Jodoh 3 Bujang jadi salah satu film yang wajib kamu intip, apalagi kalau kamu suka cerita keluarga yang dibungkus comedy dan budaya khas Makassar. Tiga bujang, satu ayah keras kepala, tradisi kawin kembar, dan drama uang panai’ yang bisa bikin kamu ketawa tapi juga ngelus dada.
Disutradarai Arfan Sabran—yang debut di film panjang setelah menang Citra lewat dokumenter Ininnawa—film ini dirilis 26 Juni 2025 dan mengambil latar langsung di Makassar, dari kampus Unhas sampai Pantai Losari. Terinspirasi dari kejadian nyata tahun 2019, kisahnya berasa dekat, hangat, dan penuh warna lokal.
Table of Contents
Sinopsis Jodoh 3 Bujang

Cerita Jodoh 3 Bujang bergerak dari tekanan keluarga, tradisi, dan cinta yang datang di waktu yang kurang tepat.
Di Makassar, hidup tiga bujang bersaudara—Fadly, Kifly, dan Ahmad—yang mendadak dibuat pusing ketika sang ayah, Mustapa, meminta mereka menikah bersamaan lewat tradisi kawin kembar.
Mustapa sudah menabung 300 juta untuk biaya adat dan uang panai’, jadi tinggal para anaknya yang harus memastikan calon pasangannya siap ikut ke pelaminan.
Kifly sudah pacaran dengan Karin, Ahmad bersama Asha, dan Fadly menjalin hubungan dengan Nisa, gadis asal Sengkang.
Masalah muncul saat keluarga Nisa menjodohkannya dengan pria yang dianggap lebih mapan. Fadly kehabisan waktu dan mulai panik karena rencana pernikahan kembar bisa batal total kalau dia tak punya calon.
Dari sinilah perjalanan Fadly berubah jadi komedi penuh drama. Ia mencoba berbagai cara, bahkan sampai main dating apps. Sampai akhirnya dia bertemu kembali dengan Rifa, teman kuliah yang kini sedang menempuh S2.
Keluarga Rifa menghargai pendidikan, dan statusnya membuat uang panai’-nya diperkirakan mencapai 3 miliar. Angka yang jauh dari kemampuan Fadly sebagai musisi lokal.
Di tengah tekanan tradisi dan keluarga, Nisa sempat menawarkan jalan pintas: kawin lari. Tapi Fadly menolak, karena baginya menikah bukan hanya tentang dua hati, tapi dua keluarga yang menyatu.
Baca Juga, Yah! Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia (2025): Bikin Kamu Ikut Tersesat!
Ending Jodoh 3 Bujang (Spoiler): Makna di Balik Kepastian Telepon

Ending Jodoh 3 Bujang dibangun dari kisah nyata yang benar-benar dialami keluarga aslinya. Jadi setiap momen terakhir di film ini bukan sekadar dramatisasi, tapi potongan kenyataan yang dibawa langsung ke layar.
Ending yang Sama Persis dengan Kejadian Nyata
Kamu mungkin bakal kaget, tapi sutradara Arfan Sabran memastikan kalau klimaks film ini mengikuti persis kejadian sebenarnya. Poin paling pentingnya ada pada satu momen sederhana: telepon.
Jawaban “iya” yang menentukan masa depan Fadly disampaikan lewat panggilan, sama seperti kejadian asli. Momen kecil itu jadi bukti kalau kepastian kadang datang dengan cara paling sunyi tapi paling menggerakkan.
Puncak Konflik 30 Menit Terakhir
Sekarang kita geser sedikit ke bagian yang bikin deg-degan. Film ini memadatkan krisis terbesarnya ke 30 menit terakhir—mulai dari drama cetak undangan sampai keputusan keluarga yang serba mepet.
Semua kekacauan itu bukan tambahan dari naskah, melainkan rangkaian kejadian yang benar-benar dialami enam tahun lalu. Energinya kerasa kacau tapi nyata, dan itu yang membuat penonton ikut kebawa suasananya.
Pesan Utama tentang Cinta, Tanggung Jawab, dan Keluarga
Terakhir, kita masuk ke napas emosional film ini. Perjalanan Fadly dalam Jodoh 3 Bujang adalah rangkuman tentang seberapa jauh seseorang mau berusaha demi keluarga, budaya, dan orang yang ia pilih.
Jourdy Pranata pernah bilang kalau ketulusan dan usaha Fadly akhirnya terbayar. Dari situ kelihatan kalau cinta di film ini bukan soal manis-manis doang—lebih ke keberanian untuk tetap maju meski jalannya berat.
Baca Juga, Yah! Hotel Sakura (2025): Traumanya Dibawa Sampai Mati
Review Jodoh 3 Bujang: Worth It atau Skip?

