Lagu di Album Wuthering Heights Charli XCX Review

12 Lagu di Album ‘Wuthering Heights’ Charli XCX “Review dan Maknanya” 

‘Wuthering Heights’ Charli XCX adalah album pendamping untuk film adaptasi terbaru karya Emerald Fennell, yang terinspirasi dari novel klasik Wuthering Heights

Dari naskah filmnya saja, Charli mengaku langsung terseret ke atmosfer yang “raw, wild, sexual, gothic, and British”—energi yang kemudian menjelma jadi denyut utama album ini.

Secara sonik, arahnya terasa kontras tapi puitis, terpengaruh kalimat ikonik dari John Cale: “elegant and brutal.”  Di artikel ini, kita bakal menyelami makna tiap lagu, untuk melihat bagaimana soundtrack ini bukan cuma mengiringi cerita, tapi ikut menghidupkan emosinya.

Makna Lagu di Album ‘Wuthering Heights’ Charli XCX

Kalau dari sudut pandang Lemo Blue, mendengar setiap di album ‘Wuthering Heights’ Charli XCX seperti membuka pintu rumah tua yang berderit—tiap ruangan punya hawa dingin berbeda, tapi semuanya terhubung oleh satu benang merah: cinta dan posesif.

Untuk mendengar full albumnya tanpa gangguan iklan, silahkan subs Spotify Premium mulai 19k-aja ya! 

1. House (feat. John Cale)

Sebagai pembuka album ‘Wuthering Heights’ Charli XCX, lagu ini langsung terasa claustrophobic. Makna Lagu “House” Charli XCX ft. John Cale tentang menggunakan metafora  rumah untuk dunia yang si narator bangun sendiri—ambisi, mimpi, obsesi, standar sempurna yang terlalu tinggi. 

Awalnya terasa seperti tempat berlindung, tapi pelan-pelan berubah jadi sel penjara. Lirik tentang menjadi “prisoner” di dunia ciptaannya sendiri bikin lagunya terasa tragis: kita kadang terlalu sibuk merancang hidup ideal sampai lupa cara keluar.

Kalimat “die in this house” bukan cuma soal kematian fisik, tapi kematian emosional—terjebak di keheningan, sendirian dengan pikiran sendiri. Suara Cale yang dingin dan teatrikal bikin nuansa gothic-nya makin pekat, kayak lorong rumah kosong yang gaungnya panjang banget.

2. Wall of Sound

Kalau “House” adalah ruang tertutup, makna lagu “Wall of Sound” oleh Charli XCX adalah tembok tak kasatmata di dalam kepala. Lagu ini terasa seperti momen freeze—kamu pengin lari, pengin nyamperin seseorang, pengin berubah… tapi badan nggak gerak.

“Unbelievable tension” di liriknya menggambarkan kelumpuhan emosional. Ada tarik-menarik antara cinta dan benci, rindu dan takut, yang akhirnya bikin narator stuck di tempat. 

Dinding suara di sini bukan cuma produksi musik yang padat, tapi metafora tekanan psikologis—semua terlalu keras, terlalu penuh, sampai nggak ada ruang buat bernapas. Rasanya kayak berdiri di tengah badai, tapi justru nggak bisa melangkah sama sekali.

3. Dying for You

Makna lagu dying for you tentang cinta yang udah kelewat batas—bukan romantis, tapi obsesif. Si narator menggambarkan pasangannya sebagai “favourite jewellery” sekaligus “noose ’round my neck”. Indah, tapi mencekik. Cantik, tapi mematikan.

Identitasnya seperti larut sepenuhnya ke dalam hubungan itu. Bahkan saat terluka, dia tetap tersenyum. 

Baris tentang “I bleed even more” dengan “smile on my face” terasa menyeramkan—seolah penderitaan jadi bentuk pembuktian cinta. 

