Mr. Smith Goes to Washington, film klasik hitam-putih dari tahun 1939, sebuah cerita tentang kepolosan yang nekat masuk ke jantung kekuasaan. Seorang pria lugu dari kota kecil tiba-tiba duduk di kursi Senat, dikelilingi politisi licik dan mesin kekuasaan yang dingin.
Disutradarai Frank Capra, imigran asal Sisilia yang percaya pada moral manusia, film ini lahir dengan set Senat terbesar yang pernah dibuat Columbia Pictures.
Kesuksesannya luar biasa, tapi reaksinya kontroversial—dipuji rakyat, dimaki politisi, bahkan dilarang di negara fasis. Dari sini, kisah idealisme itu dimulai.
Table of Contents
Sinopsis Mr. Smith Goes to Washington (Kesimpulan Film) — Orang Polos yang Salah Masuk Sistem

Kisah ini dibuka pelan, tapi niat busuknya sudah terasa sejak awal. Dari sini, kamu bakal lihat bagaimana politik bekerja di balik senyum ramah dan jabatan terhormat.
Kekosongan Kursi Senat dan Intrik Politik
Semua berawal dari wafatnya Senator Samuel Foley, yang meninggalkan kursi kosong di sebuah negara bagian Barat.
Gubernur “Happy” Hopper langsung terjebak tekanan dua sosok kuat: bos politik Jim Taylor dan Senator senior Joseph Paine.
Mereka butuh pengganti yang aman—bukan pemikir, bukan pembangkang. Pilihan jatuh pada figur yang dianggap polos dan mudah diarahkan.
Jefferson Smith Masuk Washington
Jefferson Smith, pemimpin idealis Boy Rangers, tiba-tiba dikirim ke Washington. Bukan karena kapasitas politik, tapi karena kepolosannya.
Ia melangkah ke ibu kota dengan mata berbinar, tanpa sadar bahwa dirinya sudah masuk ke permainan kotor yang tak ia pahami.
Lincoln Memorial dan Simbol Idealisme
Di tengah hiruk-pikuk Washington, Smith terpaku pada Lincoln Memorial. Monumen itu bukan sekadar bangunan, tapi cermin nilai yang ia percaya: kejujuran, demokrasi, dan pengabdian pada rakyat. Sayangnya, nilai itu jarang dipraktikkan di sekelilingnya.
Clarissa Saunders, Dari Sinis Jadi Sekutu
Clarissa Saunders, sekretaris yang kenyang pengalaman politik, awalnya memandang Smith sebagai badut desa.
Namun seiring waktu, ketulusan Smith meruntuhkan sikap sinisnya. Dari pengamat dingin, Saunders berubah menjadi orang yang paling percaya pada Smith.
RUU Kamp Anak dan Awal Petaka
Masalah muncul saat Smith mengusulkan undang-undang pembangunan kamp nasional untuk anak-anak.
Tanah yang ia pilih ternyata sudah diplot Jim Taylor untuk proyek bendungan korup. Di titik ini, Mr. Smith Goes to Washington berubah dari cerita idealisme menjadi medan perang kepentingan.
Fitnah, Pemalsuan Dokumen, dan Upaya Menjatuhkan Smith
Smith menolak sogokan, dan itu kesalahan fatal. Mesin politik bergerak cepat: tanda tangan dipalsukan, opini publik dibelokkan, dan Smith dijebak seolah-olah pelaku korupsi.
Terpojok dan terancam dikeluarkan dari Senat, satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah melawan dengan kebenaran.
Baca Juga, Yah! The Apartment (1960): Pilih Naik Jabatan atau Harga Diri?
Penjelasan Ending Mr. Smith Goes to Washington (SPOILER) — Filibuster yang Menguras Jiwa

