Mengapa seseorang bisa terobsesi dengan kejahatan? Nah, salah satu film yang mengangkat sisi gelap itu dengan cukup cerdas adalah film Copycat (1995), karya sutradara Jon Amiel.
Yang bikin film Copycat terasa menarik bukan cuma misterinya, tapi juga kritiknya terhadap budaya populer yang sering mengagungkan nama-nama pembunuh berantai.
Film ini seperti mengingatkan kita bahwa di balik sensasi dan legenda yang dibangun media, ada obsesi berbahaya yang bisa melahirkan “peniru” baru yang ingin ikut masuk dalam sejarah kelam tersebut.
Table of Contents
Film Copycat (1995) Tentang Apa?
Di film ini, kita diajak mengikuti kisah Dr. Helen Hudson, seorang psikolog kriminal terkenal yang tiba-tiba harus hidup dalam ketakutan setelah diserang oleh mantan subjek penelitiannya sendiri.
Trauma itu membuat Helen mengalami agorafobia dan mengurung diri di apartemen canggihnya di San Francisco.
Tapi ketika seorang pembunuh berantai baru muncul dan mulai meniru pola pembunuhan para serial killer legendaris, Helen mau tidak mau kembali terseret ke dunia kriminal yang selama ini ia coba hindari—dibantu oleh Detective M.J. Monahan yang berusaha menghentikan rangkaian kejahatan tersebut.
Penjelasan Ending Film Copycat (1995): Saat Obsesi Pembunuh Berantai Menjadi Terlalu Nyata

Ending film Copycat memperlihatkan Peter Foley menculik Helen dan membawanya ke kamar mandi yang sama, berniat merekonstruksi serangan pertama itu sebagai “karya terakhir” dalam koleksi pembunuhan tiruannya.
Bagi Foley, ini bukan sekadar membunuh. Ini adalah ritual. Ia ingin menutup rangkaian pembunuhannya dengan adegan yang paling ikonik—seolah-olah sedang menyempurnakan tribute kepada para pembunuh legendaris yang ia idolakan.
Namun Helen bukan korban yang pasif. Dengan kemampuan psikologinya, ia mencoba memanipulasi pikiran Foley, bahkan sampai berpura-pura ingin bunuh diri untuk merusak “mahakarya” sang pembunuh.
Strategi ini memberi Helen kesempatan untuk melarikan diri hingga ke atap gedung. Di titik ini, film memberi momen penting: Helen harus menghadapi agorafobianya secara langsung.
Ancaman kematian membuat rasa takutnya terhadap ruang terbuka menjadi kalah oleh insting bertahan hidup.
Detik-Detik Terakhir Peter Foley
Ketika situasi semakin genting, Detective M.J. Monahan akhirnya muncul. Ia ternyata selamat karena mengenakan rompi anti peluru setelah sebelumnya ditembak.
Berbeda dengan filosofi sebelumnya—bahwa satu tembakan cukup untuk melumpuhkan target—Monahan kali ini tidak mengambil risiko. Ia menembak Foley beberapa kali hingga akhirnya peluru terakhir mengenai kepala dan mengakhiri semuanya.
Momen ini juga terasa seperti bentuk penebusan. Kesalahan taktis sebelumnya menyebabkan kematian partnernya, Reuben Goetz. Kali ini, Monahan memastikan kesalahan yang sama tidak terulang.
Twist Terakhir: Dalang Sebenarnya
Saat penonton merasa kasus sudah selesai, film memberikan satu twist yang cukup dingin. Ternyata Peter Foley bukan otak utama dari rangkaian pembunuhan ini.
Dari balik sel penjara, Daryll Lee Cullum—penyerang Helen di masa lalu—diam-diam memanipulasi Foley.
Ia memanfaatkan obsesi Foley terhadap pembunuh berantai dan menjadikannya alat balas dendam terhadap Helen yang dulu berhasil memprofilkan dan menangkapnya.
Dengan kata lain, Foley hanyalah “murid fanatik” yang menjalankan misi dari idolanya.
Siklus Kejahatan yang Tidak Pernah Benar-Benar Berakhir
Film kemudian menutup ceritanya dengan adegan yang cukup menyeramkan. Cullum terlihat menulis surat kepada seseorang bernama Conrad, calon “murid” baru yang akan melanjutkan permainan ini.
Ia bahkan menyebut kegagalan Foley sebagai bentuk “hukuman dari Tuhan”, lalu mendorong Conrad untuk meneruskan misinya—bahkan menjanjikan pakaian Helen sebagai trofi.
Artinya, meskipun satu pembunuh sudah mati, obsesi terhadap ketenaran para serial killer masih hidup.
Review Film Copycat dari Sudut Pandang Lemo Blue: Obsesi Terhadap “Legenda Kejahatan”
Kalau dilihat dari sudut pandang Lemo Blue, Copycat sebenarnya bukan sekadar film thriller tentang pembunuh berantai. Film ini terasa seperti kritik terhadap budaya populer yang sering mengubah pelaku kejahatan menjadi legenda.
Nama-nama seperti Ted Bundy, Jeffrey Dahmer, atau Jack the Ripper sering muncul dalam buku, film, podcast, bahkan dokumenter—kadang lebih sering dibicarakan dibanding para korban mereka.
Fenomena itu melahirkan sosok seperti Peter Foley: seorang “fanboy kematian” yang ingin masuk ke dalam daftar pembunuh terkenal. Ia tidak membunuh karena motif klasik seperti uang atau dendam, tetapi karena ingin diingat dalam sejarah yang sama dengan idolanya.
Bukan pada siapa yang terbunuh, tetapi pada kenyataan bahwa ketenaran para pembunuh bisa menciptakan generasi peniru berikutnya.
Thriller Psikologis yang Mengingatkan Bahaya Mengidolakan Kejahatan
Film Copycat tetapi juga kisah tentang bagaimana trauma, obsesi, dan ketenaran bisa saling berkaitan dalam cara yang berbahaya.
ketegangan, tetapi juga memberi kritik halus tentang bagaimana budaya populer sering membangun “mitos” pembunuh berantai.
Kalau kamu suka membaca penjelasan ending film dan series, sekaligus mencari rekomendasi film Netflix yang viral, jadul, sampai box office, kamu bisa mengeksplorasi lebih banyak artikel seru lainnya di Lemo Blue.

