This Is I adalah salah sebuah drama biografi yang terasa begitu personal, rapuh, sekaligus berani. Disutradarai Yusaku Matsumoto dan tayang di Netflix Japan mulai 10 Februari 2026.
Film ini mengangkat kisah nyata Haruna Ai, ikon transgender Jepang, yang hidupnya dipenuhi penolakan, kekerasan, tapi juga mimpi yang tak pernah padam.
Sinopsis film This Is I mengikuti perjalanan Kenji Onishi (Haruki Mochizuki)—seorang anak laki-laki yang ingin jadi idol tapi justru tumbuh di tengah bullying, stigma, dan kesepian.
Film ini perlahan berubah menjadi potret tentang identitas, penerimaan diri, dan perjuangan untuk tetap hidup sebagai “diri sendiri”.
Dari gemerlap kabaret bawah tanah Osaka sampai ruang operasi yang penuh risiko bersama Dr. Koji Wada (Takumi Saitoh), This Is I bukan cuma cerita transisi gender, tapi tentang keberanian memilih bahagia di dunia yang terus bilang kamu salah.
Table of Contents
Penjelasan Ending This Is I: Tentang Kehilangan, Warisan, dan Cahaya yang Akhirnya Menyala

Ending film This Is I memperlihatkan sosok Dr. Koji Wada yang selama ini jadi penyelamat sekaligus figur ayah bagi Ai makin rapuh. Tekanan hukum, stigma medis, dan rasa bersalah karena seorang pasien meninggal di meja operasi menghantuinya tanpa jeda.
Ia bukan lagi dokter pemberani yang melawan sistem, tapi manusia lelah yang kesepian dengan insomnia parah.
Dalam keputusasaan, ia mulai memakai anestesi hanya untuk bisa tidur—ironi yang menyakitkan, karena alat yang biasa ia pakai untuk “menyelamatkan” orang lain justru perlahan membawanya pada kematian.
Setelah Kematian Dr. Wada
Film memperlakukan kepergiannya sebagai overdosis tak sengaja, tapi jelas terasa ada beban mental yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Wada digambarkan sebagai pionir di negara yang bahkan belum siap menerima operasi afirmasi gender.
Ia seperti berperang tanpa perlindungan hukum. Kematian ini bukan sekadar tragedi personal—tapi juga kritik sunyi tentang bagaimana sistem sering membiarkan orang-orang paling berani berjuang sendirian.
Buat Ai, kehilangan itu terasa seperti dunia runtuh lagi—untuk kesekian kalinya. Tapi justru di titik paling gelap itu, film memberi ruang untuk sesuatu yang lebih hangat: harapan.
Ai Melanjutkan Hidup
Dengan membawa ingatan tentang keyakinan Wada padanya, Ai memilih tetap berjalan. Ia pindah ke Tokyo, hidup sederhana sebagai bartender, jauh dari glamor yang dulu ia impikan. Namun panggung selalu menemukan jalannya sendiri.
Bakat lip-sync, karisma, dan caranya “hidup” saat tampil akhirnya dilihat seorang produser. Pelan-pelan, mimpi masa kecil Kenji—menjadi idol, menjadi bintang—akhirnya terasa nyata.
Momen puncaknya datang saat Ai mengikuti Miss International Queen 2009 di Thailand. Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang pertama dari Jepang, rasanya bukan cuma kemenangan pribadi, tapi kemenangan untuk semua versi dirinya yang dulu ditolak dunia.
Makna Ending dan Credit Scene
Film menutup semuanya dengan adegan yang lembut sekaligus menghancurkan: Ai mengunjungi makam Dr. Wada.
Tak ada dialog dramatis. Hanya Ai, beberapa rekan kabaret lamanya, dan satu pertunjukan terakhir—seolah panggung itu khusus dibuat untuknya. Ia menari dan bersinar tepat di depan nisan sang dokter, menepati janji sederhana yang dulu ia ucapkan: untuk “bersinar terang”.
Di credit scene, rekaman nyata Haruna Ai saat benar-benar dinobatkan sebagai pemenang ditampilkan, diikuti teks penghormatan untuk Dr. Wada yang telah melakukan lebih dari 600 operasi afirmasi gender sepanjang hidupnya.
Rasanya seperti jembatan antara film dan dunia nyata—mengingatkan kita kalau kisah ini bukan fiksi, tapi kehidupan sungguhan.
Ending This Is I memang tidak menawarkan akhir yang sempurna. Tapi menurut sudut pandang Lemo Blue, tidak semua luka sembuh, tidak semua kehilangan tergantikan.
Dan Ai akhirnya sampai di titik di mana identitas, mimpi, dan keberaniannya selaras. Dan mungkin, itu sudah cukup.
Menjadi Diri Sendiri Adalah Perjuangan Terbesar
This Is I adalah cerita tentang bertahan hidup di dunia yang terus bilang kamu “salah”, tentang kehilangan orang-orang yang paling percaya padamu, tapi tetap memilih berdiri dan melangkah maju.
Lewat luka, panggung kabaret, ruang operasi, sampai mahkota kemenangan, perjalanan Ai terasa seperti pengingat pelan bahwa identitas bukan sesuatu yang harus disembunyikan—melainkan diperjuangkan, meski harganya mahal.
Kalau kamu menikmati ulasan dan rekomendasi film yang viral, jadul, box office, sampai hidden gem dengan sudut pandang personal khas Lemo Blue,lanjut eksplor lebih banyak berita film dan series lainnya bareng kami.

