Kamu pasti pernah dengar lagu Seasons in the Sun, kan? Lagu yang dipopulerkan Terry Jacks ini bukan cuma sekadar nada sendu buat menemani sore, tapi surat perpisahan penuh makna dari seseorang yang sedang menatap akhir hidupnya.
Di balik melodinya yang lembut, lagu ini menyimpan kisah tentang menerima perpisahan dengan damai—tentang bagaimana kenangan bisa tetap hangat meski waktu berhenti.
Versi Westlife tahun 1999 bahkan menambah sentuhan nostalgia baru, membawa pesan Terry Jacks ke generasi berikutnya: bahwa setiap musim dalam hidup, meski berlalu, tetap layak dirayakan.
Table of Contents
Makna Lagu Seasons in the Sun Versi Terry Jacks
Kalau kamu perhatiin baik-baik, lagu Seasons in the Sun versi Terry Jacks ini terdengar lembut, tapi maknanya dalam banget. Di balik melodinya yang tenang, lagu ini sebenarnya adalah pesan terakhir dari seseorang yang sedang bersiap untuk pergi.
1. Surat Perpisahan dari Seorang yang Akan Pergi
Dalam lagu Seasons in the Sun, tokoh utamanya adalah seorang pria yang tahu waktunya sudah dekat. Ia berpamitan pada tiga orang penting dalam hidupnya.
Pertama, pada sahabat masa kecilnya, tempat semua kenangan polos dan tawa kecil bermula. Di baris “we learned of love and ABCs, skinned our hearts and skinned our knees,” ia mengenang masa-masa itu dengan hangat—masa di mana hidup masih sederhana.
Lalu ia menyapa sang ayah, bukan dengan sedih, melainkan dengan penerimaan yang tenang. Dan terakhir, pada Michelle—sosok yang memberinya cinta dan cahaya.
Di sini Terry Jacks mengubah versi aslinya yang gelap menjadi lebih hangat, menulis ulang bagian ketiga dengan kalimat lembut seperti “you gave me love and helped me find the sun.” Semuanya terasa seperti pesan damai untuk mereka yang ia tinggalkan.
2. Inspirasi Nyata di Balik Lagu
Kisah di balik lagu Seasons in the Sun ini ternyata nyata, LemoList. Terry Jacks menulis ulang liriknya setelah kehilangan sahabat dekatnya karena leukemia.
Dari situ, ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya mengucapkan selamat tinggal pada hidup dengan hati yang tetap penuh cinta. Itu sebabnya lagu ini terasa begitu manusiawi—karena datang dari tempat yang sangat pribadi.
Bukan sekadar lagu tentang kematian, tapi juga tentang cara menghadapi akhir dengan ketenangan dan kenangan yang indah.
Baca Juga, Yah! Lirik Lagu Westlife If I Let You Go & 4 Maknanya yang Bikin Baper
Filosofi di Balik Lirik ‘Seasons in the Sun’

Kalau kamu denger lagu Seasons in the Sun, rasanya kayak diajak balik ke masa-masa terang dalam hidup—masa di mana segalanya terasa hangat dan penuh tawa. Tapi di balik nada yang lembut itu, ada makna simbolis yang bikin lagu ini lebih dari sekadar lagu perpisahan.
Makna Metaforis “Musim di Bawah Matahari”
Frasa Seasons in the Sun menggambarkan momen-momen indah yang pernah dialami sang tokoh sebelum ajal menjemput. Ia mengenang masa lalu seperti musim yang penuh cahaya—singkat, tapi meninggalkan bekas hangat di hati.
Dalam konteks lagu Seasons in the Sun, “musim di bawah matahari” bukan hanya tentang kematian, tapi tentang berakhirnya sesuatu yang berharga: masa muda, kepolosan, atau kebahagiaan yang tak akan terulang.
LemoList, bisa jadi “season” di sini adalah simbol perjalanan hidup—datang, pergi, lalu berganti. Seperti matahari yang terus terbit dan tenggelam, kenangan pun tetap bersinar, meski orangnya mungkin sudah tiada.
Makna Lagu Seasons in the Sun Dari Lagu Prancis

Kalau kamu kira lagu Seasons in the Sun lahir dari tempat yang tenang, kamu bakal kaget, LemoList. Sebelum jadi lagu perpisahan yang lembut dan menyentuh, lagu ini berasal dari kisah yang jauh lebih gelap.
1. Asal-Usul Le Moribond oleh Jacques Brel
Segalanya dimulai tahun 1961, saat penyair asal Belgia, Jacques Brel, menulis lagu berjudul Le Moribond—yang berarti “si sekarat.” Versi aslinya jauh dari lembut.
Tokoh dalam lagu itu adalah pria yang sedang menunggu ajal sambil mengucapkan selamat tinggal pada tiga orang: pendeta, sahabatnya Émile, dan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Dengan nada getir, Brel menggambarkan kematian bukan sebagai akhir yang tenang, melainkan momen pahit penuh kekecewaan dan sinisme.
Ia bahkan meminta semua orang menari dan tertawa di pemakamannya—sebagai bentuk ejekan terakhir pada hidup yang telah mengecewakannya.
2. Adaptasi Rod McKuen dan Transformasi Terry Jacks
Beberapa tahun kemudian, penyair Amerika Rod McKuen menerjemahkan Le Moribond ke dalam bahasa Inggris. Ia mempertahankan tema perselingkuhan dan menambahkan ancaman halus bahwa si pria akan menghantui sang istri setelah mati.
Tapi dari tangan McKuen inilah muncul satu kalimat ikonik: “We had joy, we had fun, we had seasons in the sun.” Kalimat itu mengubah arah lagu, memberi sentuhan kenangan di antara kepedihan.
Ketika Terry Jacks mendengar versi ini, ia merasa lagu tersebut terlalu kelam. Ia menghapus unsur perselingkuhan, menulis ulang bait ketiga, dan mengubah fokusnya pada kehilangan serta kenangan indah yang tersisa.
Hasilnya, lagu Seasons in the Sun berubah total—dari satire pahit jadi refleksi lembut tentang kematian dan rasa syukur atas hidup yang pernah dijalani. Dengan keberanian untuk memeluk sisi sentimentalnya, Jacks justru menciptakan lagu yang menyentuh jutaan hati dan menjadi hit besar di seluruh dunia.
Baca Juga, Yah! ‘Iris Goo Goo Dolls’: Malaikat Galau yang Rela Jatuh Demi Cinta
Dari Duka Menjadi Cahaya
Lagu Seasons in the Sun menunjukkan bahwa perpisahan tidak selalu harus gelap. Lewat lirik yang tulus dan hangat, Terry Jacks mengubah kisah kematian menjadi refleksi lembut tentang kehidupan—tentang cara kita menghargai kenangan, cinta, dan waktu yang singkat.
Seasons in the Sun jadi karya abadi yang terus berbicara tentang manusia dan perasaan paling universal: belajar melepaskan dengan damai.
Kalau kamu suka membedah makna di balik lagu seperti ini, yuk jelajahi lebih banyak kisah musik dan film yang menghangatkan hati di Lemo Blue – Berita Musik dan Film!

