar. 

Buat Angkasa, keputusan itu kayak mimpi buruk—semua kebahagiaan dan arti hidup yang baru ia temukan seolah direnggut begitu saja.

Perjuangan untuk Pendidikan

Nggak tinggal diam, Angkasa berdiri bersama warga Ollon buat memperjuangkan hak anak-anak agar tetap bisa belajar. Usahanya memang keras, tapi akhirnya sekolah “kelas jauh” itu tetap ditutup. Meski gagal mempertahankan sekolah lama, semangatnya nggak padam.

Membangun Harapan Baru

Angkasa justru memimpin penggalangan dana besar untuk membangun sekolah mandiri di desa itu. Di balik layar, Lembayung dan sahabatnya, Bumi, ikut membantu tanpa banyak bicara. Dukungan itu jadi sinyal bahwa luka masa lalu perlahan mulai sembuh.

Arti Pulang yang Sebenarnya

Di akhir cerita, Angkasa sadar—rumah bukan soal tempat, tapi perasaan diterima dan dibutuhkan. Ia berdamai dengan masa lalunya, menutup luka bersama Lembayung, dan memutuskan untuk tinggal di Ollon. 

Dalam kesederhanaan, ia menemukan kedamaian dan makna hidup baru. Solata menegaskan bahwa keluarga sejati lahir dari cinta dan persahabatan yang tumbuh dari perjalanan bersama, bukan dari darah semata.

Baca Juga, Yah! Mango (2025): Cintaku Bersemi di Kebun Mangga

Review Solata — Worth It atau Skip?

Review Solata — Worth It atau Skip?

Kalau kamu suka film yang bikin hati hangat dan mikir dalam waktu bersamaan, Solata wajib masuk daftar tontonanmu. Ceritanya sederhana, tapi pesannya dalem banget.

Kenapa Solata Layak Ditonton

Solata punya kekuatan di cerita yang menyentuh dan sinematografi yang bikin mata betah. Film ini ngasih perjalanan spiritual dan refleksi hidup lewat kisah Angkasa yang belajar arti ketulusan dan persahabatan sejati. Pesannya kuat tentang pendidikan dan keikhlasan dalam melayani.

Secara sosial, film ini nyentil realitas yang sering terlupakan: ketimpangan pendidikan di pelosok Indonesia. Ichwan Persada berhasil menjadikan Solata sebagai “etalase negeri,” tempat isu-isu penting disampaikan lewat narasi yang hangat, bukan menggurui.

Pegunungan Ollon di Tana Toraja tampil luar biasa di layar. Pemandangannya autentik, budaya lokalnya terasa hidup, dan semua itu bikin film ini punya jiwa. Rendy Kjaernett tampil total sebagai Angkasa, nunjukin perkembangan karakter yang realistis dan menyentuh. Sementara Fhail Firmansyah lewat peran Abun memberi warna humor yang pas, menyeimbangkan emosi film.

Kekurangan yang Bisa Diperbaiki

Meski kuat di pesan dan visual, Solata agak tergesa di puncak konfliknya. Keputusan pemerintah menutup sekolah yang jadi inti masalah terasa diselesaikan terlalu cepat, bikin emosi penonton belum sempat mencapai klimaks penuh. Tapi ini bukan hal besar yang merusak keseluruhan pengalaman nonton.

Kalau Menurut Lemo Blue Sih.. 

Secara keseluruhan, Solata adalah film yang worth it banget buat kamu tonton. Ceritanya sederhana tapi sarat makna, mengajarkan empati dan semangat berbagi lewat kisah yang manusiawi. Ini bikin kamu pulang dengan hati yang lebih hangat dan pikiran yang lebih jernih.

Daftar Pemain Solata

Dari aktor berpengalaman sampai anak-anak lokal yang natural banget di depan kamera, semuanya punya peran penting dalam bikin kisah ini menyentuh hati.

  • Rendy Kjaernett sebagai Angkasa, guru relawan yang jadi pusat cerita.
  • Rachel Natasya (ex JKT48) sebagai Lembayung, mantan kekasih Angkasa yang ikut membantunya dari jauh.
  • Fhail Firmansyah sebagai Abun, anak kepala desa yang bijak dan sering bikin suasana jadi lebih ringan.
  • Iskandar Andi Patau sebagai Bumi, sahabat Angkasa yang setia.
  • Ayu Siramba sebagai Febe, adik Abun yang diam-diam menaruh hati pada Angkasa.
  • Harsya Subandrio sebagai Rombe, sosok pendukung yang menambah warna di desa Ollon.

Enam siswa cilik yang mencuri perhatian lewat akting polos dan menggemaskan:

  • Keyzo Sombolinggi sebagai Karno, anak yatim yang penuh semangat.
  • Maulana Eka Putra sebagai Harto, murid dengan jiwa kepemimpinan kuat.
  • Amel Komba sebagai Mega, gadis ceria yang selalu menebar tawa.
  • Suray Parrangan sebagai Bambang, anak nelayan yang tangguh.
  • Gabriel Alexander sebagai Wahid, si pemikir kecil yang kritis.
  • Ince Amira Batrisya sebagai Habi/Habibi, murid perempuan cerdas dan penuh rasa ingin tahu.

Solata Mengajarkan Kita Arti Pulang

Lewat kisah Angkasa dan anak-anak Ollon, Solata mengajak kamu merenung tentang arti keluarga, pendidikan, dan rasa memiliki. Film ini menyentuh tanpa berlebihan, menghadirkan kehangatan yang datang dari ketulusan sederhana. 

Buat kamu yang mencari tontonan penuh makna dan kejujuran emosional, Solata layak jadi pilihan. Yuk terus ikuti berita film dan cerita menarik lain seputar dunia sinema di Lemo Blue — tempat di mana tiap kisah punya makna untuk dibagikan.