How to Get to Heaven from Belfast, series misteri-thriller yang dibuat dan ditulis oleh Lisa McGee—nama di balik dari Derry Girls—series ini hadir di Netflix dengan 8 episode yang memadukan drama persahabatan, humor getir, dan misteri kematian.
Sinopsis How to Get to Heaven from Belfast mengikuti tiga sahabat masa kecil, Saoirse (Roisin Gallagher), Robyn (Sinéad Keenan), dan Dara Caoilfhionn Dunne, yang kembali bertemu setelah menerima email tentang kematian teman lama mereka, Greta (Natasha O’Keeffe).
Tapi saat datang ke wake di Donegal, mereka justru menemukan sesuatu yang janggal: perempuan di peti mati itu bukan Greta. Nonton series ini tuh jadi kayak liat reuni sahabat yang perlahan berubah jadi crime scene.
Table of Contents
Rekap How to Get to Heaven from Belfast: Rahasia yang Terkubur Sejak Kecil
Narasi How to Get to Heaven from Belfast bergerak bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, mengupas lapisan demi lapisan seperti membuka kotak kenangan yang seharusnya nggak pernah disentuh lagi.
1997 — Api Pertama di Heaven’s Veil
Semua bermula di sebuah desa kecil bernama Heaven’s Veil (Caille Neamh), tempat Greta—yang dulu dikenal sebagai Aisling—dan Jodie—saat itu Cara—tumbuh dalam lingkungan penuh pengabaian dan kekerasan.
Mereka bukan cuma anak-anak nakal; mereka anak-anak yang merasa ditinggalkan semua orang, bahkan Tuhan. Dalam kemarahan dan keputusasaan, keduanya membakar gereja desa.
Sebuah tindakan impulsif yang berubah jadi tragedi.
Api itu menewaskan delapan anak di dalamnya.
Sejak momen itu, rasa bersalah bukan lagi bayangan—tapi beban permanen yang mereka bawa sampai dewasa. Dan dosa masa kecil itu diam-diam jadi fondasi dari semua kekacauan berikutnya.
2003 — Rahasia yang Dikubur di Halaman Sekolah
Bertahun-tahun kemudian, masa lalu kembali mengejar. Greta dilacak oleh seorang jurnalis investigasi, Charles Sampson, yang sepertinya tahu sesuatu tentang kebakaran lama.
Konfrontasi berubah kacau, dan Jodie—panik, protektif, takut kehilangan satu-satunya orang yang ia punya—menusuk Sampson.
Saoirse, Robyn, dan Dara ikut terseret. Mereka membantu mengubur jasadnya di halaman sekolah, mengira pria itu cuma mantan obsesif bernama Jason Meadows. Mereka pikir ini cuma kesalahan kecil yang bisa ditutup rapat.
Padahal, mereka baru saja mengikat diri dalam rahasia kriminal bersama—jenis rahasia yang pelan-pelan menggerogoti persahabatan dari dalam.
Masa Kini — Kematian yang Salah, Identitas yang Palsu
Dan sekarang, semuanya meledak.
Jodie, yang sudah lelah bersembunyi, ingin mengakui kebenaran pada Andrew, anak Sampson. Tapi niat jujur itu berubah tragis. Dalam pertengkaran, Greta tanpa sengaja mendorong Jodie hingga jatuh dari tangga—dan tewas.
Ironisnya, kematian yang “tidak sengaja” ini justru memicu kebohongan terbesar.
Untuk melindungi Greta, suaminya Owen dan ibu angkatnya Margo memalsukan kematian Greta. Mereka menaruh tubuh Jodie di peti mati, sementara Greta menghilang, dibantu organisasi rahasia.
Jadi ketika Saoirse, Robyn, dan Dara datang ke wake itu… mereka bahkan sedang berduka untuk orang yang salah.
Dan dari situlah semuanya terasa makin absurd sekaligus menyakitkan: mereka bukan cuma mencari sahabat yang hilang, tapi juga kebenaran tentang siapa sebenarnya yang mereka lindungi selama ini.
Karena kadang, yang paling menakutkan bukan hantu masa lalu— tapi fakta bahwa kita ikut menguburnya.
Penjelasan Ending How to Get to Heaven from Belfast: Surga dan Dosa Lama

Dan ya… tentu saja, di sinilah kebenaran akhirnya dibuka. Ending How to Get to Heaven from Belfast benar-benar ngerem mendadak. Menurut sudut pandang Lemo Blue, Ending-nya nggak kasih jawaban sempurna.