Ini bukan lagi “aku mencintaimu”, tapi “aku rela hancur demi kamu”. Dan di situlah horornya. Charli menggambarkan bagaimana devotion bisa berubah jadi self-destruction tanpa kita sadar.

4. Always Everywhere

Kalau lagu sebelumnya tentang keterikatan fisik dan emosional, yang ini tentang kenangan yang nggak mau pergi. Mantan kekasih di sini terasa seperti hantu—nggak kelihatan, tapi selalu ada.

Setting “hillside shadows”, “wild winds”, dan suara tawa yang “tearing through the rain” bikin lagunya sinematik banget, seolah diambil langsung dari lanskap Inggris yang muram. Si narator merasakan “lightning” di nadinya—cinta itu masih hidup di tubuhnya, walau orangnya sudah pergi. 

Makna lagu always everywhere tentang sosok sang kekasih digambarkan seperti badai: nggak bisa dipegang, tapi dampaknya terasa di mana-mana. Ini lagu tentang dihantui memori, tentang seseorang yang secara fisik hilang tapi emosinya menetap selamanya.

5. Chains of Love

Di sini metaforanya jelas dan pahit: rantai. Makna lagu chains of love bukan pelukan, tapi borgol. Narator merasa seperti “prisoner” yang “can’t breathe” tanpa orang itu—padahal hubungan tersebut jelas “cruel”.

Ada paradoks yang menyakitkan: tahu ini toxic, tapi tetap nggak bisa lepas. Rantainya bukan dipasang orang lain, tapi dipasang sendiri. Lagu ini terasa seperti siklus—putus, balik lagi, sakit, tapi tetap bertahan. 

Mirroring dinamika obsesif dan takdir tragis dari kisah Wuthering Heights, di mana cinta bukan penyelamat, melainkan kutukan yang nggak pernah benar-benar putus.

6. Out of Myself

Di lagu keenam ‘Wuthering Heights’ Charli XCX, cinta bukan lagi tentang dua orang—tapi tentang hilangnya “aku”. Narator digambarkan “begging” di lututnya, bahkan meminta pasangannya untuk “rub the salt in my wounds”. 

Ada sesuatu yang disturbing tapi jujur di situ: dia lebih suka versi dirinya yang dibentuk oleh rasa sakit itu. Seolah penderitaan adalah harga masuk untuk tetap dicintai. 

Baris seperti “put the rope between my teeth” terdengar seperti simbol penyerahan total—submission, kehilangan kontrol, rela diikat demi tetap dekat.

Makna lagu out of myself tentang self-erasure. Tentang momen ketika kamu nggak tahu lagi siapa dirimu tanpa orang itu. Intens, sensual, tapi juga tragis banget.

7. Open Up

Track ‘Wuthering Heights’ Charli XCX ini terasa seperti jeda napas—tapi napas yang aneh, setengah sadar, setengah mimpi. Secara struktur, ini interlude atmosferik dengan repetisi “open up” yang terus berulang. Bukannya menenangkan, repetisinya malah terasa hipnotik, sedikit psychedelic. 

Kayak mantra atau bisikan di lorong kosong. Dalam narasi album, lagu ini seperti jembatan: seakan karakter lagi berdiri di ambang pintu—antara membuka diri atau hancur total.

Pendek, tapi fungsinya penting. Kayak detik sunyi sebelum emosi meledak lagi.

8. Seeing Things

Ini salah satu lagu paling haunting di album. Grief di sini terasa halusinatif. Narator melihat bayangan mantan kekasih di orang asing—di rambut seseorang di kereta, di siluet jaket, di refleksi jendela. 

Dia bahkan mencoba menyentuh wajah yang ternyata cuma pantulan… lalu hilang begitu saja. Ada rasa putus asa yang pelan tapi dalam. Dia terus “staring through the glass”, seolah berharap realitas berubah kalau dia cukup lama menatap. 

