Genre romcom atau romantic comedy adalah kisah cinta yang manis, tapi juga tentang momen canggung, salah paham konyol, dialog receh tapi ngena, sampai perjuangan dua orang yang akhirnya sadar kalau mereka memang ditakdirkan bersama.
Makanya nggak heran kalau genre ini selalu jadi comfort watch banyak orang. Nah, di artikel ini Lemo Blue mau kasih rekomendasi film romcom yang wajib banget kamu tonton, lengkap dengan alasan kenapa film-film ini terasa spesial dan nggak gampang dilupakan.
Table of Contents
Rekomendasi Film Romcom yang Wajib Ditonton Sekali Seumur Hidup
Beberapa film romcom bahkan tetap terasa relevan meski sudah puluhan tahun berlalu. Chemistry-nya masih dapet, humornya masih kena, dan kisah cintanya tetap bikin penonton berharap hal-hal manis kayak di film bisa kejadian di dunia nyata.
1. Notting Hill (1999)
Kalau ada film yang berhasil jadi definisi “comfort romcom”, jawabannya mungkin Notting Hill. Film ini membawa fantasi yang diam-diam pernah dibayangin banyak orang: gimana kalau orang biasa tiba-tiba jatuh cinta sama artis paling terkenal di dunia?
Yang bikin film ini masih dicintai sampai sekarang adalah chemistry antara Hugh Grant dan Julia Roberts yang terasa natural banget.
Ditambah lagi vibe London tahun 90-an yang aesthetic dan hangat bikin film ini terasa kayak pelukan kecil buat penontonnya. Dialog-dialognya juga penuh humor receh khas British yang nggak berlebihan tapi ngena.
2. 10 Things I Hate About You (1999)
Film ini adalah teen romcom. Anak sekolah, cowok bad boy, cewek jutek, dan drama percintaan remaja. Tapi semakin ditonton, semakin terasa kalau 10 Things I Hate About You jauh lebih pintar dari kelihatannya.
Film ini sebenarnya adaptasi modern dari karya William Shakespeare berjudul The Taming of the Shrew, tapi dikemas dengan gaya anak muda era 90-an yang fun banget.
Yang bikin film ini spesial adalah cara humornya jalan beriringan sama emosinya. Kamu bisa ketawa karena dialog sarkastik Kat, lalu beberapa menit kemudian malah diam karena adegan emosionalnya terasa tulus banget.
3. People We Meet on Vacation (2026)
Buat yang capek sama kisah cinta instan dan lebih suka hubungan yang tumbuh pelan-pelan, film ini kemungkinan bakal jadi romcom favorit baru kamu.
Adaptasi dari novel populer karya Emily Henry ini terasa seperti pengingat kalau cinta kadang bukan datang dari orang baru, tapi dari seseorang yang sudah lama ada di hidup kita.
Lemo Blue merasa film ini bakal relate banget buat Gen Z yang sering bingung membedakan antara cinta, kenyamanan, dan takut sendirian.
People We Meet on Vacation seperti bilang kalau cinta nggak harus selalu meledak-ledak. Kadang cinta datang pelan, tumbuh dari obrolan random, perjalanan jauh, dan seseorang yang selalu ada bahkan saat hidup lagi berantakan.
4. Flipped (2010)
Flipped adalah tipe film yang kelihatannya sederhana, tapi setelah selesai malah bikin hati kosong kecil karena ceritanya terlalu manis buat dilupakan. Film ini punya vibe nostalgia yang hangat, seperti mengingat masa kecil dan cinta pertama yang polos banget.
Yang membuat Flipped berbeda dari romcom lain adalah cara film ini membahas karakter dan cara memandang orang lain.
Film ini ngajarin kalau jatuh cinta bukan cuma soal penampilan atau popularitas, tapi tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, keluarganya, dan dunia di sekitarnya.
Visual suburban Amerika tahun 50-an yang hangat juga bikin film ini terasa nyaman banget ditonton malam-malam. Dan seperti banyak film coming-of-age terbaik lainnya, Flipped berhasil membuat hal sederhana terasa sangat emosional.
