Materialists membuka cerita dengan tenang tapi langsung terasa dingin—seperti cinta yang dihitung pakai logika. Film ini adalah karya terbaru Celine Song, sutradara Past Lives, yang kali ini menggandeng A24 untuk mengulik romansa modern dari sudut yang lebih realistis.
Dirilis di bioskop pada Agustus 2025 sebelum akhirnya tayang di Netflix Desember 2025, Materialists berdurasi 117 menit dan memadukan romance, comedy, dan drama.
Difilmkan dengan format 35mm, visualnya terasa elegan dan intim. Dengan rating R, film ini jelas ditujukan untuk penonton dewasa yang siap melihat cinta tanpa filter manis.
Table of Contents
Sinopsis Film Materialists Tentang Apa?

Sebelum masuk ke detail ceritanya, kamu perlu tahu satu hal: film Materialists bukan romansa yang hangat sejak menit awal. Film ini sengaja dingin, rapi, dan terasa terukur—seperti cara tokoh utamanya memandang cinta.
Sinopsis Materialists
Kita dikenalkan pada Lucy, matchmaker kelas atas di New York City. Ia terbiasa memperlakukan hubungan sebagai sistem: data penghasilan, status sosial, dan kecocokan di atas kertas.
Setiap klien dipasangkan layaknya transaksi bernilai tinggi. Di kota yang kompetitif dan individualistis, pendekatan Lucy terasa masuk akal—sampai akhirnya ia sendiri terjebak dalam perasaan yang tak bisa dihitung.
Konflik: Segitiga Cinta yang Jadi Inti Konflik
Saat hidup Lucy berubah arah. Ia berada di antara Harry, pendiri startup kaya yang stabil dan nyaris sempurna secara sosial, dan John, mantan kekasihnya yang masih berjuang sebagai aktor.
Harry menawarkan masa depan yang aman dan terstruktur, sementara John hadir dengan emosi mentah dan hubungan yang penuh sejarah. Pilihan Lucy bukan soal siapa yang lebih baik, tapi siapa yang lebih nyata baginya.
Konflik personal Lucy makin dalam ketika kliennya, Sofia, mengalami kekerasan saat kencan. Momen ini menjadi tamparan keras: algoritma cinta tidak pernah memasukkan faktor rasa aman dan kemanusiaan.
Lewat cerita ini, film Materialists menyentil standar pasangan ideal, obsesi status, dan sisi gelap budaya kencan modern—tanpa perlu berteriak, tapi cukup untuk bikin kamu berhenti sejenak dan mikir.
Penjelasan Ending Materialists (FULL SPOILER)

Sebelum membedah akhirnya, penting dicatat kalau film Materialists sejak awal memang menyiapkan penonton untuk sebuah penutup yang reflektif, bukan twist dramatis ala rom-com klasik.
Keputusan Lucy di Akhir Cerita
Di momen penentuan, Lucy akhirnya memilih John. Bukan karena John lebih mapan atau lebih “ideal”, tapi karena perasaannya jelas.
Sementara itu, Harry—dengan segala stabilitas dan usahanya memenuhi standar pasangan sempurna, bahkan sampai operasi kosmetik demi terlihat lebih tinggi—tetap tidak bisa menumbuhkan cinta Lucy.
Pilihan ini menegaskan bahwa rasa tidak bisa dipaksa tumbuh hanya karena seseorang memenuhi semua kriteria sosial. Harry pun tidak diposisikan sebagai tokoh jahat; ia hanya bukan orang yang tepat.
Makna “Caveman Wedding”
Film ini menutup cerita dengan kembali ke alegori “caveman wedding” yang sudah muncul sejak awal. Adegan manusia purba saling bertukar bunga dan alat sederhana menggambarkan relasi yang lahir dari kebutuhan dan kebersamaan, bukan nilai ekonomi.
Paralelnya jelas saat John melamar Lucy dengan cincin bunga. Tidak mewah, tapi penuh makna. Di situlah film Materialists menegaskan sikapnya soal cinta yang berdiri di luar logika pasar.
Pesan Moral Ending Materialists
Akhir cerita menyoroti satu hal sederhana: cinta sering berjalan di luar akal sehat. Kecocokan di atas kertas, data, dan status sosial tidak otomatis sejalan dengan kebutuhan emosional.
Lucy memilih masa depan yang mungkin tidak aman secara finansial, tapi jujur secara perasaan. Dan dari sana, film Materialists mengajak kamu mempertanyakan ulang: seberapa jauh cinta seharusnya bisa diukur?
Review Materialists — Worth It atau Skip?

