Mama: Pesan dari Neraka (Nonton di Netflix) tentang teror yang terasa personal dan mengganggu secara psikologis.
Disutradarai Azhar Kinoi Lubis dan diadaptasi dari video viral Nessie Judge berjudul “MAMA” yang ditonton lebih dari 16 juta kali, film ini mengubah ketakutan sederhana tentang kehilangan ibu menjadi mimpi buruk digital: SMS misterius dari dunia seberang.
Dengan balutan urban horror, tarot, rahasia keluarga, dan hubungan ibu–anak yang retak, kisah Putri (Callista Arum) perlahan menyeret penonton ke ruang abu-abu antara duka dan delusi.
Ketika pesan-pesan dari ponsel sang mama mulai meramal kematian dan menyelamatkan nyawanya, satu pertanyaan menghantui: ini perlindungan… atau justru panggilan dari kubur?
Table of Contents
Penjelasan dan Makna Ending Mama: Pesan dari Neraka

Berbeda dengan versi cerita asli Nessie Judge di YouTube yang dibiarkan menggantung dan penuh tafsir, Mama: Pesan dari Neraka memilih jalur yang lebih tegas dan konklusif.
Film ini pelan-pelan membuka tabir misteri di 30 menit terakhir, menggeser narasinya dari sekadar horor urban tentang arwah penasaran menjadi sesuatu yang lebih gelap—dan jauh lebih manipulatif.
Bukan cuma soal “roh ibu yang belum pergi”, tapi tentang bagaimana rasa kehilangan bisa dimanfaatkan oleh sesuatu yang jahat.
Alih-alih memberi jawaban setengah-setengah, film ini benar-benar mengajak penonton melihat kenyataan pahit di balik setiap pesan yang selama ini terasa seperti perlindungan.
Plot Twist
Salah satu twist paling menarik datang dari logika supranatural yang dibangun filmnya. Sari (Nova Eliza), sang ibu, ternyata bukan cenayang sakti yang benar-benar “melihat masa depan”.
Mama: Pesan dari Neraka menjelaskan bahwa ada setan-setan yang memanjat ke langit untuk mencuri dengar percakapan malaikat, lalu membisikkan potongan kebenaran itu kepada para peramal dan pembaca tarot.
Masalahnya, kebenaran itu cuma umpan.
Karena seperti yang diungkap film: satu kebenaran dipakai untuk menutupi seribu kebohongan. Sedikit akurat, supaya manusia percaya.
Sisanya? Manipulasi. Konsep ini bikin semua “keajaiban” Sari terasa lebih tragis—bukan anugerah, tapi jebakan yang perlahan menyeret hidupnya.
Cuma Iblis yang Lagi Nyamar
Di sinilah horornya naik level.
Pesan-pesan dari nomor Mama—yang awalnya terasa hangat dan protektif—ternyata bukan dari arwah Sari sama sekali. Bukan ibu yang menjaga dari alam sana. Bukan cinta yang belum selesai.
Melainkan iblis yang menyamar.
Kecelakaan bus, peringatan-peringatan akurat, semua itu cuma strategi buat bikin Putri percaya sepenuhnya.
Begitu kepercayaan terbentuk, si iblis punya akses ke rasa takut, rasa bersalah, dan kesepian Putri. Ia nggak cuma meneror secara fisik, tapi psikologis—membuat Putri bergantung pada pesan-pesan itu, seolah tanpa “Mama”, dia nggak bisa bertahan hidup.
Dan itu jauh lebih menyeramkan daripada jumpscare mana pun.
Orang Mati udah Pasti Nggak Bisa Hidup Lagi!
Menariknya, klimaks film ini bukan pertarungan kerasukan atau ritual besar-besaran seperti horor kebanyakan. Nggak ada adegan baku hantam supranatural.
Yang ada justru sesuatu yang lebih sunyi—dan lebih menyakitkan: proses melepaskan.
Putri sadar bahwa selama ini dia bukan cuma dihantui iblis, tapi juga terjebak dalam dukanya sendiri.
Selama dia terus berharap ibunya “kembali”, selama itu pula si iblis punya celah untuk masuk. Jadi satu-satunya cara memutus teror itu adalah menerima kenyataan: Mamanya sudah pergi.
Saat Putri memilih berhenti membalas pesan-pesan itu dan mulai melangkah maju, koneksinya terputus. Hangat yang ia rasakan di akhir film bukan karena ibunya kembali, tapi karena akhirnya ia berdamai dengan kehilangan.
Dan justru di situlah Mama: Pesan dari Neraka terasa paling menyentuh—ini bukan cuma cerita tentang setan, tapi tentang bagaimana duka bisa berubah jadi neraka kalau kita nggak pernah belajar melepaskan.
Duka, Iman, dan Teror yang Terasa Terlalu Nyata
Mama: Pesan dari Neraka cerdas memutar ekspektasi penonton—yang awalnya mengira sedang menonton kisah kasih sayang ibu dari alam baka—lalu perlahan mengubahnya menjadi cerita tentang manipulasi, rasa bersalah, dan betapa rapuhnya manusia saat berduka.
Horornya mungkin datang dari setan dan pesan misterius, tapi yang paling menusuk justru luka emosional Putri yang terasa sangat manusiawi.
Kalau kamu suka ulasan film dengan sudut pandang yang lebih personal dan interpretatif seperti ini, masih banyak cerita film dan series lain yang siap dibedah bareng di Lemo Blue.