Nggak semua dosa lunas. Tapi ada sesuatu yang lebih manusiawi: pengakuan, penebusan, dan kesempatan kedua.
Kebenaran di Heaven’s Veil
Saoirse, Robyn, dan Dara berhasil melacak Greta sampai reruntuhan desa lama. Nggak ada lagi alasan, nggak ada lagi bohong setengah-setengah.
Greta akhirnya cerita semuanya—tentang kebakaran gereja waktu kecil, tentang Charles Sampson, tentang bagaimana hidupnya selama ini cuma rangkaian kabur dan ganti identitas.
Semua itu dimungkinkan oleh Margo dan sebuah organisasi misterius bernama The Evaporation Society (alias Metamorphosis), jaringan rahasia yang “membantu” perempuan menghilang.
Kedengarannya seperti penyelamat… tapi makin lama terasa kayak sistem yang memanfaatkan orang-orang rapuh.
Greta bukan bebas. Dia cuma dipindahkan dari satu sangkar ke sangkar lain.
Kudeta di The Evaporation Society
Dua agen organisasi—Booker dan Feeney—datang ke Heaven’s Veil. Awalnya vibe-nya langsung ancaman: ini pasti momen “ditarik paksa balik”. Tapi plotnya muter cantik.
Booker ternyata memberontak. Dia muak dengan pimpinan organisasi yang korup dan mengeksploitasi perempuan-perempuan rentan. Alih-alih menyeret Greta, dia justru membersihkan petinggi-petinggi busuk itu dari dalam.
Sedikit “spy thriller energy”, tapi tetap grounded secara emosional.
Booker memberi Greta, Owen, dan anak mereka identitas baru + paspor. Kali ini bukan pelarian palsu, tapi kesempatan hidup yang benar-benar fresh start. Bukan sembunyi—tapi mulai lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Greta nggak kelihatan takut. Cuma capek… tapi lega.
Penutupan Luka Lama
Sementara itu, Saoirse melakukan hal yang paling dewasa (dan paling berat): dia membocorkan lokasi jasad Charles Sampson ke Liam, yang kemudian membawa Andrew—anak Sampson—ke sana.
Dua puluh tahun kehilangan jawaban. Akhirnya dapat titik.
Nggak ada adegan dramatis berlebihan, cuma closure yang sunyi. Tapi justru itu yang kena banget. Series ini paham kalau kadang “mengetahui kebenaran” aja sudah cukup untuk berhenti bertanya-tanya seumur hidup.
Cliffhanger Tas Pink (dan Masalah Baru Lagi…)
Pas kita kira semuanya selesai… boom.
Greta menumpang mobil seorang pria bernama Conrad. Dia ngasih Greta tas pink misterius. Random banget, tapi terasa penting. Lalu Greta—dengan energi “otak lagi overload”—nggak sengaja ninggalin tas itu di minimarket.
Di waktu yang sama, kita dikasih info: Conrad ditemukan tewas. Ditusuk obeng.
Yep. Nggak pernah damai lama.
Saat Saoirse, Robyn, dan Dara nemuin tas itu dan membukanya… reaksi mereka langsung pucat. Shock berat. Tapi penonton nggak diperlihatkan isinya.
Robyn bilang, “Kita nggak bakal ikut campur.” Yang lucu (dan menyakitkan): kita semua tahu mereka pasti bakal ikut campur. Karena tiap musim, masalah selalu “nggak sengaja” milih mereka duluan.
Cliffhanger ini kerasa banget kayak pintu terbuka buat season dua—misteri baru, bahaya baru, dan kemungkinan mereka terseret lagi ke kekacauan yang sama.
Fun Easter Egg Kecil tapi Manis
Sebagai bonus kecil buat fans lama karya Lisa McGee, episode terakhir nyelipin mural Derry Girls di dinding kota saat karakter pulang.
Cuma sekilas, tapi rasanya kayak wink kecil: “iya, ini masih semesta yang sama—chaotic, lucu, dan penuh perempuan keras kepala yang nggak pernah benar-benar selamat dari masalah.”
How to Get to Heaven from Belfast: Series yang Pahit, Hangat, dan Susah Dilupain
How to Get to Heaven from Belfast jelas layak masuk watchlist. Dan kalau kamu menikmati gaya rekap series yang pelan, interpretatif, dan penuh rasa kayak gini, masih banyak cerita film dan series lain yang siap dibedah bareng di Lemo Blue.