5. It Ends with Us (2024)
It Ends With Us sebenarnya lebih dekat ke emotional romance drama yang bikin dada sesak. Film adaptasi novel populer karya Colleen Hoover ini bukan tipe tontonan manis yang penuh kupu-kupu di perut, tapi lebih ke cerita tentang cinta yang rumit.
Visual filmnya punya nuansa hangat ala musim gugur menuju musim dingin yang cozy banget, kontras dengan isi ceritanya yang emosional. Justru perpaduan itu yang bikin pengalaman menontonnya terasa unik, seperti melihat sesuatu yang indah tapi perlahan retak di depan mata.
Lemo Blue merasa film ini penting ditonton bukan karena kisah cintanya sempurna, tapi karena film ini berani menunjukkan bahwa mencintai seseorang kadang tidak cukup untuk membuat hubungan tetap sehat.
6. Eat Drink Man Woman (1994)
Kalau biasanya romcom fokus pada pasangan utama, Eat Drink Man Woman justru menggunakan makanan sebagai cara untuk membicarakan cinta, keluarga, dan hubungan antarmanusia. Film karya sutradara Ang Lee ini hangat, tapi diam-diam emosional banget.
Yang membuat film ini spesial adalah cara makanan dijadikan “bahasa cinta”. Setiap hidangan terasa seperti bentuk perhatian yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Dari proses memasaknya saja, film ini sudah berhasil bikin lapar sekaligus sentimental.
Di balik semua adegan makan yang indah, film ini membahas benturan generasi, tradisi lama versus kehidupan modern, sampai bagaimana keluarga tetap saling terhubung meski sering gagal memahami satu sama lain.
7. Materialists (2025)
Materialists terasa seperti romcom modern untuk orang-orang yang sudah capek dengan konsep “cinta sempurna”. Film ini mencoba mempertanyakan sesuatu yang sekarang sering banget muncul di dunia dating modern: apakah cinta bisa dihitung seperti algoritma?
Alih-alih menawarkan kisah cinta ala dongeng, Materialists justru terasa dewasa dan agak pahit. Film ini memahami kalau hubungan modern sering kali dipenuhi checklist, standar hidup, validasi sosial, dan rasa takut memilih orang yang salah.
Lemo Blue suka bagaimana film ini nggak buru-buru menghakimi karakternya. Semua orang terlihat flawed, bingung, dan berusaha mencari jawaban terbaik untuk dirinya sendiri. Dan mungkin itu yang membuat ceritanya terasa dekat dengan realita sekarang.
8. The Drama (2026)
Kalau kamu suka romcom yang lebih absurd, gelap, dan bermain di area abu-abu moral, The Drama mungkin bakal jadi salah satu film paling menarik untuk ditunggu.
Tone filmnya campuran antara dark comedy, relationship drama, dan satire sosial tentang image couple goals di era modern. Sangat cocok buat yang suka cerita relationship toxic tapi tetap dibungkus dengan humor awkward dan dialog tajam.
Lemo Blue merasa The Drama bakal jadi tipe film yang memecah penonton jadi dua kubu: yang merasa ini terlalu kacau, dan yang justru menganggapnya sangat relate dengan hubungan modern sekarang.
9. Bangkok Traffic (Love) Story (2009)
Buat yang pernah merasa hidup cuma muter antara kerja, macet, pulang, lalu tidur, film ini bakal terasa sangat dekat. Bangkok Traffic (Love) Story adalah romcom Thailand yang relatable banget untuk orang-orang yang mulai merasa “kok semua orang udah nikah duluan ya?”
Yang bikin film ini lovable adalah bagaimana ceritanya menangkap kesepian urban dengan cara yang ringan dan hangat.
Ada rasa capek hidup di kota besar, tekanan sosial soal pernikahan, dan rasa takut tertinggal dari orang lain. Tapi semuanya dibungkus dengan humor khas Thailand yang absurd tapi natural banget.
Lead character-nya juga punya energi chaotic yang bikin film ini terasa hidup. Kamu bakal ketawa, malu sendiri, lalu diam-diam merasa, “anjir ini gue banget.”
