Sinopsis Film Narik Sukmo

Narik Sukmo (2025): Niat Healing Malah Disuruh Joget

Narik Sukmo jadi salah satu film horor Indonesia 2025 yang wajib kamu intip. Film berdurasi 95 menit ini ngangkat cerita mistis Jawa dengan nuansa yang tegang tapi tetap indah lewat tarian sakral yang bisa “memanggil” roh. 

Disutradarai Indra Gunawan dan ditulis Evelyn Afnilia, film ini diproduksi Mesari Pictures bareng JP Pictures, diadaptasi dari novel Narik Sukmo: Menari atau Mati karya Dewie Yulliantina Sofia. 

Rilis 3 Juli 2025 dan sekarang tayang di Netflix, film ini siap bikin kamu ikut merinding—antara kagum dan takut tiap kali irama gamelan mulai berdentum.

Sinopsis Narik Sukmo

Narik Sukmo sinopsis

Cerita Narik Sukmo dimulai dari Kenara Cahyaningrum (Febby Rastanty), seorang mahasiswi yang hidupnya berantakan setelah tahu pacarnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. 

Demi menenangkan diri, Kenara menerima ajakan temannya, Ayu (Dea Annisa), buat main ke kampung halamannya di Desa Kelawangin — desa kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masih kental banget dengan budaya tari dan kepercayaan mistis.

Baru sampai di desa, suasananya udah terasa aneh. Hujan deras turun semalaman, petir menyambar, dan beberapa warga menatap Kenara seolah mereka tahu sesuatu. 

Dari situ, gangguan demi gangguan mulai datang. Kenara diganggu mimpi berulang tentang bayangan hitam yang kayak mau ngambil jiwanya — atau dalam istilah Jawa, sukmo.

Kengerian makin parah waktu Kenara sadar tubuhnya bisa bergerak sendiri. Ia menari tanpa kendali, seperti ada yang merasuki. 

Semua makin runyam setelah dia nekat masuk ke ruangan terlarang di rumah Ayu. Dari sana, teror nggak lagi sekadar mimpi — tapi nyata dan hidup di sekitar mereka.

Penduduk desa percaya kalau gerakan Kenara adalah bagian dari Tari Narik Sukmo, tarian kuno yang konon bisa mengundang arwah dan membawa kutukan bagi siapa pun yang melanggarnya. 

Sejak tarian itu muncul lagi, satu per satu warga desa mulai tewas dengan cara misterius. Bersama Dierja (Aliando Syarief), pemuda lokal yang berani, Kenara mencoba mengungkap rahasia besar di balik tarian itu.

Mereka kemudian menemukan kisah tragis Banyu Janggala Bagwahanta dan Ratimayu, sepasang kekasih yang tewas dua dekade lalu. 

Dari situ, Narik Sukmo jadi perjalanan menggali luka masa lalu, cinta yang dikutuk, dan warisan mistik yang nggak bisa dilupakan.

Baca Juga, Yah! Die My Love (2025): Isi Otaknya Grace Kayak “Real or Fake?” 

Ending Narik Sukmo

Ending Narik Sukmo

Kalau di awal kamu masih nebak-nebak siapa yang jahat dan siapa yang dikutuk, bagian akhir Narik Sukmo bakal bikin kamu sadar—nggak semua arwah datang buat menakuti.

Di penghujung cerita, rahasia besar akhirnya terungkap. Banyu Janggala Bagwahanta dan Ratimayu ternyata bukan roh jahat seperti yang selama ini dipercaya warga Desa Kelawangin. 

Mereka sepasang kekasih yang jadi korban fitnah dan keserakahan manusia 20 tahun silam. Kebencian dan iri hati warga membuat keduanya tewas tragis, lalu meninggalkan kutukan lewat tarian yang kini merasuki Kenara.

Tarian yang Jadi Medium

Gerakan Kenara yang menari tanpa sadar ternyata bukan sekadar gangguan gaib. Tubuhnya jadi medium spiritual yang membuka kebenaran masa lalu. 

Setiap langkah, setiap lirikan matanya di panggung mistis itu, adalah bentuk komunikasi antara dunia hidup dan arwah yang mencari keadilan.

Dendam yang Tak Pernah Padam

Di sisi lain, muncul Adicandra (Nugie), pria yang menyimpan cinta bertepuk sebelah tangan pada Ratimayu. Cintanya yang berubah jadi obsesi gelap membuat siklus teror terus berulang setiap sepuluh tahun. 

Dalam upacara suci yang seharusnya menenangkan arwah, Adicandra malah dikuasai amarah dan menumpahkan darah dengan membunuh Prastomo (Teuku Rifnu Wikana).

Akhir yang Terikat

Setelah semua terungkap, Kenara berhasil menuntaskan dendam lama itu. Tapi ada harga besar yang harus dibayar. 

Ia yang dipilih jadi penghubung dua dunia kini terikat selamanya dengan selendang merah dan hiasan rambut milik Ratimayu—simbol cinta dan penderitaan abadi.

