“Eh… kapan terakhir kali aku beneran ngobrol sama orang rumah?”
if this is the last time selalu punya cara bikin kamu berhenti sebentar dan mikir itu. Lagu LANY yang rilis 1 Juli 2020 ini lahir dari momen kecil tapi nusuk: Paul Klein lagi di pesawat ke Beijing, kepikiran pamannya yang makin tua, lalu muncul pertanyaan yang nyesek itu—
“Gimana kalau nanti ketemu dia… untuk terakhir kalinya?”
Dari nuansa akustik yang ringan sampai dentuman gitar yang makin dalam, kamu bakal diajak menyelam ke rasa takut kehilangan yang diam-diam kita semua punya. Dan di masa pandemi waktu itu, lagu ini jadi pelukan yang banyak orang butuhin.
Table of Contents
Makna Lagu if this is the last time LANY (Analisis per Bagian)

Menurut sudut pandang Lemo Blue, lagu ini kayak seseorang yang akhirnya berani ngomong jujur ke keluarganya setelah lama simpan semuanya sendiri.
Verse 1 – Bicara ke Ibu: Momen yang Bikin Kamu Ingin Pulang
Begitu masuk verse pertama, lagu if this is the last time langsung nyentuh ranah paling lembut: hubungan anak dan ibu.
Ada pengakuan tentang waktu yang berubah pelan-pelan—garis di tangan, wajah yang nggak sama lagi—tapi tatapan ibu tetap hangat seperti dulu.
Narator ngeliat ibunya sebagai sosok tangguh yang selalu ngejaga tanpa banyak bicara. Rasa terima kasihnya terasa tulus, kayak akhirnya dia sadar betapa banyak hal yang ibunya korbankan supaya hidupnya berjalan baik.
Pre-Chorus – Luka Kecil yang Diam-diam Kita Simpan
Masuk ke pre-chorus, suasana berubah jadi refleksi. Narator mulai jujur soal kesalahan, mulai dari nada suara sampai keputusan-keputusan impulsif yang dulu bikin keluarga cemas. Ada penyesalan yang nggak meledak-ledak, tapi tenang dan nyesek.
Kalimat tentang hidup yang “terbang begitu cepat” terasa kayak tamparan lembut—pengingat bahwa waktu barusan lewat tanpa kita sadari.
Verse 2 – Bicara ke Ayah: Kenangan yang Menempel Sampai Dewasa
Setelah obrolan hangat dengan ibu, lagu ini geser ke sosok ayah dengan nuansa yang beda—lebih sunyi, lebih penuh kenangan.
Di bait ini, narator ngomong ke ayahnya dengan rindu yang dalam. Rambut ayah berubah, tapi rasa hormatnya nggak pernah bergeser.
Ada kilasan-kilasan memori sederhana: belajar mancing, naik sepeda, pelajaran tentang cinta dan bagaimana memperlakukan orang lain. Semuanya adalah hal kecil yang ternyata nempel sampai narator tumbuh dewasa.
Chorus – Ketakutan yang Kita Tutupi dengan Senyum
Oke, sekarang kita masuk bagian paling emosional. Di chorus, inti dari if this is the last time muncul jelas—ketakutan kehilangan yang nggak pernah mau kita ucapin lantang.
Permintaan “tolong dekatlah” terasa kayak seseorang yang akhirnya mengaku bahwa perpisahan itu menakutkan. Narator bilang dia jelek dalam soal perpisahan; jujur banget, dan justru itu yang bikin chorusnya ngena.
Yang bikin makin menyentuh adalah ajakannya untuk menikmati hal-hal kecil yang biasa dilakukan bareng orang tua—jalan ke mall, beli sepatu, nonton berita, atau sekadar naik mobil bareng. Hal-hal sederhana yang baru kerasa mahal ketika kita kepikiran
“bagaimana kalau ini terakhir kalinya?”
Bridge – Pesan Pelan yang Sering Kita Abaikan
Sebelum lagu selesai, bridge muncul seperti bisikan. Isinya cuma ajakan untuk duduk dan memperlambat hidup sebentar. “Jangan terlalu cepat.” Kadang kita nggak butuh nasihat panjang—cukup ingatan kecil bahwa hidup nggak harus dikejar terus-terusan.
Dan di titik ini, lagu ini benar-benar terasa seperti seseorang yang sayang sama kamu, ngajak kamu berhenti sejenak, dan menikmati momen yang sering kamu lewati tanpa sadar.
Baca Juga, Yah! ‘Streetcar’ Daniel Caesar: Aku Sebenarnya Mau Ke Mana Sih?
Kenapa lagu if this is the last time Begitu Menyenggol?

Lagu ini bukan sekadar cerita anak ke orang tua. Ini kayak cermin kecil yang diam-diam ngasih tahu kamu hal-hal yang sering kamu hindari—tentang waktu, tentang pulang, tentang rasa takut yang nggak pernah kamu ucapin.
1. Luka Sunyi yang Jarang Kita Akui: Takut Kehilangan Keluarga
Di balik lirik yang lembut, lagu if this is the last time menyimpan rasa ngilu yang dekat banget dengan realita: kita semua takut momen terakhir. Narator sadar bahwa orang tuanya nggak selamanya ada di posisi yang sama.
Perubahan kecil—garis di tangan, rambut yang memudar—jadi pengingat bahwa waktu nggak pernah nunggu. Lagu ini ngebuka perasaan yang sering kita simpan rapat: takut kehilangan sosok yang membesarkan kita sejak kecil.
2. Ketika Hal Sederhana (Nonton Berita, Belanja Sepatu) Tiba-tiba Jadi Mewah
Aktivitas remeh seperti pergi ke mall sama ibu atau nonton berita bareng ayah berubah jadi momen yang nggak ternilai.
Lagu ini nunjukin bahwa kualitas hubungan nggak selalu datang dari gesture besar. Kadang momen paling berharga lahir dari rutinitas yang kita lakukan tanpa pikir panjang—sampai suatu hari kita sadar, “Eh, kok aku kangen ya?”
3. “Last Time” Nggak Selalu Dramatis — Kadang Hanya Momen Biasa yang Terjadi Sekali
LANY ngingetin bahwa momen terakhir nggak selalu kayak adegan film yang penuh air mata atau pidato panjang. Momen terakhir bisa sesederhana obrolan ringan, tawa kecil, atau perjalanan singkat tanpa tujuan.
Lagu if this is the last time ngajarin bahwa kita nggak selalu sadar kapan sesuatu terjadi “untuk terakhir kalinya,” jadi lebih baik kita hadir penuh sekarang, apa pun bentuk momennya.
Baca Juga, Yah! ‘Blessed’ Daniel Caesar: Cinta Nggak Selalu Sempurna (Kamu Tetap Rumah Bagiku)
Momen yang Nggak Bisa Diulang, Tapi Bisa Kita Hargai dari Sekarang

Lagu if this is the last time adalah pengingat yang jujur bahwa hidup nggak pernah janji soal waktu. Lewat obrolan sederhana dengan ibu dan ayah, LANY ngajak kita ngeliat kembali hal-hal kecil yang ternyata punya ruang besar di hati.
Lagu ini menampar halus, bilang bahwa kebersamaan nggak perlu menunggu momen spesial—cukup hadir, cukup dekat.