Semua yang dibangun sejak awal akhirnya meledak di ruang Senat, tempat kebenaran diuji sampai batas terakhir tubuh manusia.
Filibuster 24 Jam di Gedung Senat
Semua dimulai ketika Jefferson Smith memilih bertahan di podium. Selama hampir 24 jam, ia bicara tanpa henti, membaca dokumen, mengulang keyakinannya, dan memeras sisa tenaga yang ia punya.
Suaranya parau, tubuhnya limbung, tapi Smith menolak diam. Di Mr. Smith Goes to Washington, filibuster ini bukan strategi politik—ini jeritan terakhir orang jujur.
Mesin Politik Melawan Kebenaran
Di luar ruang Senat, Jim Taylor bergerak lebih cepat. Media lokal dikendalikan, fakta dipelintir, dan citra Smith dihancurkan.
Boy Rangers yang mencoba menyebarkan pembelaan lewat koran kecil mereka justru diserang. Sistem menunjukkan wajah aslinya: kejam, rapi, dan nyaris tak tersentuh.
Telegram Palsu dan Titik Terendah Smith
Pukulan terberat datang saat Senator Paine membawa ribuan telegram palsu ke ruang sidang. Isinya sama: desakan agar Smith berhenti.
Terjebak antara kelelahan fisik dan kehancuran mental, Smith menyampaikan pidato terakhirnya tentang “perjuangan yang kalah,” lalu roboh di lantai Senat.
Pengakuan Senator Paine
Pemandangan itu mematahkan Paine. Rasa bersalah yang lama ia kubur akhirnya meledak. Setelah upaya bunuh diri yang gagal, Paine kembali ke Senat dan mengaku semuanya—fitnah, korupsi, dan kebohongan. Ia mengakui Smith berkata jujur dan dirinya tak layak menjabat.
Akhir yang Mendadak tapi Bermakna
Film ditutup tanpa basa-basi. Presiden Senat tersenyum, Clarissa Saunders bersorak, dan kebenaran akhirnya berdiri tegak.
Banyak yang menyebut ending Mr. Smith Goes to Washington sebagai fantasi manis, tapi justru di sanalah pesannya hidup: satu orang jujur bisa mengguncang sistem, meski hanya sesaat.
Baca Juga, Yah! North by Northwest (1959): Salah Orang Woi! Help!!
Daftar Pemain Mr. Smith Goes to Washington

Sebelum ceritanya terasa hidup, wajah-wajah inilah yang menggerakkan emosi dan konflik di layar. Setiap aktor membawa perannya dengan kuat, membuat kisah idealisme dan politik terasa nyata, Lemolist.
- James Stewart sebagai Jefferson Smith
- Jean Arthur sebagai Clarissa Saunders
- Claude Rains sebagai Senator Joseph Harrison Paine
- Edward Arnold sebagai Jim Taylor
- Guy Kibbee sebagai Governor Hubert “Happy” Hopper
- Thomas Mitchell sebagai “Diz” Moore
- Eugene Pallette sebagai Chick McGann
- Beulah Bondi sebagai Ma Smith
- Harry Carey sebagai President of the Senate
- Astrid Allwyn sebagai Susan Paine
Ketika Idealisme Menolak Diam
Di ujung ceritanya, Mr. Smith Goes to Washington meninggalkan satu kesan kuat: kejujuran memang rapuh, tapi tidak pernah sia-sia.
Lewat sosok Jefferson Smith, film ini menampar penonton dengan gambaran politik yang dingin dan penuh manipulasi, sekaligus memberi harapan bahwa satu suara jujur masih bisa mengguncang sistem.
Bukan soal menang atau kalah, melainkan soal keberanian untuk tetap berdiri ketika semua orang memilih tunduk.
Buat Lemolist yang suka menyelami makna di balik layar, kisah ini jadi pengingat bahwa film klasik pun bisa terasa relevan hari ini.
Kalau kamu ingin terus mengikuti berita film dan series dengan sudut pandang yang santai tapi tajam, jangan berhenti di sini—jelajahi lebih banyak ulasan, cerita, dan insight seru lainnya bareng Lemo Blue.