10. Crazy Little Thing Called Love (2010)
Kalau ngomongin film first love terbaik dari Thailand, Crazy Little Thing Called Love hampir selalu masuk daftar teratas. Film ini punya formula sederhana: cewek biasa suka cowok populer di sekolah.
Tapi eksekusinya berhasil bikin cerita itu terasa tulus dan membekas sampai bertahun-tahun kemudian. Dan jujur, siapa pun yang pernah punya cinta pertama pasti bakal relate.
Perjalanan “glow-up” Nam terasa touching banget karena perubahan itu datang dari rasa insecure yang sangat manusiawi. Ditambah lagi humornya ringan, chemistry-nya manis, dan nuansa nostalgia masa sekolahnya bikin hati hangat sekaligus nyesek kecil.
Film ini seperti kapsul waktu yang mengingatkan kalau cinta pertama memang sering kali polos, memalukan, tapi sulit dilupakan.
11. Sense and Sensibility (1995)
Buat yang suka romance klasik dengan dialog elegan dan emosi yang pelan tapi menghantam, Sense and Sensibility wajib banget ditonton.
Adaptasi novel karya Jane Austen ini sering dianggap sebagai salah satu film romance terbaik sepanjang masa karena berhasil menyeimbangkan humor, kritik sosial, dan kisah cinta yang sangat emosional.
Meski setting-nya era Inggris lama dengan gaun dan tata krama bangsawan, emosinya tetap terasa relevan sampai sekarang. Tentang patah hati, harapan, gengsi, dan bagaimana seseorang mencoba tetap kuat saat cintanya tidak berjalan sesuai harapan.
Ini tipe film yang tidak banyak teriak, tapi diam-diam menghancurkan hati penontonnya dengan cara yang elegan.
12. The Half of It (2020)
The Half of It bukan romcom remaja biasa. Film original Netflix ini terasa lebih tenang, lebih personal, dan jauh lebih emosional dibanding premisnya yang terlihat sederhana.
Yang bikin film ini berbeda adalah caranya membongkar trope romcom klasik. Alih-alih fokus pada “siapa jadian sama siapa”, film ini lebih tertarik membahas bagaimana seseorang belajar memahami dirinya sendiri dan orang lain.
Hubungan antar karakternya juga terasa tulus banget. Ada chemistry, tapi juga ada persahabatan dan koneksi emosional yang jauh lebih dalam dari sekadar cinta romantis.
Lemo Blue suka bagaimana The Half of It terasa lembut tanpa jadi membosankan. Film ini seperti surat kecil untuk siapa saja yang pernah merasa tidak cukup, tidak dipahami, atau kesulitan menemukan tempatnya sendiri di dunia.
13. The Kissing Booth (2018)
The Kissing Booth adalah romcom yang susah buat dilewatkan. Film ini jadi salah satu teen romcom Netflix yang sempat meledak banget karena berhasil membawa vibe cinta remaja yang manis sekaligus bikin gemas sendiri.
Ceritanya mengikuti Elle Evans, cewek ceria yang hidupnya berubah total setelah booth ciuman di festival sekolah mempertemukannya dengan Noah Flynn — cowok paling populer sekaligus kakak dari sahabatnya sendiri, Lee Flynn.
Masalahnya, hubungan itu sebenarnya “terlarang” karena melanggar aturan persahabatan Elle dan Lee yang sudah mereka buat sejak kecil. Dari situ, filmnya dipenuhi drama rahasia, rasa cemburu, awkward moments, dan semua kekacauan khas jatuh cinta pertama.
14. The Kissing Booth 2 (2020)
Sekuel keduanya mulai membawa cerita ke arah yang sedikit lebih dewasa. Elle sekarang harus menjalani hubungan LDR dengan Noah yang sudah kuliah di Harvard.
Di saat yang sama, persahabatannya dengan Lee mulai terasa berubah, sementara hadir juga sosok baru yang perlahan membuat Elle bingung dengan perasaannya sendiri.
Film ini cukup relate buat yang pernah ada di fase hidup ketika semuanya mulai berubah pelan-pelan. Teman dekat mulai punya kehidupan masing-masing, hubungan jadi lebih rumit, dan masa depan mulai terasa menakutkan.
