The Little Things adalah tipe film yang kayak Se7en, bikin nyangkut di kepala setelah credit muncul, apalagi kalau kamu suka thriller yang pelan tapi meninggalkan jejak rasa penasaran.
Los Angeles tahun 1990, kasus pembunuhan berantai, dan dua detektif yang makin tenggelam dalam obsesi mereka sendiri.
Film rilisan 2021 garapan John Lee Hancock ini awalnya ditulis sejak 1993—jadi vibe lawasnya memang kerasa, lengkap dengan nuansa crime, drama, dan misteri yang pekat.
Dari durasi 2 jam lebih ini, kamu bakal diajak masuk ke cerita yang terasa sunyi, gelap, dan penuh tekanan batin yang pelan-pelan mencengkeram.
Table of Contents
Sinopsis The Little Things

Kisah The Little Things mengikuti Joe “Deke” Deacon, mantan detektif L.A. yang pulang ke kota lama dengan bayang-bayang masa lalu. Dia datang sebagai deputi kecil dari Kern County, tapi tanpa sengaja terseret dalam kasus pembunuhan berantai yang bikin kota gelisah.
Korbannya perempuan-perempuan rentan, ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka tusuk dan gigitan.
Di tengah investigasi yang kacau, Deke ketemu Jim Baxter, detektif muda dengan reputasi bersinar.
Baxter tertarik dengan insting Deke yang tajam, sementara rekan-rekan lama Deke justru menjaga jarak karena masa lalu yang gelap.
Dari sinilah hubungan mentor-murid mulai kebentuk. Deke ngajarin Baxter membaca detail kecil—hal-hal sepele di TKP yang sering terlewat, tapi justru membuka arah baru.
Perburuan mereka membawa keduanya pada Albert Sparma, pria penyendiri dengan hobi yang meresahkan. Sparma senang memancing emosi, mempermainkan para detektif, dan selalu hadir di momen-momen penuh tanda tanya.
Profilnya cocok dengan pelaku, tapi setiap bukti keras selalu berujung buntu. Kecurigaan makin besar, tapi hukum tetap nggak bisa menjangkaunya.
Seiring waktu, The Little Things berubah arah dari sekadar mencari siapa pelaku, jadi perjalanan psikologis dua detektif yang makin tenggelam dalam obsesi.
Deke dan Baxter sama-sama mulai melewati batas, dikejar rasa ingin membuktikan sesuatu, hingga lupa bahwa mereka bisa kehilangan diri mereka sendiri. Cerita berkembang seperti thriller klasik era ’90-an, tapi dengan pesan kelam yang menempel lama.
Baca Juga, Yah! Training Day (2001): Nggak Ada Pahlawan Suci atau Penjahat Murni
Penjelasan Ending The Little Things

Bagian ini bakal ngebawa kamu pelan-pelan melihat bagaimana film ini menutup ceritanya tanpa memberi jawaban pasti. The Little Things sengaja dibuat menggantung, supaya kamu ikut merasakan tekanan yang menghantui para karakter.
Konfrontasi Baxter & Sparma di Padang Gurun
Cerita memuncak saat Albert Sparma membawa Baxter pergi ke padang gurun. Dengan nada santai yang bikin merinding, Sparma bilang dia bakal menunjukkan lokasi korban hilang, Ronda Rathbun. Begitu tiba, Sparma mulai menyuruh Baxter menggali di berbagai titik.
Dia terus mengejek, menekan mental Baxter, sampai menyentuh hal yang paling sensitif: keluarganya. Tekanan itu meledak, dan Baxter memukul kepala Sparma dengan sekop sampai pria itu tewas di tempat.
Masa Lalu Gelap Deke yang Terungkap
Tak lama setelah itu, Deke datang dan langsung membaca keadaan. Momen ini memunculkan ingatan lama — saat Deke tanpa sengaja menembak korban yang sebenarnya masih hidup.
Rekan-rekannya menutupinya, tapi rasa bersalah itu menghancurkan hidup Deke dari dalam. Melihat Baxter berada dalam situasi yang sama, Deke tersadar bahwa luka lamanya kembali terbuka.
Pola yang Berulang dan Cover-Up
Deke paham betul tekanan yang menunggu Baxter. Tanpa pikir panjang, dia ambil alih situasi. Deke menyuruh Baxter mengubur tubuh Sparma. Sepanjang malam Baxter terus menggali, berharap menemukan bukti supaya tindakannya terasa benar.
Hasilnya nihil. Deke cuma meninggalkan satu pesan tajam: “It’s the little things that get you caught.” Sekarang, frase itu bukan soal mencari pembunuh, tapi soal menutupi kesalahan mereka berdua.
Misteri Jepit Rambut Merah (Red Barrette)
Beberapa waktu kemudian, Baxter menerima paket berisi jepit rambut merah — aksesori yang selalu dipakai Rathbun saat lari. Baxter menganggap itu bukti bahwa Sparma memang pelakunya. Ada rasa lega, meski samar.
Namun, adegan berikutnya memperlihatkan Deke sedang membakar barang-barang milik Sparma, dan di antara abu itu ada bungkus jepit rambut baru. Deke membeli itu sendiri, lalu mengirimnya untuk menenangkan Baxter.
Apakah Sparma Pembunuh? Clue & Ambiguitas
Filmnya tidak pernah memastikan apakah Sparma benar pelakunya. Clue-nya saling berlawanan, sengaja menempatkan kamu di posisi yang sama seperti kedua detektif itu: tidak punya jawaban.
Sang sutradara, John Lee Hancock, memang menyiapkan dilema ini supaya fokus cerita tetap pada beban moral dan mental dua tokoh utama, bukan pada pelakunya.
Pesan Moral: Obsesi & Guilt yang Menghancurkan
Pada akhirnya, The Little Things menunjukkan bagaimana obsesi bisa membuat orang kehilangan arah.
Deke memilih membohongi Baxter untuk menyelamatkan mentalnya, meski artinya kebenaran bisa saja hilang selamanya dan sang pembunuh asli masih berkeliaran.
Keduanya terjebak pada lingkaran rasa bersalah yang sama, dan film ini menutup tirai dengan nada muram yang sulit dilupakan.
Baca Juga, Yah! Hotel Sakura (2025): Traumanya Dibawa Sampai Mati
Review The Little Things — Worth It atau Skip?

