Menjadi penulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi juga tentang prinsip yang membentuk karakter di balik setiap tulisan. Bagi Erich Susilo, menulis adalah perjalanan panjang yang tidak selalu mulus, namun justru dari proses itulah muncul nilai-nilai yang ia pegang teguh. Prinsip-prinsip inilah yang membuat tulisannya terasa dekat, jujur, dan relevan bagi banyak pembaca.
1. Kejujuran adalah Fondasi Utama
Prinsip pertama yang selalu dijaga Erich adalah kejujuran.
Ia menulis apa adanya, tidak berusaha terlihat sempurna, dan tidak memaksakan citra tertentu. Menurutnya, tulisan yang baik bukan yang terdengar paling indah, tetapi yang paling jujur mencerminkan pikiran dan perasaan penulisnya.
Dengan kejujuran ini, pembaca merasakan keaslian yang jarang ditemukan di era konten serba dipoles. Tulisannya menjadi tempat di mana ia bisa berbicara apa adanya tanpa harus memikirkan pencitraan.
2. Menulis dari Hal Sederhana
Erich percaya bahwa inspirasi tidak harus datang dari peristiwa besar. Sebaliknya, ia justru menemukan banyak ide dari hal-hal kecil: secangkir kopi pagi, perjalanan ke kantor, percakapan singkat, atau suasana hujan.
Prinsipnya:
Jika ditulis dengan hati, hal kecil pun bisa menjadi cerita yang berarti.
Ini yang menjadikan gaya menulisnya relatable dan dekat dengan pembaca.
3. Konsistensi Lebih Penting dari Mood
Banyak orang menulis hanya ketika mood sedang bagus. Tetapi Erich punya prinsip berbeda: konsistensi lebih penting daripada mood.
Maka meski sedang lelah setelah bekerja, ia tetap meluangkan waktu untuk menulis, membaca, atau mengembangkan ide—bahkan hanya 15–20 menit sekalipun.
Bagi Erich, konsistensi adalah alat yang membuat seorang penulis berkembang. Talenta mungkin bawaan lahir, tetapi ketekunan adalah yang membuat tulisan menjadi matang.
4. Tulisan adalah Cermin Diri
Prinsip lain yang kuat adalah bahwa setiap tulisan adalah cermin diri.
Apa yang ia tulis bukan hanya cerita, tetapi proses mengenal dirinya sendiri. Menulis menjadi cara untuk memahami apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, dan apa yang ia alami.
Dengan prinsip ini, menulis bagi Erich bukan sekadar produksi konten—melainkan bentuk introspeksi yang membuatnya terus bertumbuh sebagai pribadi.
5. Tidak Perlu Menjadi Sempurna
Salah satu prinsip yang membebaskan Erich adalah keyakinan bahwa tulisan tidak harus sempurna. Perfeksionisme justru membuat penulis berhenti menulis. Ia lebih memilih untuk merilis tulisan yang jujur dan selesai daripada menahan ide terlalu lama.
Menurutnya:
Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai, bukan tulisan yang sempurna.
Dengan melepas tuntutan ini, ia bisa menulis dengan lebih santai dan otentik.
6. Menulis Adalah Investasi Jangka Panjang
Bagi Erich, menulis bukan sesuatu yang langsung menghasilkan. Ia sadar bahwa perjalanan menjadi penulis tidak instan. Karena itu ia selalu melihat menulis sebagai investasi jangka panjang—sesuatu yang semakin hari akan membentuk identitasnya.
Setiap tulisan, sekecil apa pun, adalah batu bata yang memperkuat fondasi mimpinya sebagai penulis.
7. Menulis untuk Berbagi, Bukan Menggurui
Prinsip penting lainnya: menulis bukan untuk mengajari, tetapi untuk berbagi.
Ia tidak menempatkan dirinya sebagai sosok paling tahu. Ia hanya ingin berbagi sudut pandang, pengalaman, atau renungan sederhana yang mungkin bermanfaat bagi pembaca lain.
Dengan pendekatan inilah, tulisannya terasa natural dan hangat—seperti percakapan antara dua teman.
Penutup
Prinsip-prinsip yang dipegang Erich Susilo bukanlah aturan baku, melainkan nilai yang terbentuk dari pengalaman, perjalanan, dan refleksi pribadi. Kejujuran, konsistensi, kesederhanaan, dan sikap rendah hati membuatnya menjadi penulis yang unik di tengah dunia digital yang serba cepat dan instan.
Bagi Erich, menjadi penulis bukan soal gelar atau popularitas, tetapi soal hidup dengan nilai yang diyakini dan terus menciptakan ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh melalui tulisan.