Album keempat Joji, Piss In The Wind, resmi rilis pada 6 Februari 2026, sekaligus jadi penanda langkah independen pertamanya di bawah label miliknya sendiri, Palace Creek, yang didistribusikan oleh Virgin Music Group.
Setelah empat tahun sejak SMITHEREENS (2022), Joji akhirnya kembali dengan babak baru yang terasa lebih personal, lebih berani, dan sedikit… chaotic.
Menariknya, perjalanan menuju rilis album ini dibuat seperti permainan rahasia. Lewat situs vault.jojimusic.com, fans diajak memecahkan kode berdasarkan nomor track dan durasi lagu demi membuka potongan snippet—sebuah teaser yang terasa intim sekaligus misterius.
Dengan deretan kolaborator seperti GIVĒON, Yeat, Don Toliver, hingga 4batz, Piss In The Wind terdengar seperti campuran galau, R&B gelap, dan sentuhan alt-hip-hop yang khas Joji.
Dan kalau kamu mau tenggelam sepenuhnya di tiap track tanpa gangguan, dengerinnya paling enak pakai Spotify Premium—mulai 19 ribuan aja. Saatnya menggalau tanpa iklan.
Table of Contents
Daftar Lagu di Album ‘Piss In The Wind’ Joji dan Maknanya
Dari tema cinta jarak jauh, relasi toksik, kehilangan identitas, sampai rasa hampa yang susah dijelasin, 21 track di Piss In The Wind terasa seperti potongan diary yang berantakan tapi jujur banget.
Berikut tracklist + interpretasi maknanya dari lirik dan atmosfer lagunya berdasarkan sudut pandang Lemo Blue:
1. PIXELATED KISSES
Joji membuka album Piss In The Wind dengan rasa rindu yang modern banget—cinta jarak jauh yang hidup lewat layar. “I kiss the pixels, not your skin” jadi metafora pahit soal teknologi yang bikin dekat tapi tetap nggak bisa disentuh. Lagu PIXELATED KISSES terdengar intim tapi kosong.
2. Cigarette
Rokok dijadikan simbol pelarian instan. Seperti “quick hit” buat nenangin diri, tapi habis itu malah makin sesak. Lagu ini bicara tentang kebiasaan self-destructive demi nutupin luka yang lebih dalam.
3. Last of a Dying Breed
Tentang kesendirian yang dipilih. Joji memposisikan diri sebagai orang yang “terbang sendiri”, tanpa pilot, tanpa arah—bebas tapi juga sepi. Sebuah refleksi soal independensi yang terasa sunyi.
4. LOVE YOU LESS
Lagu LOVE YOU LESS tentang relasi yang nggak seimbang. Cuma dicari saat menjauh. Pertanyaan “If I love you less, will you love me more?” terasa pahit—karena kadang kita harus pura-pura dingin dan menjauh biar dihargai.
5. If It Only Gets Better
Minimalis dan pelan, seperti orang yang kehabisan tenaga berharap. Lagu ini ada di antara harapan tipis dan rasa apatis, if it only gets better tentang takut masa depan ternyata nggak lebih baik dari masa lalu.
6. Love Me Better
Soal kerentanan. Joji cuma minta satu hal sederhana: dicintai dengan kadar yang sama. Tapi justru itu yang paling susah didapat.
7. Piece of You (feat. GIVĒON)
Dua suara patah hati bertemu. Mereka sadar mengejar “ghost” dari hubungan lama cuma bikin capek. Kadang melepaskan lebih masuk akal daripada memaksa utuh.
8. Hotel California
Bukan cover, tapi metafora terjebak di kenangan. Cinta datang intens, lalu pergi tiba-tiba, meninggalkan Joji sendirian di tempat yang terasa mewah tapi kosong. Seperti check-in tanpa bisa check-out.
9. Tarmac
Sunyi dan statis. “Tarmac” jadi simbol landasan—menunggu lepas landas tapi nggak pernah benar-benar terbang. Emosi dipendam, rasa sakit ditunda.
10. Forehead Touch the Ground
Obsesi yang halus tapi dalam. Seseorang terus menghantui pikirannya. Judulnya terasa seperti gesture pasrah—kalau kamu balik, aku akan tunduk sepenuhnya.
11. Past Won’t Leave My Bed
Kenangan jadi “hantu” di kamar sendiri. Tempat paling privat malah terasa penuh bayangan mantan. Makna lagu past won’t leave my bed tentang move on terasa mustahil.
12. Fade to Black (feat. 4batz)
Tentang menerima akhir yang nggak dramatis—cuma pelan-pelan menghilang. Bukan ledakan, tapi padam perlahan. Dan itu justru lebih menyakitkan.
13. CAN’T SEE SH*T IN THE CLUB
Setting klub gelap, lampu remang, kepala pusing. Joji merasa melihat sosok mantan di keramaian—atau mungkin cuma ilusi. Tentang pura-pura lupa tapi sebenarnya belum sembuh.
14. Sojourn
Hubungan sementara yang terasa abadi. Joji sadar semuanya fana, tapi tetap berharap semesta mempertemukan mereka lagi di waktu lain.
15. DYKILY (Don’t You Know I Love You?)
Cinta yang terlalu dalam sampai terasa berat. Kalau cuma luka kecil, mungkin gampang sembuh. Tapi ini bukan goresan—ini patah tulang emosional.
16. Rose Colored (feat. Yeat)
Kacamata “rose-colored lenses” bikin semuanya terlihat indah padahal retak. Joji terjebak ilusi, sementara Yeat kabur lewat pesta dan distraksi.
17. Silhouette Man
Merasa seperti bayangan diri sendiri. Kosong, stuck, nggak bergerak maju. Seperti burung yang takut keluar sarang.
18. Fragments (feat. Don Toliver)
Hubungan fisik tanpa emosi. Mereka cuma berbagi potongan, bukan keseluruhan. Nggak ada janji “forever”, cuma serpihan.
19. Horses to Water
Mengacu pepatah klasik: kamu bisa mengantar seseorang ke air, tapi nggak bisa memaksanya minum. Lagu ini bicara tentang capeknya mencoba mengubah orang yang nggak mau berubah.
20. Strange Home
Pulang tapi nggak merasa di rumah. Joji merasa jauh banget dari dirinya yang dulu—seolah identitas lamanya sudah hilang.
21. Dior
Penutup Piss In The Wind yang dramatis dan apokaliptik. Matahari merah darah, dunia runtuh, obsesi memuncak. Bahkan hal mahal atau berharga pun rela dihancurkan demi bisa bertemu orang yang dicintai lagi. Cinta terakhir yang terasa putus asa sekaligus indah.
Piss In The Wind: Saat Patah Hati Terdengar Paling Jujur
Piss In The Wind adalah potongan cerita yang bisa kamu rasakan beda-beda tergantung pengalaman pribadi. Rasanya seperti baca diary orang lain, tapi kok relate banget sama hidup sendiri.
Kalau kamu mau merasakan perjalanan emosinya secara utuh—dari awal sampai akhir tanpa jeda—coba dengarkan full lagu menggunakan Spotify Premium, biar tiap transisi dan atmosfernya nggak kepotong iklan.
Dan kalau kamu suka bahas musik sedalam ini, santai aja, masih banyak cerita, interpretasi, dan rekomendasi rilisan baru lain yang bisa kamu jelajahi bareng kami di Lemo Blue.

