lokasi ssyuting film lasakra pelangi

5 Tempat di Dunia yang Mendunia Berkat Film, dari Hobbiton hingga Belitung

Pernah nggak kamu menonton sebuah film, lalu tiba-tiba ingin mengunjungi tempat yang ada di dalamnya?

Film memang punya kekuatan yang lebih besar daripada sekadar menghibur. Sebuah pemandangan yang muncul hanya beberapa detik di layar bisa membuat penonton penasaran. Sebuah kota yang sebelumnya terasa biasa saja bisa berubah menjadi destinasi impian setelah menjadi latar sebuah cerita.

Tidak sedikit tempat di dunia yang kemudian semakin dikenal karena film yang mengambil gambar di sana. Bahkan, beberapa di antaranya kini menjadi tujuan wisata khusus bagi para penggemar film.

Menariknya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Hollywood. Indonesia juga punya salah satu contohnya. Belitung, misalnya, semakin dikenal luas setelah keindahan alamnya muncul dalam film Laskar Pelangi. Film yang mendongkrak kunjungan wisata belitung yang kemudian di kenal sebagai negri laskar pelangi

Berikut lima tempat di dunia yang namanya semakin lekat dengan film yang pernah menjadikannya sebagai lokasi syuting.

1. Hobbiton, Selandia Baru – The Lord of the Rings

Hobbiton.jpg

Kalau mendengar kata Hobbiton, penggemar The Lord of the Rings mungkin langsung membayangkan rumah-rumah kecil dengan pintu bundar, bukit hijau, taman yang tertata rapi, dan suasana pedesaan yang tenang.

Hobbiton sebenarnya bukan sebuah desa sungguhan dari dunia fantasi. Tempat ini merupakan lokasi syuting yang dibangun untuk menggambarkan Hobbiton di wilayah Shire dalam trilogi The Lord of the Rings karya Peter Jackson.

Lokasinya berada di dekat Matamata, Waikato, Selandia Baru. Setelah proses produksi film selesai, lokasi tersebut tidak begitu saja menghilang. Hobbiton kemudian dipertahankan dan dikembangkan menjadi destinasi yang dapat dikunjungi penggemar.

Inilah salah satu contoh bagaimana dunia fiksi dari sebuah film dapat berubah menjadi pengalaman wisata di dunia nyata.

Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat pemandangan hijau, tetapi juga untuk merasakan seolah-olah sedang berjalan memasuki dunia yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui layar.

Hobbiton akhirnya menjadi lebih dari sekadar lokasi syuting. Ia menjadi bagian dari identitas pariwisata Selandia Baru dan salah satu tempat yang dicari oleh penggemar Tolkien dari berbagai negara.

2. Dubrovnik, Kroasia – Game of Thrones

Sebelum Game of Thrones menjadi fenomena global, Dubrovnik sebenarnya sudah memiliki sejarah panjang sebagai kota tua di pesisir Laut Adriatik.

Namun, bagi banyak penonton modern, Dubrovnik memiliki identitas lain: King’s Landing.

Kota tua Dubrovnik digunakan sebagai salah satu lokasi penting untuk menggambarkan King’s Landing dalam serial Game of Thrones. Dinding kota, jalan-jalan batu, benteng, dan lanskap pesisirnya memberikan tampilan yang sangat cocok dengan dunia Westeros.

Setelah serial tersebut semakin populer, wisata berbasis lokasi syuting ikut berkembang. Penggemar datang untuk melihat tempat-tempat yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui adegan di layar.

Ada pengalaman unik ketika sebuah lokasi nyata tiba-tiba memiliki dua identitas di kepala penonton: Dubrovnik sebagai kota bersejarah dan Dubrovnik sebagai King’s Landing.

Film dan serial televisi dalam kasus ini bukan menciptakan kota tersebut, tetapi memberikan cara baru bagi dunia untuk melihatnya.

game of thrones.png

3. Petra, Yordania – Indiana Jones and the Last Crusade

Petra merupakan salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia. Kota kuno yang dipahat pada batu ini sudah memiliki nilai sejarah yang luar biasa jauh sebelum kamera film datang ke sana.

Tetapi bagi sebagian penonton, Petra mungkin pertama kali terasa familiar ketika melihat film Indiana Jones and the Last Crusade.

Dalam film tersebut, bagian depan Al-Khazneh atau The Treasury digunakan sebagai lokasi yang menggambarkan kuil tempat Indiana Jones mencari Holy Grail.

Menariknya, pengalaman melihat Petra secara langsung tentu berbeda dengan apa yang terlihat di film. Kamera hanya menunjukkan bagian tertentu dari sebuah tempat yang sebenarnya jauh lebih luas.

Justru di situlah daya tarik film sebagai pintu masuk menuju perjalanan. Sebuah adegan dapat menimbulkan pertanyaan sederhana:

“Tempat itu sebenarnya ada di mana?”

Dari pertanyaan tersebut, penonton kemudian mencari informasi, melihat foto, membaca sejarahnya, hingga akhirnya memasukkannya ke dalam daftar destinasi yang ingin dikunjungi.

Petra membuktikan bahwa film dapat memperkenalkan sebuah tempat bersejarah kepada generasi penonton yang mungkin sebelumnya tidak terlalu mengenalnya.