Sebelum kamu mutusin nonton atau enggak, bagian ini penting. Film Materialists bukan tipe tontonan yang langsung bikin senyum-senyum. Film ini lebih ke ngajak ngobrol pelan, lalu ninggalin kamu dengan pikiran yang agak penuh.
Kelebihan Film
Dari kacamata Lemo Blue, kekuatan utama film ini ada di kejujurannya. Dengan skor 77% Tomatometer, banyak kritikus melihat Materialists sebagai rom-com yang dewasa dan tajam.
Dialognya reflektif, kadang sinis, dan terasa lebih dingin dibanding Past Lives. Visual 35mm bikin suasana New York terlihat elegan tapi berjarak, pas dengan tema cerita. Ini film yang percaya pada percakapan, bukan drama berisik.
Kekurangan Film
Di sisi lain, respons penonton lebih terbelah dengan 66% Popcornmeter. Ada yang menikmati jajaran pemainnya, tapi ada juga yang merasa naskahnya kering dan chemistry beberapa karakter utama kurang nyantol. Ritmenya lambat dan dialog-heavy, jadi kalau kamu nonton sambil cari pelarian ringan, film ini bisa terasa melelahkan.
Worth It untuk Siapa?
Buat LemoList! yang suka film reflektif tentang hubungan dewasa, film Materialists jelas worth it. Film ini seperti memilih rumah: penthouse modern yang rapi tapi dingin, atau rumah lama yang bocor tapi penuh kenangan.
Lucy memilih yang kedua. Kalau kamu nyaman dengan cerita seperti itu, film ini akan kena. Tapi kalau kamu cari rom-com manis buat ketawa ringan, sebaiknya skip dan simpan untuk mood lain.
Daftar Pemain Materialists
Setelah masuk ke cerita lebih jauh, kenalan juga dengan wajah-wajah yang menghidupkan konflik di film ini. Para pemainnya jadi kunci kenapa relasi antar karakter terasa personal dan penuh gesekan.
- Dakota Johnson sebagai Lucy, matchmaker ambisius yang percaya cinta bisa diatur, sampai perasaannya sendiri ikut berantakan.
- Pedro Pascal sebagai Harry, pria mapan dan nyaris sempurna di atas kertas.
- Chris Evans sebagai John, mantan kekasih Lucy yang masih berjuang sebagai aktor.
- Zoe Winters sebagai Sofia, klien Lucy yang berprofesi sebagai pengacara sukses.
- Marin Ireland sebagai Violet.
Line-up ini bikin dinamika cerita film ini terasa hidup, tanpa perlu drama berlebihan.
Materialists dan Cinta yang Tak Bisa Dihitung
Di akhir cerita, Materialists meninggalkan kesan yang tenang tapi menggugah. Film ini tidak sibuk mengajarkan mana pilihan yang paling benar, melainkan menunjukkan bahwa cinta dewasa sering lahir dari keputusan yang jujur, meski terasa tidak aman.
Lewat Lucy, kita diajak melihat bagaimana standar, data, dan status bisa runtuh saat berhadapan dengan perasaan yang nyata. Materialists terasa dekat karena ia membicarakan dilema yang mungkin juga pernah kamu rasakan.
Buat Lemolist yang menikmati cerita reflektif seperti ini, perjalanan filmnya tidak berhenti di sini. Masih banyak berita film dan serial menarik yang bisa kamu eksplorasi di Lemo Blue, dari ulasan jujur sampai insight pop culture yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