Akhir Narik Sukmo terasa pahit sekaligus indah. Kutukan yang terlihat mengerikan ternyata menyimpan pesan tentang cinta yang tak sempat berpulang, dan bagaimana manusia sering kali lebih menakutkan dari makhluk halus yang mereka takuti.

Baca Juga, Yah! Gowok: Javanese Kamasutra (2025): Drama Jawa yang Bikin Hati Nyut-nyutan

Review Narik Sukmo: Worth It atau Skip, LemoList?

Review Narik Sukmo: Worth It atau Skip, LemoList?

Kalau kamu suka horor yang punya aroma budaya dan pesan dalam tiap adegannya, Narik Sukmo bisa jadi tontonan yang bikin mikir setelah tutup layar. Tapi tenang, kita bedah dulu—seremnya dapet nggak sih?

Yang Bikin Filmnya Seru

Kekuatan terbesar Narik Sukmo ada di caranya membungkus teror lewat budaya Jawa yang mistis tapi elegan. Film ini nyentuh sisi leluhur yang sering dilupain: menghormati warisan dan memahami maknanya. 

Visual tarinya pun luar biasa—tubuh penari dijadikan medium horor yang hidup. Gerakan Tari Narik Sukmo yang diciptakan khusus untuk film ini bikin bulu kuduk naik, apalagi pas Kenara terus menari sampai kehabisan tenaga.

Suasana filmnya juga terasa mencekik perlahan. Gamelan yang awalnya lembut bisa berubah jadi nada sumbang yang bikin jantung deg-degan. 

Di balik semua teror, Narik Sukmo menyimpan sindiran sosial tentang fitnah dan keserakahan manusia. Dan soal akting—Febby Rastanty layak diacungi jempol. Transformasinya dari gadis ceria jadi sosok yang dikendalikan arwah terasa intens dan natural.

Tapi ada “Tapinya” NIh

Meski punya konsep kuat, eksekusinya kadang terasa datar di tengah. Ritme film sempat melambat dan bikin tensi turun sebelum klimaks. 

Beberapa dialog terasa terlalu ringan buat konflik sebesar itu, jadi karakter kayak Adicandra kurang dapet momen gelapnya. Unsur horornya pun masih ngandelin jump scare standar, jadi beberapa adegan bisa ketebak.

Kalau Menurut Lemo Blue Sih.. 

Narik Sukmo bisa jadi pengalaman horor yang solid buat kamu yang suka film dengan nuansa slow burn dan akar budaya yang kuat. 

Walau nggak sempurna, pesannya dalem banget—tentang cinta, dendam, dan bagaimana tradisi bisa jadi medium antara hidup dan kematian. Jadi, kalau kamu siap nonton film yang mistis tapi berisi, Narik Sukmo jelas worth it banget!

Daftar Pemain Narik Sukmo

Deretan pemainnya bikin film ini hidup banget, LemoList! Masing-masing punya peran kuat yang nambah aura mistis dan emosional dari cerita.

  • Febby Rastanty sebagai Kenara Cahyaningrum (Kenar) — mahasiswi sekaligus penari yang jadi pusat kutukan.
  • Aliando Syarief sebagai Dierja — pemuda desa yang bantu Kenara mengungkap rahasia Narik Sukmo.
  • Dea Annisa sebagai Ayu — sahabat Kenara yang mengajaknya ke Desa Kelawangin.
  • Teuku Rifnu Wikana sebagai Prastomo — tokoh penting yang terjebak dalam konflik masa lalu.
  • Nugie sebagai Adicandra (Paklek Adicandra) — sosok antagonis dengan dendam lama yang memicu teror.
  • Kinaryosih sebagai Ratimayu — arwah penari yang meninggal dua dekade silam.
  • Yama Carlos sebagai Banyu Janggala Bagwahanta — kekasih Ratimayu yang ikut jadi bagian dari tragedi.
  • Maryam Supraba sebagai Ibu — karakter misterius yang memperkuat nuansa tradisi dan mistik desa.
  • Elly D. Luthan sebagai Pelatih Tari — koreografer asli Tari Narik Sukmo di balik layar yang juga muncul di film.

Menari, Mewarisi, atau Mati?

Pada akhirnya, Narik Sukmo adalah cermin budaya—tentang bagaimana tarian, cinta, dan dendam bisa menyatu dalam kisah mistis yang indah sekaligus menakutkan. 

Setiap gerakan Kenara bukan sekadar hiburan, tapi pesan tentang warisan leluhur yang sering kita lupakan. Dengan visual yang magis dan makna yang dalam, film ini berhasil menyatukan horor dan filosofi Jawa dalam satu tarikan napas.

Kalau kamu penggemar cerita dengan atmosfer kelam tapi sarat makna, Narik Sukmo pantas masuk daftar tontonanmu. Yuk, terus ikuti berita film dan review menarik lainnya bareng Lemo Blue.