Meski tetap dibalut dengan tone teen romcom yang ringan, film ini punya sisi emosional yang lebih terasa dibanding film pertamanya.
15. The Kissing Booth 3 (2021)
Film ketiganya menjadi penutup perjalanan Elle menuju fase dewasa. Kali ini konfliknya bukan lagi sekadar soal cinta remaja, tapi tentang memilih jalan hidup sendiri tanpa terus bergantung pada ekspektasi orang lain.
Yang membuat The Kissing Booth 3 terasa lebih emosional adalah nuansa “perpisahan”-nya. Film ini sadar kalau masa sekolah dan hubungan tertentu tidak akan bertahan selamanya, dan itu nggak apa-apa.
Trilogi ini memang penuh drama khas remaja yang kadang over-the-top, tapi justru di situlah daya tariknya. Ada cinta pertama, persahabatan, patah hati, dan proses mencari jati diri yang membuat banyak penonton merasa dekat dengan perjalanan Elle Evans.
16. To All the Boys I’ve Loved Before (2018)
Kalau ada teen romcom Netflix yang berhasil jadi comfort movie banyak orang, To All the Boys I’ve Loved Before jelas salah satunya. Dari premis sederhana itu, filmnya berkembang jadi kisah fake dating yang surprisingly manis.
Hubungan Lara Jean dan Peter Kavinsky terasa lucu, canggung, tapi juga tulus banget. Bukan tipe pasangan yang penuh drama toxic, melainkan dua orang yang perlahan belajar memahami satu sama lain.
Yang bikin film ini begitu disukai adalah atmosfernya yang cozy. Dari kamar Lara Jean yang aesthetic, surat-surat cinta tulisan tangan, sampai vibe musim dingin dan lagu-lagunya yang hangat, semuanya terasa seperti pelarian kecil dari dunia nyata.
Dan ya, Peter Kavinsky sempat jadi standar cowok green flag internet pada masanya.
17. To All the Boys: P.S. I Still Love You (2020)
Kalau film pertama membahas serunya jatuh cinta, film kedua mulai menunjukkan kenyataan bahwa hubungan setelah resmi jadian ternyata tidak selalu semudah itu.
Dari sini, filmnya mulai membahas rasa ragu, insecurity, dan pertanyaan klasik dalam hubungan: “Apakah aku bersama orang yang tepat?”
Yang menarik dari P.S. I Still Love You adalah bagaimana film ini tidak membuat konflik cinta segitiganya terasa murahan. Fokusnya justru lebih ke proses Lara Jean memahami dirinya sendiri dan belajar bahwa cinta nyata tidak selalu seindah fantasi di kepala.
Nuansa filmnya juga masih mempertahankan feel hangat khas seri pertamanya. Tetap ringan, tetap manis, tapi emosinya terasa sedikit lebih dewasa.
18. To All the Boys: Always and Forever (2021)
Film ketiga sekaligus penutup trilogi ini terasa seperti surat perpisahan untuk masa remaja. Always and Forever membawa Lara Jean ke fase hidup yang lebih realistis: masa ketika cinta harus mulai berhadapan dengan masa depan dan pilihan hidup.
Yang membuat film ini relatable adalah bagaimana ia menangkap rasa takut tumbuh dewasa. Tentang menyadari bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti kalian akan berjalan ke arah yang sama.
Meski tetap dibalut suasana manis dan cozy khas franchise ini, Always and Forever punya tone yang lebih melankolis. Ada rasa nostalgia, perubahan, dan penerimaan bahwa beberapa hal memang harus berubah seiring waktu.
Romcom Selalu Punya Cara Membuat Penonton Jatuh Cinta
Ada yang bikin ketawa karena tingkah karakternya absurd, ada juga yang diam-diam menyentuh karena terasa dekat dengan kehidupan nyata. Itulah kenapa genre romcom nggak pernah benar-benar kehilangan penontonnya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Kalau kamu suka membahas makna cerita, mencari penjelasan ending, atau lagi cari rekomendasi film dari Netflix yang viral, jadul, box office, sampai hidden gem romcom lainnya, kamu bisa eksplor lebih banyak artikel seru di Lemo Blue.