Setelah tahu bagaimana film ini dibangun dari budaya dan kisah nyata, sekarang kamu masuk ke bagian yang paling ditunggu: apakah Jodoh 3 Bujang layak kamu masukin ke watchlist?
Kekuatan Film
Film ini jadi standout karena berhasil nampilin budaya Bugis-Makassar tanpa terasa dibuat-buat. Tradisi uang panai’, tekanan keluarga, sampai konsep kawin kembar tersaji hidup dan terasa deket.
Situasi yang absurd tapi realistis—terutama tekanan nikah bareng—jadi sumber candaan yang ngena. Humor khas Makassar bikin penonton ngerasa kayak lagi nongkrong sama orang lokal.
Jourdy Pranata, Christoffer Nelwan, dan Rey Bong ngasih dinamika kakak-adik yang natural. Keakraban dan keributan mereka pas banget jadi fondasi cerita.
Catatan
Sekarang kamu masuk ke hal-hal yang mungkin bikin sebagian penonton merasa “hmm… bisa lebih nih.” Ada beberapa bagian tengah yang terasa meluas karena penambahan unsur fiksi. Bukan buruk, cuma bikin ritme cerita sempat turun sebentar.
Beberapa konflik tambahan kelihatan sebagai bumbu sinematik. Tetap menghibur, tapi penonton yang tahu kisah aslinya mungkin bakal sadar bagian mana yang dipoles.
Kalau Menurut Lemo Blue Sih…
Jodoh 3 Bujang layak kamu tonton, alasan ini bukan karena ‘si penulis’ orang bugis yaa hahaha, tapi emang kalau kamu suka film komedi romansa yang rooted banget sama tradisi Indonesia, ini wajib banget masuk watchlist.
Humornya dapet, emosinya kena, dan pesannya dalem (Kalaupun kamu nggak terlalu kenal sama adat dan tradisi panai’, tapi film ini maknanya dalam banget, bisa jadi pembelajaran hidup).
Cerita tentang usaha, tanggung jawab, dan rasa sayang dalam keluarga tersampaikan dengan ringan tapi bermakna. Worth it? Yes.
Daftar Pemain Jodoh 3 Bujang
Jajaran pemain di Jodoh 3 Bujang ini jadi kunci kenapa cerita keluarga dan adatnya terasa hidup banget. Setiap karakter punya energi sendiri yang bikin dinamika tiga bujang ini makin seru.
- Jourdy Pranata sebagai Fadly
- Christoffer Nelwan sebagai Kifly
- Rey Bong sebagai Ahmad
- Aisha Nurra Datau sebagai Rifa
- Maizura sebagai Nisa
- Arswendy Bening Swara sebagai Mustapa
- Cut Mini sebagai Fatimah
- Barbie Arzetta sebagai Karin
- Elsa Japasal sebagai Asha
Pemeran pendukung:
- Nugie sebagai Malik
- Iwan Coy sebagai Ariping
- Zakaribo sebagai Pirre
- Musdalifah Basri sebagai Bibi Surti
- Le Roy Osmani sebagai Ayah Rifa
- Nunu Datau sebagai Ibu Rifa
- Arla Ailani sebagai Sepupu Asha
Kilas Pesan dari Perjalanan Tiga Bujang
Perjalanan Jodoh 3 Bujang terasa seperti duduk bareng sahabat lama sambil mendengar cerita hidup yang lucu tapi nyentuh hati. Film ini menutup kisahnya dengan pesan kuat tentang cinta, tanggung jawab, dan arti keluarga yang kadang terasa berat tapi tetap jadi tempat pulang.
Dari budaya Bugis-Makassar yang kental, humor khas Makassar, sampai perjuangan Fadly mencari jawaban yang menenangkan hatinya, semuanya dirajut jadi pengalaman yang hangat.
Di akhir cerita, kamu diajak melihat bagaimana setiap pilihan punya konsekuensi dan setiap ketulusan akhirnya menemukan jalannya.
Kalau kamu lagi cari tontonan yang menghibur tapi tetap punya makna, film ini jadi jawaban yang pas. Dan kalau kamu mau lanjut menyelam lebih dalam ke dunia film dan series, yuk jelajahi lebih banyak berita film seru lainnya di Lemo Blue!