Tapi yang dicari sudah jadi “ghost”. Lagu ini menangkap fase duka yang jarang dibahas: ketika otakmu belum siap menerima kehilangan, jadi kamu mulai “melihat” mereka di mana-mana. Sedihnya bukan dramatis—justru sunyi dan sepi banget.

9. Altars

Kalau sebelumnya soal kehilangan orang, “Altars” tentang kehilangan ilusi. Narator “kneels before an altar”, memuja seseorang seperti dewa—“perfect blue”, sosok yang terlalu sempurna untuk nyata. 

Tapi lama-lama dia sadar: iman itu justru membunuhnya. Faith berubah jadi jebakan. Momen “one is not the loneliest number” terasa seperti titik balik. Sendirian ternyata lebih sehat daripada bersama seseorang yang menghancurkanmu.

Lagu di album ‘Wuthering Heights’ Charli XCX ini kayak adegan runtuhnya berhala—ketika kamu akhirnya berhenti memuja dan memilih berdiri. Rasanya pahit, tapi juga pembebasan pertama di album ini.

10. Eyes of the World (feat. Sky Ferreira)

Masuk ke lagu ini, temanya melebar: bukan cuma hubungan personal, tapi tekanan publik.

Duet dengan Sky Ferreira bikin lagunya terasa rapuh sekaligus sinis. Lirik tentang orang-orang yang akan tetap “think the things you think about me anyway” menyiratkan rasa lelah—ngapain berusaha kalau tetap dihakimi?

Metafora “put upon the cross” kuat banget: seperti disalibkan oleh opini dunia. Mereka merasa “frozen in time”, nggak bisa maju karena terus dilihat, dinilai, dibicarakan. 

Di sini Charli seperti ngomong dari perspektif personal juga—tentang hidup sebagai figur publik. Bukan cuma cinta yang mengurung, tapi tatapan orang banyak.

11. My Reminder

Tiba-tiba, emosinya pindah ke ranah keluarga—dan rasanya sama rumitnya. Narator bicara pada seseorang yang tumbuh bersamanya di “same four walls”. 

Ada “blood relation”, ada kedekatan yang nggak bisa diputus, tapi juga “tension” dan kompetisi pahit. Rasanya kayak sibling rivalry yang nggak pernah benar-benar sembuh.

Kalimat “I don’t hate you, I love you too much” itu ngena banget. Cinta keluarga kadang bukan manis—tapi berat, penuh luka lama, dan susah diucapkan. Lagu ini terasa paling manusiawi: nggak gothic atau dramatis, cuma jujur. Dan justru itu yang bikin sakit.

12. Funny Mouth

Sebagai penutup album‘Wuthering Heights’ Charli XCX, lagu ini terasa paling “membumi”.

Bukan lagi obsesi besar atau metafora ekstrem—tapi realita kecil yang pelan menghancurkan hubungan. “Unfunny words” dari “funny mouth”. Kalimat-kalimat sepele, salah paham, obrolan basi. Hal-hal yang kelihatannya remeh tapi lama-lama bikin retak.

Baris “everyone dreams / and everyone breaks up” seperti kesimpulan pahit: cinta bukan tragedi besar ala novel gotik, kadang cuma berakhir karena manusia ya… manusia. Lelah, salah, nggak sempurna. 

Lagu ini menutup album dengan nada reflektif, bukan ledakan—kayak bangun dari mimpi panjang dan sadar semuanya cuma siklus.

‘Wuthering Heights’ Charli XCX Nge-gothic Banget!

makna Lagu di Album Wuthering Heights Charli XCX

Dari “House” sampai “Funny Mouth”, album ‘Wuthering Heights’ Charli XCX ini terasa seperti perjalanan emosional yang lengkap: terjebak, tenggelam, berhalusinasi, runtuh, lalu perlahan menerima. 

Bukan kisah cinta yang indah, tapi kisah cinta yang terasa nyata—liar, messy, dan kadang brutal. Persis vibe dunia Charli XCX di era paling gothic-nya.