Ost Film Sore Official & unofficial

5 Ost Film Sore Official & Seandainya (Kayaknya Cocok Juga)

Ost film Sore bukan cuma deretan lagu pengiring, tapi pintu masuk ke emosi terdalam cerita Sore: Istri dari Masa Depan

Seorang fotografer bernama Jonathan, hidup sendirian di Kroasia dengan kebiasaan berantakan, sampai suatu sore, hidupnya didatangi perempuan misterius yang mengaku istrinya dari masa depan. 

Namanya Sore. Lewat perjalanan waktu, cinta, dan pilihan hidup yang nggak mudah, film ini pelan-pelan mengajak kamu merenung soal takdir dan penyesalan. 

Di sinilah lagu-lagu yang dipakai film ini bekerja diam-diam: menguatkan rasa, menempel di adegan, dan bikin ceritanya terasa lebih manusiawi.

Ost Film Sore Kalau Dipiliin Lemo Blue (Seandainya Doang Ya!)

Ost Film Sore Kalau Dipiliin Lemo Blue (Seandainya Doang Ya!)

Sebelum ke official ostnya yang keren-keren itu, di sini Lemo Blue mau ngasih pengalaman seru. Saat nonton film (apalagi kalau ngena banget) kita nggak bisa move on kan? Di sini Lemo Blue ngajak kamu untuk memperpanjang gamon kamu.

Jadi, kalau seandainya dikasi freewill buat milih ost, film ini cocok dengan lagu-lagu dari Sleeping At Last, ini alasannya: 

“Turning Page” — Sleeping At Last

Lagu ini seolah lahir dari inti cerita Sore: Istri dari Masa Depan. “Turning Page” merepresentasikan momen ketika Jonathan akhirnya berhenti menyangkal dan memilih berubah. 

Seperti membuka halaman baru, ia melepaskan pola hidup lama demi masa depan yang lebih panjang bersama Sore. Di sinilah misi perjalanan waktu Sore menemukan artinya—bukan mengulang hari, tapi mengarahkan satu keputusan penting yang mengubah takdir.

Masuk lebih dalam, “Turning Page” juga bisa dibaca sebagai simbol waktu yang diputar ulang. Sore kembali ke titik awal berkali-kali, berharap Jonathan melihat tanda yang sama. 

Lagu ini terasa sejalan dengan ide tersebut: halaman yang dibalik, lalu dibaca ulang, sampai maknanya benar-benar dipahami.

Alternatif Nuansa dari Sleeping At Last

Kalau ingin memperluas atmosfer, lagu seperti “Saturn”, “Neptune”, atau “Light” bisa memberi rasa kosmik yang lembut. 

Nuansa ini menyatu dengan tema jarak dan waktu dalam ost film Sore, terutama rasa tertinggal oleh waktu yang sebelumnya sudah diwakili “Terbuang dalam Waktu”.

Baca Juga, Yah! 80 Rekomendasi Lagu Cinta So Sweet yang Bikin Auto Inget Dia (Versi Lemo Blue)

Daftar OST Film Sore dan Maknanya (Official)

Daftar OST Film Sore dan Maknanya (Official OST)

Setiap lagu di ost film Sore muncul di titik emosi yang berbeda, seperti penanda perasaan Jonathan dan Sore yang terus bergerak seiring waktu.

1. “Forget Jakarta” — Adhitia Sofyan

LemoList, lagu ini terasa seperti halaman yang ditutup pelan-pelan. “Forget Jakarta” bicara soal melepas kenangan pahit dan berani melangkah ke hidup baru, meski bayang-bayang masa lalu masih sesekali muncul. 

Di film, lagu ini merefleksikan nostalgia Jonathan—tentang hidup lamanya yang perlahan harus ia tinggalkan. Ada rasa perpisahan yang tenang, tanpa drama, tapi tetap meninggalkan bekas.

2. “Gaze” — Adhitia Sofyan

Kalau kamu pernah mencintai dari kejauhan, lagu ini bakal terasa dekat. “Gaze” menangkap momen saat seseorang ingin tinggal lebih lama, padahal sadar semuanya sudah berakhir. 

Dalam cerita Sore, lagu ini menyuarakan jarak emosional antara Jonathan dan Sore—tatapan yang penuh makna, tapi tak selalu bisa diucapkan.

3. “Pancarona” — Barasuara

Di bagian ini, emosi mulai bercabang. “Pancarona” berbicara tentang ragu, sepi, dan konflik batin dalam sebuah hubungan. 

Lagu ini terasa seperti isi kepala Jonathan dan Sore ketika cinta bertemu ketidakpastian. Diam, tapi riuh di dalam. Pas menggambarkan fase ketika perasaan tak lagi hitam-putih.

4. “Terbuang dalam Waktu” — Barasuara

Inilah jantung emosi ost film Sore. “Terbuang dalam Waktu” mengalir dari kehilangan menuju penerimaan. 

Lagu ini menangkap rasa tertinggal oleh waktu, sekaligus keyakinan bahwa cinta memberi kekuatan untuk bertahan. Di titik ini, kisah Jonathan dan Sore terasa paling telanjang—tentang mencintai tanpa janji waktu.

5. “Hingga Ujung Waktu” — Sheila on 7

Sebagai penutup, lagu ini datang seperti sumpah yang diucapkan pelan. “Hingga Ujung Waktu” menyampaikan harapan dan kesetiaan setelah melewati luka panjang. 

Diputar di credit title, lagu ini mengikat seluruh perjalanan lintas waktu Jonathan dan Sore dengan rasa hangat—sebuah akhir yang sederhana, tapi menetap di hati.

Baca Juga, Yah! 18 Lagu di Album Never Enough Daniel Caesar, Inspirasinya Dari Kapal yang Lewat

Ketika Lagu Menjadi Waktu yang Tidak Pernah Pergi

Rangkaian ost film Sore—ditambah imajinasi lagu seperti “Turning Page” dari Sleeping At Last—menegaskan satu hal: musik adalah bahasa paling jujur untuk cerita tentang waktu, cinta, dan perubahan hidup. 

Setiap lagu hadir sebagai penanda emosi Jonathan dan Sore, membantu kita memahami keputusan-keputusan kecil yang berdampak besar. Tanpa perlu banyak dialog, lagu-lagu ini berbicara langsung ke perasaan, membuat kisah lintas waktu terasa dekat dan manusiawi.

Buat kamu yang suka menelusuri makna lagu di balik film dan cerita, masih banyak berita musik dan rekomendasi serupa yang bisa kamu temukan. Yuk, lanjutkan perjalanan emosionalmu bareng Lemo Blue.