Something in the Heavens jadi titik balik besar yang akhirnya ngebawa Lewis Capaldi pulang ke panggung, dan kamu, pasti ngerasain vibes comeback-nya begitu lagu ini rilis resmi pada 19 September 2025.
Ceritanya dimulai dari masa hiatus panjang karena kesehatan, sampai akhirnya dia balik dengan energi baru—tour 17 tanggal yang langsung sold out di UK dan Irlandia.
Musim panas itu, dia juga berdiri lagi di Pyramid Stage Glastonbury, dengan kalimat yang bikin bulu kuduk berdiri: “finish what I couldn’t finish last time.”
Setelah “Survive” meledak dan jadi single tercepat terjual sepanjang 2025, “Something in the Heavens” datang sebagai napas haru yang menegaskan: Capaldi beneran kembali.
Table of Contents
Makna Lagu Something in the Heavens Lewis Capaldi

Bagian ini adalah jantung emosional dari lagu Something in the Heavens, tempat setiap liriknya terasa seperti memori yang tiba-tiba muncul di tengah malam.
1. Tema Besar – Cinta, Kehilangan, dan Harapan Bertemu Lagi
Lagu ini berjalan lewat tiga rasa utama: kehilangan yang bikin dada sesak, cinta yang tetap hidup meski orangnya sudah pergi, dan keyakinan bahwa suatu hari akan ada pertemuan lagi.
Capaldi sengaja membiarkan ceritanya samar supaya pendengar bisa menempelkan pengalaman mereka sendiri, entah itu kehilangan keluarga, pasangan, atau seseorang yang pernah jadi rumah.
2. Makna Chorus – Janji Cinta yang Lintas Batas
Kalimat “I’ll love you ‘til my last breath, you’re gone…” langsung ngehantam, mengakui kepergian tanpa mencoba menutupi rasa sakitnya. Lalu muncul penghiburan kecil: “Something in the Heavens tells me that we’ll be together again.”
Ada rasa percaya pada sesuatu yang lebih besar, seolah semesta nyimpen ruang khusus untuk dua hati yang masih ingin bertemu.
3. Makna Pre-Chorus – Cinta yang Abadi
Sekarang kita geser ke bagian transisi yang lembut tapi menghunjam. Di momen “till the day I die, I will dream of you” dan “in a million lives, you’re the one I’d choose,” Capaldi menegaskan bahwa rasa yang dia bawa gak cuma untuk satu kehidupan.
Ada ide tentang cinta yang sudah ditakdirkan, seperti dua jiwa yang tetap saling mencari meski dunia berubah bentuk ratusan kali.
4. Makna Verse 1 – Kecantikan, Kerentanan, dan Kefanaan
Sebelum masuk ke inti verse pertama, bayangin kamu lagi melihat seseorang yang begitu berarti dalam cahaya senja. Deskripsi “eyes of emerald and white” memberi kesan keindahan yang hampir suci.
Lalu “hands as soft as the sand but harder to hold” membuat kita sadar: kehadiran yang paling lembut pun bisa hilang dengan cepat.
Ketika Capaldi menutup bagian ini dengan “life can cut like a knife,” dia mengingatkan bahwa hidup memang sering merenggut hal yang paling kita jaga.
5. Makna Verse 2 – Dunia yang Kelabu Setelah Kepergian
Sebelum masuk, tarik napas dulu, LemoList, karena bagian ini paling terasa gelap.
Lirik “sounds of gathering clouds” dan “days of permanent grey” menggambarkan hari-hari setelah seseorang pergi: sunyi, berat, dan terasa berjalan lambat.
Dunia yang biasanya berwarna tiba-tiba jadi abu—bukan karena cuacanya, tapi karena jiwa yang biasanya menghangatkan hari sudah gak ada di sana.
Baca Juga, Yah! ‘Almost Lewis Capaldi’: Buat yang Lagi Pura-Pura Move On
Analogi Simple untuk Memahami Lagu Ini

Bayangin dulu suasana yang paling cocok menggambarkan rasa di lagu Something in the Heavens. Kadang visual sederhana jauh lebih ngena daripada penjelasan panjang.
“Lighthouse in the Fog”
Gambarnya gini: kamu berdiri di tengah kabut tebal, langkah pelan karena dunia di sekitar terasa buram—persis seperti rasa kehilangan yang bikin hari-hari berubah jadi abu.
Kabut itu adalah duka yang gak mau pergi, menyelimuti segalanya sampai kamu lupa bentuk cahaya.
Di kejauhan, ada mercusuar yang tetap menyala. Cahaya itu mirip keyakinan kecil yang terus muncul setiap kali Capaldi menyanyikan “Something in the Heavens tells me that we’ll be together again.”
Meski kecil, cahayanya stabil, jadi penanda bahwa harapan masih ada. Mercusuar itu jadi simbol janji yang gak padam, panduan lembut yang bikin kamu terus melangkah meski gelap masih mengelilingi.
Jejak Emosi yang Tinggal Setelah Musiknya Redup

Lagu Something in the Heavens terasa seperti pelukan terakhir yang masih menggantung di udara.
Capaldi membawa kita melewati kehilangan, lalu menuntun kembali pada harapan kecil yang tetap menyala, entah lewat kenangan, doa, atau keyakinan bahwa cinta tidak berhenti hanya karena waktu berjalan.
Lagu ini bekerja seperti ruang sunyi tempat kamu bisa menaruh rindu tanpa takut terdengar lemah, karena ia mengerti betul bagaimana rasanya ditinggal tapi tetap ingin percaya pada pertemuan lagi.
Dan kalau hati kamu masih ingin jalan-jalan ke dunia cerita musik lain, kamu bisa lanjut eksplorasi berbagai berita musik seru dan hangat lainnya di Lemo Blue. Selalu ada kisah baru yang siap nemenin hari kamu.

