Pada Mid Credit Scene The Great Flood sebenarnya ngejelasin banyak hal tentang film ini. Tapi, kamu merasa dejavu nggak sih? The Great Flood, The 100, dan Sore: Istri dari Masa Depan—tiga judul ini mungkin terlihat berdiri di jalur masing-masing, tapi begitu kamu ngelihat lebih dekat, rasanya ada benang halus yang diam-diam menyambung dan bikin dejavu.
Awalnya The Great Flood dikira cuma film bencana penuh air dan kepanikan. Tapi pelan-pelan, ceritanya berbelok. Kita diajak ngikutin An Na yang terjebak dalam pengulangan waktu ribuan kali, bukan buat kabur dari kiamat, tapi buat memahami dirinya sendiri.
Di titik ini, nuansanya langsung keinget Sore, sementara bayangan bumi pasca-apokaliptik yang menunggu “penghuni baru” bikin ingatan melayang ke The 100. Kebetulan? Atau memang satu timeline bumi yang terasa nyambung?
Table of Contents
Mid Credit Scene The Great Flood: Bumi yang Kembali Hijau

Mid credit scene The Great Flood berhenti jadi sekadar penutup, dan mulai terasa seperti awal dari cerita lain yang lebih besar.
Bangun di Kapal Luar Angkasa, Bukan di Rumah
Kamu mungkin kaget, An Na dan Ja In membuka mata bukan di reruntuhan bumi, tapi di dalam sebuah kapal luar angkasa yang sedang melaju pulang. Lewat jendela, kamera menyorot Bumi dari kejauhan.
Ending film The Great Flood perlahan nunjukkin daratan Afrika terlihat berubah warna—hijau. Bukan sekadar visual cantik, tapi tanda bahwa planet yang sempat tenggelam total itu akhirnya pulih.
Mid Credit Scene The Great Flood ini artinya adalah kehidupan mulai tumbuh lagi, dan bumi seolah siap menerima penghuninya kembali.
Generasi Manusia Baru
Nah, di sinilah maknanya makin dalam. An Na dan Ja In bukan manusia biasa. Mereka adalah manusia sintetis yang membawa emosi, memori, dan rasa empati manusia lama.
Mid credit scene The Great Flood memberi sinyal bahwa merekalah generasi pertama yang akan mengisi bumi baru ini.
Bukan sebagai penakluk, tapi sebagai kelanjutan peradaban—versi evolusi manusia yang lahir dari kegagalan, pengulangan, dan harapan.
Paralel yang Sulit Diabaikan dengan The 100
Pada Mid Credit Scene The Great Flood rasanya seperti deja vu. Film ini pelan-pelan membuka memori lama buat kamu yang pernah ngikutin perjalanan manusia kembali ke Bumi versi The 100.
Kembali ke Bumi Setelah Dianggap Tak Layak Huni
Di akhir cerita, the great flood memperlihatkan An Na dan Ja In pulang dari luar angkasa menuju planet yang sempat dianggap mati total.
Momen ini langsung mengingatkan pada The 100, saat Clarke dan 99 remaja diturunkan dari The Ark.
Reaksinya sama: kaget. Bumi yang seharusnya berbahaya justru menyambut dengan alam hijau dan tanda kehidupan baru. Pulang ke rumah ternyata bukan tentang nostalgia, tapi tentang keberanian memulai ulang.
Lemolist bisa liat trailernya:
Air vs Api — Dua Kiamat, Satu Bumi
Perbedaannya terletak pada cara dunia runtuh. Di The 100, kiamat datang lewat api, nuklir, dan radiasi. Di The Great Flood, kehancuran dipicu asteroid yang menghantam Antartika dan menenggelamkan dunia dalam air.
Jalurnya berbeda, hasilnya mirip: peradaban lama lenyap, Bumi butuh waktu panjang untuk sembuh, dan manusia dipaksa menunggu dari kejauhan.
Evolusi Manusia di Akhir Zaman
Nah, di sinilah ceritanya bercabang. The 100 masih berbicara tentang manusia biologis dengan segala konflik klasiknya. Sementara Mid Credit Scene The Great Flood nunjukkin kisah dengan manusia sintetis—makhluk baru yang mewarisi emosi dan ingatan manusia lama.
Pertanyaannya jadi sederhana tapi dalam: di dunia yang sudah hancur dan lahir kembali, apa yang sebenarnya membuat seseorang layak disebut manusia?
Kalau Ada The Great Flood 2, Arahnya ke Mana?

Setelah bahas makna ending dan Mid Credit Scene The Great Flood. Bagian ini terasa seperti pintu yang sengaja dibiarkan setengah terbuka. Dari sini, imajinasi penonton mulai bekerja. Apa jadinya kalau ada The Great Flood 2?
Fase Survival Baru di Bumi yang Hijau
Kalau kamu membayangkan scene The Great Flood 2, arahnya kemungkinan besar bukan lagi soal banjir atau simulasi.
Cerita justru masuk ke fase paling dasar: bertahan hidup. An Na dan Ja In, sebagai manusia sintetis, harus belajar berhadapan langsung dengan dunia fisik—tanah, udara, rasa lapar, dan ancaman alam yang belum tentu ramah.
Seperti di The 100, pencarian sumber daya di sisa-sisa peradaban lama jadi langkah awal sebelum dunia baru ini benar-benar bisa dihuni.
Ancaman yang Mungkin Masih Tertinggal
Namun bertahan hidup jarang sesederhana itu, Lemolist. The Great Flood 2 juga berpotensi membuka konflik baru. Bisa saja ada sisa manusia lama yang selamat, atau kelompok lain yang lebih dulu beradaptasi di daratan.
Di titik ini, benturan antara “manusia lama” dan “manusia baru” terasa tak terhindarkan. Dunia sudah reset, tapi naluri bertahan hidup tetap membawa risiko yang sama: siapa yang berhak atas bumi yang baru lahir kembali ini?
Akhir yang Terlihat Seperti Awal
Mid Credit Scene The Great Flood meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dari sekadar film bencana. Lewat time loop, manusia sintetis, dan bumi yang kembali hijau, ceritanya terasa nyambung dengan semesta lain seperti The 100 dan Sore: Istri dari Masa Depan, meski tanpa hubungan resmi.
Justru di situlah daya tariknya: penonton diajak menyusun kepingan sendiri, membaca tanda-tanda kecil, dan bertanya apakah kiamat selalu berarti akhir, atau justru titik restart peradaban.
Buat Lemolist yang suka mengulik detail, teori, dan benang merah tersembunyi di balik layar, film ini jadi bahan diskusi yang nggak habis dibahas.
Kalau kamu masih penasaran dengan kemungkinan lanjutan ceritanya, atau ingin tenggelam lebih jauh ke semesta film dan series lain dengan sudut pandang segar, langsung saja jelajahi lebih banyak berita film dan ulasan pilihan bareng kami di Lemo Blue.