Sinopsis The Follies

The Follies (2025): Karena Wanita Ingin Dimengerti!

The Follies tentang cerita perempuan dengan emosi yang meletup-letup dan nuansa arthouse yang nempel di kepala. Dari sini, kita diajak menyelinap ke dunia penuh kegelisahan, keputusan nekat, dan momen-momen yang bikin dada ikut sesak. 

Film Meksiko garapan Rodrigo García ini bukan tipe tontonan yang dikejar-kejar hiburan ringan—justru terasa seperti kamu sedang membaca diary rahasia enam perempuan yang hidupnya saling bersinggungan. 

Dirilis di Netflix dengan judul Las locuras dalam versi Spanyolnya, The Follies pelan-pelan membuka tabir perasaan yang sering kali dianggap berlebihan, padahal justru paling jujur.

Sinopsis The Follies

The Follies netflix sinopsis

The Follies merangkai enam kisah perempuan yang selalu dicap “meledak-ledak”, padahal alasan di balik luka mereka sengaja diabaikan. Ceritanya berputar pada Renata, perempuan cerdas yang hidupnya dibatasi gelang rumah tahanan. 

Ayahnya percaya Renata sedang mengalami episode terburuk dari kondisi yang disebut bipolar, tapi Renata merasa ada sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekadar label itu.

Renata – pusat pusaran yang mengikat semuanya

Renata hidup dengan kepala yang terus siaga. Ia melihat ketidakadilan terlalu jelas, terlalu dekat, sampai emosinya dianggap ancaman. Di balik keterkurungannya, kisah-kisah lain perlahan menempel, menciptakan mozaik pengalaman perempuan yang sama-sama berada di titik genting.

Penelope – krisis setelah “mengakhiri” hidup lain

Penelope, dokter hewan spesialis euthanasia, tumbang setelah menidurkan seekor anjing yang namanya sama dengannya. Ketakutannya muncul diam-diam: bagaimana kalau hidupnya berakhir seenteng itu, tanpa kendali sedikit pun?

Miranda – dorongan yang mengaburkan segalanya

Miranda sibuk mengejar hubungan rahasianya dengan istri bos Renata. Hasratnya menuntun langkah, sampai ia sengaja menutup mata pada hal penting—perampokan yang ia saksikan, bahkan ibunya yang butuh perhatian.

Irlanda – luka lama yang dipaksa diam

Irlanda, psikiater Renata, masih membawa bekas penyiksaan sebelas tahun oleh sang mantan suami. Saat kumpul keluarga, luka itu kembali menganga karena ibunya tetap menolak mengakui bahwa putrinya pernah disakiti.

Soledad – tubuh yang selalu dipertaruhkan

Soledad, adik Renata, seorang aktor yang terseret situasi tak nyaman di kelas teater-dansa. Sentuhan partner laki-lakinya terasa melewati batas, mengingatkannya pada ketakutan harian: tubuhnya bisa kapan saja diambil tanpa persetujuan.

Serena – pembeli rumah yang tanpa sadar masuk ke badai

Serena datang dengan niat sederhana, membeli rumah tua keluarga Renata. Tanpa ia sadari, rumah itu menyimpan gelombang emosi yang jauh lebih besar daripada transaksi yang ingin ia tutup.

The Follies menelusuri bagaimana perempuan sering dinilai “emosional” tanpa memahami konteks, padahal yang mereka bawa adalah pengalaman hidup yang penuh tekanan, ketidakadilan, dan upaya bertahan di dunia yang menuntut mereka tetap tenang.

Baca Juga, Yah! Train Dreams (2025): Hidup Belum Berakhir Saat Rumahmu Kebakaran!

Penjelasan Ending The Follies (Spoiler!)

Penjelasan Ending The Follies (Spoiler!)

Di bagian ini, kita diajak mundur sedikit, melihat potongan-potongan yang akhirnya menjelaskan kenapa hidup Renata berubah drastis dan bagaimana semuanya pecah di akhir.

Kenapa Renata Bisa Berakhir dalam House Arrest

Renata akhirnya dipasangkan gelang rumah tahanan karena sebuah aksi besar yang ia lakukan di supermarket. Ia tidak tahan melihat seorang perempuan berkulit gelap dituduh mencuri, dihina dengan kata-kata rasis, bahkan dipermalukan di depan anaknya. 

Saat situasi makin brutal, Renata merasa dunia sedang diam pada ketidakadilan yang terlalu telanjang di depan mata.

Aksi Besar di Supermarket

Amarah Renata memuncak saat pegawai supermarket melecehkan perempuan itu sampai menyarankan pemeriksaan tubuh di depan umum. Renata lalu membuat kekacauan terukur—melempar barang, menuang minuman keras, dan menyalakan api di lorong minuman. 

Ia melakukannya untuk menciptakan kesempatan bagi ibu dan anak itu melarikan diri. Renata melihat tindakannya sebagai bentuk perlawanan, bukan kekeliruan. 

Menurutnya, struktur sosial manusia menguntungkan mereka yang berada di atas, dan ia tak ingin ikut diam.

