Reliquia adalah lagu Rosalía yang terasa seperti catatan perjalanan jiwa—penuh kehilangan, tapi juga penuh makna. Dari album Lux, lagu ini tentang gimana seseorang bisa “memberikan dirinya” sampai tak bersisa.
Kamu bakal diajak menyelami metafora yang dalam banget—tentang perjalanan, pengorbanan, dan hati yang nggak pernah benar-benar jadi milik sendiri.
Tiap kota yang disebut dalam liriknya kayak fragmen kenangan yang tertinggal, satu per satu, sampai akhirnya cuma tersisa “reliquia”—relik diri yang suci dan rapuh sekaligus.
Table of Contents
Makna Lagu Reliquia Rosalía

Kalau kamu dengerin lagu Reliquia, rasanya kayak diajak jalan jauh ke dalam diri Rosalía sendiri. Lagu ini penuh simbol dan metafora yang bikin kita ngerasa dekat sama sisi paling rapuh dari sang artis.
1.Suci Dan Rapuh
Kata Reliquia berarti “relik”—sesuatu yang suci, tapi juga rapuh karena waktu. Rosalía pakai simbol ini buat menggambarkan kehilangan kecil yang dialami sepanjang hidupnya.
Bayangin kayak patung tua yang sedikit demi sedikit hancur: tangan hilang, mata pudar, tapi maknanya justru makin dalam.
Di lagu ini, setiap bagian yang hilang jadi representasi dari kepolosan dan rasa diri yang ikut terkikis dalam perjalanan panjangnya.
2. Pengorbanan dan Devosi
Rosalía selalu punya cara unik buat nyampurin spiritualitas dengan emosi manusia.
Dalam Reliquia, dia seperti sedang berdoa lewat musik—menyinggung kisah Santa Rosalia dari Palermo, sosok yang rela meninggalkan dunia demi hidup dalam kesunyian.
Lagu ini jadi refleksi tentang pengorbanan: bagaimana seseorang bisa rela kehilangan banyak hal untuk sesuatu yang ia yakini sebagai panggilan jiwanya.
3. Hati yang Tak Pernah Jadi Milik Sendiri
Di bagian reff, Rosalía menyanyikan kalimat yang menusuk: “But my heart has never been mine, I always give it away.”
Dari situ jelas banget kalau Reliquia bukan cuma soal kehilangan benda atau waktu, tapi tentang hati yang selalu terbagi—buat cinta, buat musik, buat semua orang yang pernah ia temui.
Setiap potongan dirinya seolah diberikan sebagai kenangan yang abadi, seperti relik yang disimpan orang lain.
3. Perjalanan, Luka, dan Jejak Diri
Setiap kota yang disebut di lagu Reliquia punya cerita. Dari Paris sampai Bangkok, dari Madrid sampai Buenos Aires, semua tempat itu jadi simbol potongan hidup Rosalía yang tertinggal di sana.
Lewat daftar kehilangan itu, dia kayak bilang: “Aku tumbuh dari setiap yang hilang.” Lagu ini jadi semacam peta emosional, menunjukkan gimana perjalanan bisa mengikis sekaligus membentuk seseorang.
Baca Juga, Yah! ‘Berghain’ ROSALÍA, Björk & Yves Tumor: Nemuin Makna Di Balik Luka
Fakta di Balik Penulisan Reliquia Rosalía

Ada satu hal menarik yang perlu kamu tahu—ternyata beberapa liriknya terinspirasi dari kejadian nyata, tapi nggak semuanya benar-benar terjadi. Rosalía sendiri pernah buka-bukaan soal ini di wawancara.
Pengakuan Rosalía di Wawancara Apple Music
Dalam sesi santai itu, Rosalía ditanya seberapa jujur lirik Reliquia dengan kehidupan aslinya.
Dengan tawa kecil, dia cuma bilang, “Some… a lot… maybe a lot not, who knows?” Jawaban itu bikin fans makin penasaran.
Dari situ jelas kalau lagu ini bukan catatan literal, tapi campuran antara realita, imajinasi, dan kenangan yang disulam jadi satu cerita besar.
Dua Lirik yang Terbukti Nyata
Meski sebagian liriknya samar antara fiksi dan fakta, ada dua baris yang Rosalía sendiri akui benar adanya.
Pertama, ketika ditanya tentang kalimat “I lost my tongue in Paris, my time in LA,” dia mengangguk dan bilang, “That’s fact.”
Katanya, Los Angeles memang tempat di mana dia “kehilangan waktu”—mungkin karena sibuk, mungkin juga karena hati yang lagi berat.
Yang kedua, soal baris “My heels in Milan, my smile in the UK.” Rosalía tertawa dan mengakui kalau kehilangan sepatu hak di Milan memang kejadian nyata.
Detail kecil yang tampak sepele itu justru jadi simbol betapa Reliquia lahir dari potongan pengalaman hidup yang nyata, campur aduk antara kehilangan, kenangan, dan perjalanan panjangnya di dunia musik.
Baca Juga, Yah! ‘Have a Baby (with me)’ Daniel Caesar: Maksudnya Bukan “Itu” Kok!
Lirik dan Terjemahan Reliquia Rosalía