Indiana Jones.png

4. Notting Hill, London – Notting Hill

Tidak semua lokasi film harus berupa tempat eksotis atau pemandangan spektakuler.

Kadang-kadang sebuah kawasan perkotaan biasa justru menjadi ikonik karena cerita yang berlangsung di dalamnya.

Salah satunya adalah Notting Hill di London.

Film Notting Hill yang dibintangi Hugh Grant dan Julia Roberts menggunakan berbagai lokasi di London, termasuk kawasan Notting Hill. Beberapa lokasi yang muncul dalam film kemudian menjadi tempat yang dicari penggemar, seperti Portobello Road dan area sekitar tempat tinggal karakter William Thacker.

Yang menarik dari Notting Hill adalah bagaimana film tersebut tidak membutuhkan dunia fantasi untuk membuat sebuah tempat terlihat menarik.

Jalan, toko, rumah, taman, dan suasana lingkungan sehari-hari menjadi bagian dari cerita.

Setelah film menjadi populer, tempat-tempat tersebut memiliki lapisan cerita tambahan bagi penonton.

Bagi orang lain, mungkin hanya sebuah jalan di London.

Namun bagi penggemar film, tempat tersebut bisa menjadi pengingat terhadap karakter, dialog, atau adegan yang mereka sukai.

Notting Hill.png

5. Belitung, Indonesia – Laskar Pelangi

Dari Hobbiton, Dubrovnik, Petra, hingga London, kita akhirnya sampai pada contoh yang tidak kalah menarik dari Indonesia: Belitung.

Nama Belitung memang sudah ada jauh sebelum film Laskar Pelangi. Pulau ini memiliki pantai dengan pasir putih, laut jernih, serta formasi batu granit besar yang menjadi ciri khas lanskapnya.

Namun, film Laskar Pelangi membuat pemandangan Belitung semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata tersebut menampilkan berbagai lanskap Belitung, termasuk kawasan Pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini kemudian semakin identik dengan Laskar Pelangi, terutama karena adegan anak-anak yang bermain di antara batu-batu granit besar di tepi laut.

Di sinilah hubungan antara film dan pariwisata terasa sangat jelas.

Penonton tidak hanya mengingat ceritanya, tetapi juga mengingat tempat di mana cerita tersebut berlangsung.

Bagi sebagian orang, Belitung mungkin pertama kali muncul di benak ketika mengingat Laskar Pelangi. Sebaliknya, ketika melihat foto Pantai Tanjung Tinggi dengan batu granitnya, banyak orang langsung menghubungkannya dengan film tersebut.

Keindahan alam yang sudah ada kemudian memperoleh cerita baru melalui layar lebar.

Laskar Pelangi - Copy.png

Dari Laskar Pelangi ke perjalanan nyata

Ada sesuatu yang menarik dari lokasi syuting seperti Belitung.

Ketika sebuah film membuat kita mengenal suatu tempat, rasa penasaran yang muncul biasanya tidak berhenti pada layar.

Kita mulai mencari:

“Di mana lokasi pantai itu?”

“Apakah tempatnya benar-benar seperti di film?”

“Apakah saya bisa datang ke sana?”

Untuk Belitung, jawabannya adalah bisa.

Pantai Tanjung Tinggi yang menjadi salah satu lokasi yang lekat dengan Laskar Pelangi memang bisa dikunjungi. Selain pantai tersebut, wisatawan juga dapat menjelajahi berbagai pulau dan destinasi lain di Belitung.

Bagi penggemar film, perjalanan seperti ini bahkan memiliki pengalaman yang berbeda. Kita tidak sekadar mengunjungi sebuah pantai, tetapi datang ke tempat yang sebelumnya sudah memiliki memori visual dari film yang pernah ditonton.

Jika ingin menjelajahi lokasi-lokasi tersebut dan berbagai destinasi lain di pulau ini, informasi mengenai wisata Belitung dan pilihan perjalanan dapat ditemukan melalui Billitone Capture.

Ketika Film Mengubah Cara Kita Melihat Sebuah Tempat

Lima tempat tadi memiliki cerita yang berbeda.

Hobbiton lahir dari dunia fantasi dan kemudian menjadi destinasi nyata.

Dubrovnik mendapatkan identitas baru sebagai King’s Landing.

Petra memperkenalkan sisi lain dari kota kuno yang sudah berusia ribuan tahun.

Notting Hill membuat sudut-sudut kota London terasa romantis bagi penonton film.

Sementara Belitung memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kisah Laskar Pelangi.

Kesamaannya adalah satu hal: film membuat kita melihat sebuah tempat dengan cara yang berbeda.

Sebelum menonton sebuah film, sebuah lokasi mungkin hanya terlihat sebagai titik di peta. Tetapi setelah menjadi bagian dari cerita, tempat tersebut dapat memiliki karakter, emosi, dan kenangan tersendiri.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa film dan perjalanan memiliki hubungan yang begitu menarik.

Film membuat kita ingin bermimpi.

Dan terkadang, perjalanan membuat kita ingin melihat sendiri tempat yang sebelumnya hanya pernah kita lihat melalui layar.