Drama Jual-Beli Rumah dan Ketakutan Serena

Saat Serena datang untuk menawar rumah keluarga Ismael, Renata langsung mengenalinya dari dunia kerja lama. Keahliannya dalam negosiasi membuat harga melonjak lebih tinggi dari harapan ayahnya. 

Semuanya berjalan mulus sampai Serena melihat gelang di kaki Renata. Percakapan Renata tentang kelas sosial dan kekuasaan membuat Serena gelisah. 

Ia sadar hidupnya selama ini aman di zona nyaman, dan aura Renata terasa seperti badai yang tak bisa ia pahami. Serena pun mundur dari transaksi.

Pelarian Renata — Menolak Dikurung dalam Label “Histeris”

Akhir The Follies menunjukkan Renata kabur ketika pintu rumah tak sengaja terbuka. Ismael memanggil-manggil, tapi Renata sudah menentukan langkahnya. Ia tak tertarik pada obat yang terus dipaksakan padanya. 

Ia ingin mencari ruang di mana emosinya tidak dianggap gangguan. Kepergiannya terasa seperti seruan sunyi: mencari tempat yang tidak menyakiti, tempat di mana pikirannya tidak disalahpahami, tempat di mana ia boleh merasa besar tanpa dicap histeris.

Baca Juga, Yah! The Son of a Thousand Men (2025): Keluarga Ketemu di Pasar

Review The Follies — Worth It atau Skip?

Review The Follies — Worth It atau Skip?

The Follies menawarkan pengalaman yang kuat buat penonton yang suka drama intens bernuansa arthouse. 

Skor 7/10 terasa pas, karena film ini bekerja lewat detail kecil: ekspresi yang ditahan, tatapan yang meledakkan makna, dan cerita yang perlahan naik menuju ledakan emosional.

Hal yang Bikin Worth It

Aktor-aktornya jadi nyawa utama film ini. Kamera dibiarkan merekam pergeseran emosi sampai penonton ikut terseret masuk ke dalam masing-masing kisah. 

Setiap cerita disusun rapi hingga bertemu di titik klimaks yang terasa seperti luapan napas panjang setelah lama ditahan. Film ini matang secara artistik, penuh lapisan yang mengajak kamu merenungkan pengalaman perempuan hari ini tanpa ceramah atau penghakiman.

Hal yang Mungkin Bikin Skip

Ritme film bergerak seperti pertunjukan teater kecil—perlahan, intim, dan kadang memanjang. Buat kamu yang butuh pace cepat, bagian dialog tertentu mungkin terasa terlalu panjang. 

Struktur ceritanya kadang terlihat sangat panggung, dan tokoh-tokoh pria digambarkan serupa pola tertentu, sehingga tidak menawarkan banyak variasi.

Kalau Menurut Lemo Blue Sih… 

The Follies cocok buat kamu yang mencari drama emosional yang digarap halus, bukan sekadar hiburan santai. 

Kalau kamu menikmati cerita yang menguliti perasaan manusia lewat sudut pandang perempuan yang sedang berada di tepi jurang, film ini layak ada di watchlist kamu. 

Jika kamu lebih nyaman dengan film ritme cepat, mungkin perlu suasana hati yang tepat sebelum menontonnya.

Daftar Pemain The Follies

Yuk kenalan juga sama  siapa saja wajah yang menghidupkan emosi di The Follies, satu per satu dengan perannya yang saling terhubung.

  • Cassandra Ciangherotti sebagai Renata — perempuan yang hidupnya dibatasi house arrest.
  • Naian González Norvind sebagai Penelope — dokter hewan yang terseret krisis eksistensi.
  • Ilse Salas sebagai Miranda — perempuan yang terjebak dalam hubungan terlarang.
  • Ángeles Cruz sebagai Irlanda — psikiater Renata yang memikul trauma panjang.
  • Natalia Solián sebagai Soledad — adik Renata yang berkutat dengan batas tubuhnya di dunia teater.
  • Fernanda Castillo sebagai Serena — pebisnis yang ingin membeli rumah keluarga Renata.
  • Alfredo Castro sebagai Ismael — ayah Renata yang berusaha menahan semuanya tetap utuh.
  • Adriana Barraza sebagai Ibu Miranda — perempuan yang baru menjalani operasi katarak.
  • Raúl Briones sebagai Aurelio — rekan kerja sekaligus ketertarikan Penelope.

Emosi yang Dibiarkan Bicara

The Follies menutup perjalanannya sebagai potret perempuan yang lelah disalahpahami. Setiap kisah membawa kamu melihat bagaimana tekanan yang menumpuk akhirnya meledak, dan bagaimana setiap karakter berusaha bertahan dengan cara mereka sendiri. 

Renata dan para perempuan lain di dalamnya menunjukkan bahwa emosi besar bukanlah kelemahan—itu sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu didengar, bukan dibungkam.

Buat kamu yang suka menggali cerita dengan lapisan emosi dan sudut pandang unik, film ini bisa jadi pengalaman yang nempel lama. Kalau kamu ingin terus ikutin berita film dan series dengan vibe santai ala Lemo Blue.