Setiap barisnya terasa seperti potongan perjalanan hidup Rosalía—tempat di mana ia kehilangan sedikit demi sedikit dirinya di setiap kota yang ia singgahi.
Yo que perdí mis manos en Jerez y mis ojos en Roma
(Aku kehilangan tanganku di Jerez dan mataku di Roma)
Crecí y el descaro lo aprendí por ahí por Barcelona
(Aku tumbuh dan belajar berani di sekitar Barcelona)
Perdí mi lengua en París, mi tiempo en LA
(Aku kehilangan lidahku di Paris, dan waktuku di Los Angeles)
Los heels en Milán, la sonrisa en UK
(Sepatu hakku di Milan, senyumku di Inggris)
Pero mi corazón nunca ha sido mío, yo siempre lo doy
(Tapi hatiku tak pernah jadi milikku, aku selalu memberikannya)
Coge un trozo de mí, quédatelo pa’ cuando no esté
(Ambil sepotong diriku, simpanlah untuk saat aku tiada)
Seré tu reliquia / Soy tu reliquia
(Aku akan jadi relikmu / Aku adalah relikmu)
Perdí la fe en DC, y la amiga en Bangkok
(Aku kehilangan imanku di DC, dan sahabatku di Bangkok)
Un mal amor en Madrid, y en México el blunt
(Sebuah cinta buruk di Madrid, dan sebatang di Meksiko)
La mala hostia en Berlín, y el arte en Graná’
(Sifat burukku di Berlin, dan seniku di Granada)
En PR nació el coraje pero el cielo nació en Buenos Aires
(Di Puerto Rico lahir keberanianku, tapi langit lahir di Buenos Aires)
En Japón lloré y mis pestañas deshilé
(Di Jepang aku menangis dan melepas bulu mataku)
Y en la ciudad de cristal fue que me trasquilé
(Dan di kota kaca itu aku memotong rambutku dengan buruk)
Pero el pelo vuelve a crecer, la pureza también
(Tapi rambut akan tumbuh lagi, begitu pula dengan kemurnian)
La pureza está en mí, y está en Marrakech
(Kemurnian ada dalam diriku, dan ada di Marrakech)
No, no, no soy una santa pero estoy blessed
(Tidak, aku bukan orang suci tapi aku diberkati)
Huyendo de aquí como huí de Florida
(Aku berlari dari sini seperti dulu aku kabur dari Florida)
Somos delfines saltando, saliendo y entrando
(Kita seperti lumba-lumba melompat, muncul dan menghilang)
En el aro escarlata y brillante del tiempo
(Dalam lingkar waktu yang merah berkilau)
Es solo un momento, es solo un momento
(Ini hanya sebuah momen, hanya sebuah momen)
Mar eterno y bravo, la eterna canción
(Laut yang abadi dan bergelora, lagu yang abadi)
Ni tiene salida, ni tiene mi perdón
(Tak punya jalan keluar, tak punya pengampunanku)
Reliquia Sebagai Cermin Jiwa Rosalía
Lagu Reliquia terasa seperti potret diri Rosalía yang paling jujur—fragmen dari perjalanan, kehilangan, dan pengorbanan yang ia rangkai jadi puisi.
Setiap kota, setiap benda yang “hilang,” dan setiap perasaan yang ia tinggalkan di sepanjang jalan mencerminkan proses menjadi manusia yang penuh luka tapi tetap ingin memberi.
Di balik semua metafora spiritualnya, Rosalía menunjukkan bahwa keindahan sejati kadang lahir dari bagian-bagian diri yang pernah runtuh.
Dan kalau kamu merasa lagu ini meninggalkan bekas di hati, itu wajar—karena Reliquia memang dibuat untuk menyentuh sisi terdalam manusia.
Yuk, terus eksplorasi berita musik lain di Lemo Blue, biar kamu nggak ketinggalan kisah dan makna menarik dari musisi dunia yang selalu punya cerita di balik setiap nada.