Sebelum kamu masuk ke poin-poin pentingnya, bagian review ini bakal ngebantu kamu melihat The Little Things dari dua sisi: kekuatan yang bikin filmnya terasa menarik, dan kelemahan yang bikin penonton terbagi dua.
Kekuatan Film — Akting, Atmosfer, dan Tema Kelam
Kekuatan terbesar The Little Things ada di jajaran aktornya. Denzel Washington ngasih lapisan emosi yang dalam banget, bikin karakter Deke terasa rapuh sekaligus berbahaya. Jared Leto datang seperti kartu liar, unpredictable, selalu bikin suasana terasa nggak aman.
Kehadirannya nambah tensi setiap kali muncul. Film ini juga punya atmosfer ’90-an yang pekat: lampu neon, jalanan kusam, dan ritme kota Los Angeles yang muram. Fokus film pada tekanan mental para detektif bikin ceritanya terasa lebih dekat pada karakter daripada misterinya.
Kekurangan Film — Pacing dan Ending yang Bikin Penonton Pecah Dua
Meski suasananya kuat, pacing film ini cenderung lambat. Buat kamu yang berharap misteri dengan ritme cepat, film ini bisa terasa nyeret.
Ending-nya pun jadi bahan diskusi panas. Mungkin kamu akan kesal karena tidak diberi jawaban pasti soal siapa pembunuhnya. Bisa juga kamu mikir kalau filmnya terasa “nggak ke mana-mana,” dan twist yang diharapkan tidak muncul.
Kalau Menurut Lemo Blue Sih…
Film ini cocok buat kamu yang suka thriller slow-burn, karakter rusak secara emosional, dan cerita yang bermain dengan ambiguitas moral.
Kalau kamu nggak masalah dengan ending tanpa resolusi dan lebih suka mengikuti perjalanan psikologis tokohnya, The Little Things bakal terasa memuaskan. Tapi kalau kamu tipe penonton yang haus jawaban jelas, ini bisa bikin kamu frustasi.
Secara keseluruhan, The Little Things worth it buat LemoList yang menghargai akting kelas Oscar dan suasana gelap yang menempel lama. Ceritanya terasa klasik, tapi nggak mengikuti pola thriller modern yang rapi.
Kalau kamu mencari plot yang tuntas dan twist besar, film ini mungkin terasa kurang greget. Namun kalau kamu suka film yang meninggalkan pertanyaan—dan bikin kamu mikir setelah credit bergulir—film ini layak masuk daftar tontonan.
Daftar Pemain The Little Things
Para aktor ini jadi tulang punggung cerita yang bikin kamu betah menebak-nebak arah kasusnya.
- Denzel Washington sebagai Joe “Deke” Deacon
- Rami Malek sebagai Jim Baxter
- Jared Leto sebagai Albert Sparma
- Natalie Morales sebagai Detective Jamie Estrada
- Terry Kinney sebagai LASD Captain Carl Farris
- Michael Hyatt sebagai Flo Dunigan (Coroner)
- Chris Bauer sebagai Sal Rizoli
Penutup yang Menggantung, Tapi Menggigit
Di akhir perjalanan The Little Things, kamu bakal sadar kalau film ini sengaja menarikmu ke dalam sudut gelap pikiran para karakternya. Jawaban tidak selalu hadir, dan justru itu yang bikin ceritanya terasa lebih manusiawi.
Beban moral, penyesalan yang menempel bertahun-tahun, hingga keputusan-keputusan kecil yang ternyata punya dampak besar—semua terasa nyata dan membekas.
Lewat pendekatan slow-burn, film ini mendorong kamu untuk ikut mengurai benang kusut di balik kasus misterius yang tak pernah benar-benar selesai. Jika kamu suka thriller yang menggugah sisi psikologis, film ini layak kamu nikmati sampai akhir.
Dan kalau kamu ingin terus eksplor cerita-cerita menarik lainnya, LemoList bisa lanjut baca berita film dan update series terbaru di Lemo Blue—siapa tahu kamu menemukan tontonan seru berikutnya.

